EDUNEWS

Aliansi Peduli Pendidikan Pesisir Paparkan Hasil Riset ke Dinas Pendidikan Sulsel

Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Peduli Pendidikan Pesisir mengelar audiensi ke Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, di jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (19/3/2021).

MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Peduli Pendidikan Pesisir mengelar audiensi ke Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, di jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (19/3/2021).

Tujuan audiensi tersebut, untuk memaparkan hasil riset observasi dan wawancara di Desa Tompotana, Desa Maccini Baji dan Desa Balangdatu Pulau Tana Keke, Kabupaten Takalar terkait ketimpangan pendidikan di sekolah.

Tim tersebut, mengunjugi beberapa sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP),dan Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu SDN 140 Inpres Tompo, SDN 27 Tompotana, SDN 121 Inpres Balangdatu, SMPN Satu Atap Tompotana, SMPS Tana Keke, SMPN 4 Balangdatu, SMAN 10 Takalar.

Kunjungan itu untuk memperoleh gambaran kondisi pendidikan yang berada di Pulau Tana Keke. Sejumlah warga dari berbagai profesi ikut turut berpartisiapsi dalam penelitian tersebut sebagai informan, diantaranya Junaedi (Mahasiswa), Murni (Guru Honorer SDN 140 Inpres Tompotana), Bernianto (Guru Honorer SMPN Satu Atap TompoTana), Aziz Tonro (Guru Honoror SMAN 10 Takalar), Eni (Guru PNS SDN 27 TompoTana), Yulianti (Guru Honorer SMPS TanaKeke), Nurdawayanti (Guru Honorer SMPN 4 Balangdatu), Mayalaila (Guru Honorer SMPN 4 Balangdatu), Hamzah (Kepsek SDN 121 Inpres Balangdatu),Firman (Pemuda Desa Maccini Baji)

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tersebut, pihaknya menemukan masalah sebagai berikut :

1. Kondisi tenaga pengajar masih sangat minim. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor di

antaranya guru PNS di tempatkan di luar dari pulau Tana Keke sehingga beban waktu ajar guru

honorer bertambah.

2. Minimnya guru berdampak pada kekosongan kelas, sehingga proses belajar mengajar sangat

Baca juga :  Kemendikbud Bakal Ubah Skema Akreditasi Sekolah

jarang dilakukan, baik daring maupun luring.

3. Minimnya tenaga pengajar juga disebabkan karena gaji/upah atau tunjangan yang diterima

terbilang rendah dan jauh dari kata sejahtera sehingga beberapa guru honorer lebih memilih

tidak mengajar.

4. Selain itu, minimnya tenaga pengajar juga berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa

sehingga mereka malas untuk mengikuti proses belajar mengajar.

5. Semua informan menginginkan sekolah dibuka kembali karena pertimbangan berikut: tidak

mendukungnya sarana prasarana belajar mengajar seperti laptop, handphone dan alat belajar

mengajar daring lainnya. Selain itu, jaringan internet juga tidak begitu mendukung sehingga

segala proses belajar mengajar daring dinilai tidak efektif.

6. Semua sekolah baik jenjang SD, SMP, dan SMA kekurangan buku mapel, rak buku dan sarana

prasarana olahraga, dan media pembelajaran lainnya.

7. Ditemukan fakta bahwa ada tenaga pengajar PNS yang malas masuk mengajar bahkan tidak

pernah ke pulau tetapi gaji tetap diterima. Beberapa informan mengeluhkan kondisi ini dan

berharap diberi sanksi tegas oleh pihak terkait.

8. Factor eksternal lainnya adalah listrik belum bias dinikmati 24 jam penuh karena masih adanya

jam pemakaian yang terbatas sehingga menyebabkan siswa kesulitan dalam mengerjakan tugas.

Maka dari itu pihaknya menyampaikan aspirasi dengan pernyataan sikap sebagai berikut :

1. Mendesak Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Dinas Pendidikan Takalar terkait ketimpangan pendidikan di Pulau Tana Keke.

