Kampus

13 Peneliti Indonesia Dikirim ke Luar Negeri

Ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengirim 13 tim peneliti ke delapan negara melalui Program Magang Riset.

“Program ini merupakan penerapan komponen dua Research and Innovation in Science and Technology Project (RISET-Pro) yang pembiayaannya bersumber dari pinjaman Bank Dunia,” ujar Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti , Muhammad Dimyati, di Jakarta, belum lama ini.

Peneliti yang terpilih merupakan peneliti dari delapan bidang fokus riset nasional yaitu kesehatan, pangan, material maju, teknologi informasi, energi, maritim, mitigasi bencana, dan sosial humaniora. Mereka akan mengikuti magang selama tiga bulan.

“Mereka akan menyebar di delapan negara mitra yaitu Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Swedia, Australia, Jepang, China, dan India,” ujarnya.

Baca juga :  PDUI Minta Legislative Review Terhadap UU Pendidikan Kedokteran

Para peserta yang diberangkatkan berasal dari LIPI, BPPT, BATAN, LAPAN, Lembaga Eijkman, dan IPB.

“Kami mengharapkan program ini dapat meningkatkan kemampuan peneliti melalui kemitraan. Dengan demikian ke depan kemampuan publikasi dan dorongan untuk mempatenkan invensi dan inovasi dapat meningkat pula,” ujarnya.

Advertisement

Dimyati menambahkan, para peneliti akan didampingi oleh tim yang ditugaskan untuk belajar tentang kebijakan dalam penguatan penelitian, sehingga pengetahuannya nanti dapat diterapkan untuk menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat memperbaiki penelitian di Tanah Air.

“Kemristekdikti juga berharap agar para peserta dapat mengupayakan alih teknologi dari luar negeri dalam kegiatan ini,” imbuh Dimyati.

Sementara itu, Dirjen Sumber Daya Iptek Kemristekdikti , Ali Ghufron Mukti, berharap setiap peserta dapat mempublikasikan hasil program yang diikuti dan jika perlu bisa menghasilkan paten.

Ia menambahkan, peneliti asing menganggap bahan penelitian di Indonesia begitu melimpah, tetapi belum banyak peneliti Indonesia yang menuliskannya dalam jurnal ilmiah.

“Misalnya kita memiliki 28.000 tumbuhan yang berpotensi untuk menjadi obat,” kata Ghufron.

Lebih lanjut ia mengatakan, Program RISET-pro masih membuka kesempatan untuk studi S3 di luar negeri pada tahun ini.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com