DAERAH

Soal Suket Covid-19 ‘Palsu’ di Soppeng, Siapa yang Bertanggung Jawab ? Berikut Kronologinya

Kapolres Soppeng AKBP Mohammad Roni Mustofa (kiri) dan Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar, Djusman AR (kanan).

MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Kasus dugaan pemalsuan Surat Keterangan (Suket) Covid-19 tanpa uji laboratorium di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, semakin menuai titik terang.

Pasalnya, Kepolisian Resort (Polres) Soppeng terus memeriksa sejumlah pihak, dari pembuat hingga pengguna Suket palsu tersebut.

Dari keterangan saksi, yang diterima Redaksi Edunews.id, salah satu petugas Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Soppeng, membeberkan awal mula mencuatnya isu tersebut.

Berikut kronologi mencuatnya pemalsuan Surat Keterangan (Suket) Covid-19 tanpa pemeriksaan Laboratorium atau ‘palsu’ :

Pada, Jumat (5/3/2021).

Berawal dari kasus di Labkesda Soppeng, dr Mustakim mewarning (Memperingati) kami petugas laboratorium yang intinya melarang kami mengeluarkan Suket Covid-19 tanpa melalui uji laboratorium. Yang mendasari dr Mustaqim mewarning kami seperti itu karena adanya temuan 6 orang anggota DPRD Soppeng yang meminta dibuatkan Suket bebas Covid-19 di Labkesda, namun dr Mustaqim menolak untuk menandatangani Suket tersebut karena tidak melalui uji laboratorium.

Setelah dr. Mustaqim mewarning kami. Kami staf laboratorium mulai merasa resah, gelisah, was-was dan ketakutan, karena selama ini kami sudah sering diperintahkan dan dipaksa membuat Suket Covid-19 tanpa uji laboratorium oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Latemmamala Soppeng, dr. Nirwana yang ternyata tanpa sepengetahuan dan seijin dr. Mustaqim sebagai dokter penanggung jawab Laboratorium (Warning dr Mustaqim via grup Whatsapp, pada jam 16.52 WITA).

Pada waktu yang bersamaan, Direktur RSUD Latemmamala Soppeng, dr Nirwana datang ke Laboratorium untuk dibuatkan lagi Suket Bebas Covid-19 tanpa uji Laboratorium atas nama bapak Moris (Seorang rekanan alat kesehatan dari Jakarta) pada petugas Laboratorium, yang ada saat itu Musdianzah.

Petugas Laboratorium sempat menolak membuatkan Suket bebas Covid-19 tanpa uji Laboratorium, namun Ibu Direktur RSUD Latemmamala dr Nirwana memaksa dan mengatakan bahwa dia akan bertanggung jawab sepenuhnya pada pembuatan Suket bebas Covid-19 yang tanpa melewati uji laboratorium tersebut.

Insiden pemaksaan pembuat Suket bebas Covid-19 tanpa uji Laboratorium tersebut dilaporkan Via (lewat) Whatsapp kepada dr Mustaqim.

Baca juga :  Ajak Masyarakat Sulsel Hindari dan Awasi Perilaku Korupsi, Djusman AR : Perintah Agama

Setelah dr Mustaqim membaca pemberitahuan via Whatsapp tersebut. Beliau datang ke Laboratorium dan memarahi staf Laboratorium yang sedang bertugas (Murdianzah) setelah mendengar penjelasan petugas Laboratorium bahwa dia dipaksa oleh Direktur RSUD Latemmamala dr. Nirwana. dr Mustaqim langsung menghubungi ibu direktur via telepon seluler dan memarahi besar seperti yang terlihat pada video yang telah rilis di media online.

Pada, Selasa (9/3/2021), jam 11.15 WITA.

Saya (red) mewakili semua staf laboratorium meminta maaf kepada dr Mustaqim atas kejadian Suket bebas Covid-19 yang tidak melewati uji Laboratorium yang selama ini diperintahkan oleh ibu direktur.

Diruangan penanggung jawab laboratorium, saya juga berbincang dan minta ijin kepada dr. Mustaqim untuk bertemu ibu direktur mengenai hal ini. dr Mustaqim memberi ijin dan berkata, “Bismillah… Silahkan lanjutkan”.

Pada pukul 17.30 WITA, saya berangkat ke kantor RSUD Latemmamala, namun ibu Direktur sudah pulang ke rumahnya. Melalui telefon beliau mengatakan silahkan ke rumah. Saya berangkat ke rumah beliau di Cangadi dengan tujuan meminta kepada ibu Direktur RSUD dr Nirwan untuk menghentikan perintah membuat Suket bebas Covid-19 tanpa uji Laboratorium, tapi ibu Direktur tidak peduli. Jadi saya sampaikan untuk melaporkan kepada ketua Satgas Covid-19 Soppeng (Bapak Dandim). Ibu Direktur malah berkata “Silahkan dilaporkan, tidak ada masalah, lagian dr. Mustaqim sudah memaafkan saya kok”, akhirnya saya pamit pulang.

Pada Pukul 19.05. Saya singgah di rumahnya pak dr Mustaqim untuk mempertanyakan kembali apa benar Direktur RSUD Latemmamala dr Nirwana sudah dimaafkan? Dokter Mustaqim menjawab “Itu bohong saya tidak pernah memaafkan dr Nirwana, mana mungkin disaat saya marah besar dan dengan mudah mau memaafkannya, itu bohong”.

Saya (red) kemudian meminta izin dan support  dokter Mustaqim untuk melaporkan hal itu kepada Dewan Pengawas RSUD Latemmamala Bapak Drs Dipa, dan pada ketua Satgas Covid-19 Soppeng Bapak Dandim, dan beliau berkata “Bismillah… lanjutkan Meki”.