2. Mendesak pihak Disdik Sulsel dan Takalar agar segera memanggil dan mengevaluasi kinerja para guru terutama tenaga pengajar PNSyang diindikasikan malas atau lalai dari tanggung jawabnya.

3. Mendesak Disdik Sulsel dan Disdik Takalar agar memanggil dan memberikan tunjangan yang layak bagi para guru honorer terutama mereka yang telah lama mengabdikan dirinya untuk pendidikan Pulau Tana Keke Takalar.

4. Mendesak dan meminta Disdik Sulsel untuk membentuk tim pengawas sebagai sistem kontroling agar tenaga pendidik lebih aktif dan memberikan sanksi tegas bagi tenaga pengajar yang lalai akan tugas dan tanggung jawabnya.

5. Aliansi Peduli Pendidikan Pesisir akan tetap konsisten mengawal ketimpangan pendidan ini hingga tuntas sampai pihak Disdik Sulsel dan Disdik Takalar merilis bukti koordinasi dan evaluasi tenaga pengajar PNS/Honorer ke pihak aliansi sebagai bentuk nyata keseriusan Disdik Sulsel dan Disdik Takalar terhadap masalah ini.

Dalam audiensi tersebut, Kapokja Hukum Disdik Sulsel, Hazairin mengapresiasi aliansi tersebut yang telah menjelaskan hasil penelitiannya kepada pihak pemerintah Provinsi Sulsel.

Kami mengapresisasi setinggi-tingginya karena aspirasi yang disampaikan oleh teman-teman aliansi menjadi penting sebagai bahan evaluasi,” ucapnya.

Ia pun menjelaskan, bahwa Disdik Sulsel mempunyai kewenangan tersendiri disebagian sekolah seperti Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, namun pihaknya berjanji akan menindaklanjuti hasil riset tersebut dengan menggandeng Disdik Kabupaten Takalar.

Disdik punya wilayah kewenangan tersendiri seperti pada SMA, SMK dan SLB. Tapi berdasarkan paparan hasil riset dari teman teman aliansi, Disdik berjanji akan melakukan koordinasi dengan memanggil pihak Disdik Takalar serta akan melakukan evaluasi khususnya pada kualitas tenaga pengajar dan tunjangan guru honorer yang jauh dari kata sejahtera,” katanya.

Disdik juga akan menjalin komunikasi dengan Pemda Takalar untuk perbaikan kualitas pendidikan di Pulau Tana Keke dan berjanji akan mengupdate informasi terbaru terkait hasil koordinasi dan evaluasi sekaitan dengan aspirasi yang disampaikan oleh aliansi,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator tim penelitian Aliansi Peduli Pendidikan Pesisir, Akbar menilai pemerintah setempat kurang memperhatikan perkembangan pendidikan yang berada di Kepulauan pesisir khususnya di Pulau Tana Keke.

“Kami menilai adanya ketidakoptimalan kinerja dari struktur Birokrasi yang ada, mulai dari Disdik Sulsel, Disdik Takalar sampai pada Pemda Takalar yang selama ini terkesan buta terhadap ketimpangan pendidikan yang ada di Sulsel, khususnya Pada pulau tana keke takalar,” ujarnya.

Dirinya pun berharap, hasil penelitian tersebut ditindaklanjuti oleh pemerintah demi kepentingan perbaikan pendidikan diwilayah pesisir.

“Kami berharap segala aspirasi yang kami sampaikan dapat ditindaklanjuti sebagai wujud keseriusan pihak terkait dalam menyelesaikan masalah pendidikan, terlebih pada kondisi Pandemi,” harapnya.

Diketahui, Aliansi Peduli Pendidikan Pesisir yang terdiri dari Himpunan Pemuda Mahasiswa Kodingareng (HPMK) Makassar, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), Teknik, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM), Politeknik Nasional (Polinas) dan Ushuluddin dan filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin (UINAM) Makassar.

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com