Inovasi

Kemenristekdikti Ciptakan Alat Navigasi ‘ADS-B’

ILUSTRASI

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sukses menghasilkan alat navigasi penerbangan secanggih buatan Perancis yang mampu menangkap informasi dari pesawat sipil. Alat bernama automatic dependent surveillance-broadcast (ADS-B) ini akan dipasang di semua bandara di Indonesia.

Riset pembuatan ADS-B dilakukan sejak 2007 dengan menelan dana sekitar Rp 15 miliar. Selain untuk mengatur lalu lintas pesawat di bandara, radar yang mampu menangkap signal dalam radius 200 mil ini juga bisa dipakai untuk mendeteksi pergerakan benda di darat. Prototip ADS-B secara sempurna selesai dibuat pada 2014.

“Ini merupakan hasil riset yang inovatif. Kesiapan teknologinya sudah ada di level 9. Artinya, sudah sejajar dengan alat serupa buatan Perancis atau Spanyol yang selama ini kita pakai di beberapa bandara. Dua negara itu mengekspor radarnya hampir ke semua negara. Uji coba ADS-B sudah dilakukan di bandara Husein Sanstranegara Bandung dan hasilnya memuaskan. Sekarang tinggal memasuki tahap sertifikasi agar bisa segera diproduksi massal,” ujar Menristekdikti, M Nasir, saat mengunjungi Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC), Tangerang, kemarin (7/8/2016) malam.

Baca juga :  PTN se-Indonesia Wajib Sediakan 20 persen Kuota untuk Mahasiswa Bidikmisi

Ia menyatakan, pekerjaan selanjutnya bagi pemerintah adalah untuk menjamin harga ADS-B bisa bersaing dengan produk impor. Jika harganya jauh lebih mahal, maka ADS-B tak bisa disebut sebagai temuan inovatif. Meskipun memiliki kualitas, akurasi dan daya tahan sekuat buatan luar negeri. Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi menyambut antusias kehadiran ADS-B.

“Saya tidak mau hasil inovasi ini punya deviasi yang cukup tinggi dengan produk negara lain. ADS-B ini bisa juga dipakai untuk mendeteksi pergerakan benda di darat. Menghindarkan tabrakan antarpesawat,” ujarnya.

“Selama radar yang dipakai produk impor. Tapi sekarang Indonesia punya alat sendiri dengan akurasi daya tahan dan kualitas yang setara dengan produk import. Kemampuannya sama, praktis tak ada kesalahan selama 2 tahun melakukan uji coba di Bandung. Artinya, ADS-B bisa dipergunakan di semua bandara. Kunci keberhasilan adalah, apakah bisa dibuat dengan harga murah?,” katanya.

Baca juga :  Menristekdikti Minta Perguruan Tinggi Tak Naikan Uang Kuliah
Advertisement

Ia menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki 31 Ground Station ADS-B yang dapat mencakup seluruh ruang udara Indonesia untuk phase En-route, meliputi 10 Ground Station terintegrasi dengan Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) dan 21 Ground Station terintegrasi dengan Makassar Air Traffic Service Center (MATSC). Namun, semua peralatan ADS-B yang terpasang tersebut masih merupakan produk luar negeri.

Riset ADS-B dilakukan atas kerja sama dengan PT. INTI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Peralatan ini mampu mendeteksi pesawat hingga di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta dan dapat mendeteksi hingga jarak >250Nm yang bisa diperoleh pada ketinggian di atas 29.000 kaki.

PT. INTI telah membuat 4 (empat) unit produk ADS-B, yakni 2 unit dipasang di Menara Pusat Teknologi Elektronika, Puspiptek Serpong, 1 unit akan dipasang di Curug. Pada tahun depan, ADS-B direncanakan akan diuji coba di Bandara Papua dan selanjutnya akan disertifikasi. ADS-B yang telah disertifikasi akan diproduksi massal oleh PT. INTI untuk digunakan di bandara-bandara yang ada Indonesia.

“Ini sudah tahap 8 menuju 9 technology readiness level-nya, oleh karena itu regulasi tentang sertifikasi terhadap produk akan dilakukan Kementerian Perhubungan, sekaligus juga sebagai penggunanya. Ini adalah kemajuan yang sangat baik. Dalam tahun depan sudah jadi produk yang bisa dimanfaatkan oleh perhubungan,” ujar Kepala BPPT, Unggul Priyanto.

Saat ini Indonesia memiliki Terdapat 295 bandara dan sebanyak 255 bandara belum dilengkapi radar. Sebanyak 13 bandara di bawah pengelolaan PT. Angkasa Pura I, 14 bandar di bawah pengelolaan PT. Angkasa Pura II, 2 bandara di bawah pengelolaan TNI, 239 bandara di bawah pengelolaan Unit Penyelenggara Bandar Udara, dan 27 bandara di bawah pengelolaan UPT Daerah/Pemda.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com