Pada Jam 20.10 WITA. Saya ke rumah Dewan Pengawas RSUD Latemmamala Bapak Drs. Dipa untuk melaporkan kejadian ini, namun beliau tidak berada ditempat, beliau ke Makassar. Setelah itu saya lanjut ke kantor Kodim dan bertemu dengan Ketua Satgas covid Soppeng Bapak Dandim untuk melaporkan kasus pemalsuan suket bebas covid yang selama ini dikeluarkan oleh staf laboratorium atas perintah Direktur RSUD Latemmamala dokter Nirwana.

Baca juga :  Hadiri Reuni Alumni SMP 7 Makassar, Caleg PAN: Memohon Doa Restu Maju Pilcaleg Sulsel

Pada, Rabu (10/3/2021), jam 11.30 Wita.

Bapak Dandim selaku ketua Satgas covid dan bapak Kapolres selaku wakil ketua Satgas covid melakukan sidak di Laboratorium RSUD Latemmamala dan menemui dr Mustaqim selaku penanggung jawab laboratorium, untuk klarifikasi mengenai Suket bebas Covid-19 tanpa uji laboratorium yang diperintahkan oleh Direktur RSUD Latemmamala dokter Nirwana. Dokter mustaqim membenarkan hal tersebut dan aparat kepolisian mengambil data tentang Suket bebas cover yang tanpa melewati uji laboratorium.

Pada jam 20.11 Wita. Saya menyerahkan bukti berupa video percakapan antara Mustakim selaku penanggungjawab Laboratorium, dengan Direktur RSUD Latemmamala dokter Nirwana, Via Whatsapp kepada bapak Dandim.

Pada Jam 21.50 Wita. Saya mendatangi rumah Dewan Pengawas RSUD Latemmamala Drs Dipa untuk melaporkan kejadian perbuatan Suket bebas Covid-19 tanpa uji laboratorium, yang diperintahkan oleh Direktur RSUD Latemmamala, dan menyerahkan video kemarahan dokter Mustakim kepada dokter Nirwana.

Selanjutnya kami hanya menunggu apa langkah yang yang akan diambil oleh ketua Satgas dan Bapak Bupati Soppeng, sampai terjadi viralnya video setelah izin rilis dari Kasat Reskrim Polres pada tanggal 19 Maret 2021.

Pada, Sabtu (20/3/2021).

Kami staf Laboratorium dipanggil ke Polres untuk memberikan kesaksian dalam kasus ini dengan membawa bukti-bukti yang dibutuhkan di Polres seperti print out WA KTP orang yang akan dibuatkan Suket oleh Direktur ke staf Laboratorium. Foto kopi buku registrasi pemeriksaan dan print out suket bebas Covid-19 yang telah dibuat atas perintah Direktur RSUD Latemmamala.

Senin 22 Maret 2021

Kami staf laboratorium dipanggil menghadap di kantor Inspektorat Kabupaten Soppeng.

Baca juga :  PJ Walikota Makassar Lantik Pejabat di Musim Pilkada, Djusman AR: Timingnya tidak Tepat

Keterangan dari salah satu saksi yang diterima redaksi Edunews.id tersebut, juga melampirkan beberapa bukti tertulis maupun tangkapan layar (schreenshot) Whatsapp, oleh Direktur dr Nirwana yang memerintahkan saksi untuk menerbitkan “keterangan rapid dan hasilnya”.

Terkait hal tersebut, Djusman AR Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar, yang dihubungi terpisah, singkat menanggapi bahwa kalau seperti itu kronologinya atau benar adanya maka tentu bukan hanya menjadi tanggungjawab kepada yang bersangkutan berdasar pasal 267-268.

Dirinya menjelaskan, menuntut penelaahan makna, hubungan kerja antara pimpinan dan bawahan, penegasannya ialah apakah bawahan tersebut membuat atas inisiatif sendiri atau karena perintah atasan? Makna pembuat tentu tidak bisa ditafsirkan secara sempit, nah berdasar kronologi yang disampaikan oleh saksi tersebut ternyata atas perintah atasannya. Memang dapat dibenarkan, tidak mungkinlah bawahan berani melakukan seesuatu tanpa perintah atasan. Dimana-mana dalam terapan administrasi bawahan selalu loyal sama atasan, jadi kalau pembebanan kesalahan hanya ditimpahkan kepada bawahan, keliru itu. Juga saya kira kita semua paham, tidak mungkin selaku pimpinan yang punya inisiatif membuat, lalu dia sendiri yang mengerjakannya, tentu menyuruh stafnya. Staf hanya nurut saja berdasar perintah, belum lagi manakala staf itu tidak paham tentang pelanggaran. Intinya kalau benar berdasar perintah atasan, waduh parah itu, berarti dilakukan turut serta atau bersama, jelas berpotensi dikenakan pasal 55 KUHP sebagaimana ditegaskan dalam pasal tersebut bahwa yang dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana yakni; (1)Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan, atau turut melakukan perbuatan itu;
(2) Orang yang dengan pemberian, perjanjian, salah memakai kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu daya atau dengan memberi kesempatan, daya upaya atau keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu perbuatan.

Sementara itu, dilansir dari Kompas.com, Kapolres Soppeng AKBP Mohammad Roni Mustofa, menerangkan bahwa “Pemeriksaan saat ini difokuskan kepada pemalsuan dokumen Surat Keterangan (Suket) bebas Covid-19, telah kita periksa pihak RSUD dan Pengguna surat keterangan tersebut,” terangnya.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com