EDUNEWS

Ironi Pendidikan di Kampung Kecil ‘Limbong’, Ujung Barat Tana Toraja

OlehAgustinus Risal

EDUNEWS.ID-Dusun LIMBONG, sebuah kampung kecil yang terletak di ujung bagian barat kabupaten Tana Toraja. Terletak di kecamatan simbuang, Limbong menjadi bagian dari Lembang Simbuang batu Tallu. Jaraknya yang sangat jauh dari Ibu kota kecamatan Simbuang , membuat kampung ini sangat terisolir dari berbagai hal. Dari Ibu kota Kecamatam butuh waktu 5 jam untuk sampai ke Limbong dengan berjalan Kaki.

6 Januari, 2019 ,dalam perjalanan kami menuju Limbong, kami sempat berpapasan dengan beberapa warga Limbong di tengah jalan, Lalu dalam bahasa setempat kami bertanya “Mau kemana bu’.?”. Mereka sontak menjawab, “kami mau ke pasar”. Hal yang cukup mengherankan sekaligus menyimpan ironi, karena saat perjalanan  hari itu hari Minggu, sementara hari pasar di lekke’ adalah hari Senin. Singkat cerita, mereka menjelaskan kalau mereka memang sengaja harus berangkat hari Minggu, agar tidak terlambat saat hari pasar tiba.

Setibanya di Limbong, kami menanyakan pada warga disana tentang ibu” yang kami jumpai di jalan. Dan jawaban yang cukup mencengangkan kami peroleh kalau hari senin ketika petang menjemput barulah mereka yang kemarin ke pasar akan tiba kembali di rumah masing-masing.  Letak geografisnya yang berada di pegunungan, Dusun Limbong tidak punya area untuk dikelolah sebagai area Persawahan sehingga dari Pasar Lekke’ lah warga Limbong mendatangkan beras.

Bercerita tentang pendidikan, yang menjadi tujuan utama kami kesana, SD Limbong Masih cukup memprihatinkan dari semua aspek. Mempunyai -+60 murid yang di bagi dalam dua lokasi belajar, yakni di kampung Limbong dan Kasambi.

Saya akan menceritakan tentang wajah pendidikan di sana, dibalik ragamnya persoalan pendidikan disana, saya akan batasi pembahasan tentang tempat belajar yang terletak di Limbong yang jumlah muridnya lebih dari 30 murid. Memiliki sebuah Gedung lebih tepatnya disebut Gubuk.

Gedung/Gubuk sekolah ini masih terbuat dari kayu dan beralaskan tanah dibagi kedalam 2 ruang belajar. Ironi lain yang ada adalah jumlah pengajar aktif hanya 1 orang aktif berbanding terbalik dengan jumlah siswa yang diajar. Tentu kondisi ini tidaklah maksimal pada perkembangan peserta didik.

Pak Sule Barung adalah satu-satunya Pengajar yang mengabdikan dirinya buat sekolah ini. Mengabdi sejak tahun 2000, Sule Barung kini layak disebut Pahlawan Pendidikan di sana. Meski bukan ASN (PNS) Sule Barung tak kenal lelah mencurahkan tenaga, waktu dan materi untuk tetap menyebarkan benih masa depan bagi anak-anak muridnya.  Karena baginya Pendidikan harus dirasakan semua anak negeri dan Anak-anak Limbong ada didalamnya.

Makassar, 10 Januari 2018

Agustinus Risal. Ketua IPPEMSI (Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Simbuang-Mappak)

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!