Inovasi

UGM-Unram Berhasil Temukan Pakan Penurun Kolesterol Daging Sapi

 

 

SLEMAN, EDUNEWS.ID – Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Fapet Universitas Mataram (Unram) menemukan pakan penurun tingkat kolesterol daging sapi. Pakan tersebut berasal dari kulit buah kakao (KBK) yang banyak ditemukan di sekitar lingkungan peternakan. Kemudian dicampur dengan jerami jagung sebagai pakan utama sapi.

“Hasil penelitian di Fapet UGM dan Fapet Unram menunjukkan bahwa sapi Bali yang diberi pakan KBK dicampur dengan jerami jagung, mempunyai rata-rata kandungan kadar kolesterol 62,5 mg/100g,” ujar Peneliti Senior Fapet UGM Edi Suryanto, Ahad (28/5/2017).

Menurut dia, secara umum sapi Bali yang pakan utamanya tidak dicampur KBK mempunyai rata-rata kandungan kadar kolesterol 80-100 mg per 100 gram. Ia menuturkan, jika kolestrol pada daging sapi dapat diturunkan, maka tingkat kolestrol pada tubuh manusia pemakan daging sapi juga dapat menurun.

Baca juga :  Pemerintah Buka Penghargaan untuk Dosen dan Rektor

“Memasuki Bulan Ramadhan biasanya masyarakat mengkonsumsi daging sapi cukup banyak. Karena itu, sangat perlu diperhatikan kadar kolesterol yang terkandung dalam daging sapi. Supaya saat puasa kita bisa tetap sehat dan bugar,” kata Edi.

Selain itu, ia mengemukakan, dampak lain pencampuran KBK ke dalam pakan ternak sapi juga menghasilkan beberapa kelebihan. Pertama, kandungan karkas (daging dan tulang) tercatat sebesar 52,4 persen. Kedua, area mata rusuk atau rib eye area daging sapi seluas 58,6 cm2.

“Karena itu, untuk mencapai hasil penurunan kolesterol yang maksimal, KBK perlu difermentasi sehingga meningkatkan kualitas dan kecernaan KBK jadi dapat dikonsumsi sapi secara optimal,” ujar Edi.

Meski demikian, ia mengakui, saat ini pakan ternak selalu kurang atau langka di musim kemarau. Sementara, produksi KBK sangat melimpah di Indonesia dan dapat diberikan pada sapi untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi, sehingga sapi dapat tumbuh dan memproduksi daging yang optimal dan rendah kolesterol.

Baca juga :  Panut Mulyono Dimata Dosen dan Mahasiswa UGM

Oleh karena itu, kulit buah kakao perlu diproses dan disosialisasikan pada peternak untuk menjadi pakan sapi. Integrasi antara peternakan sapi dan perkebunan kakao juga perlu dilakukan, sehingga kolaborasi di bidang peternakan dan perkebunan dapat menjadi solusi kekurangan pakan.

Edi menambahkan, dengan begitu dunia peternakan sapi akan lebih bergairah dan dapat menopang target pemerintah dalam swasembada daging di dalam negeri. Maka itu, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi positif bagi peternak di Indonesia, khususnya untuk meningkatkan kualitas daging sapi sekaligus memanfaatkan kondisi kekurangan pakan di musim kemarau.

“Pemikiran ini sebaiknya diterapkan secara efektif. Sehingga target dan kolaborasi pemerintah dengan akademisi terwujud optimal,” kata Edi.

Baca juga :  Mahasiswi Asal Tiongkok ini Raih Doktoral dari FIB UGM

EDUNEWS.ID

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!