Kampus

Dekonstruksi Makna Senioritas

Oleh: Sulaeman*

‘’Kami menerima siapapun, dia darimanapun asalnya, asal dapat dijadikan saudara atas sesama’’
Syahadat Pembebasan Mahasiswa

OPINI, EDUNEWS.ID – Tulisan singkat ini hendak memprovokasi para pembaca dan memperlihatkan kepada pembaca utamanya mahasiswa yang ada di kampus dan akademi lainnya. Akan suatu problem yang sebenarnya sangat merisaukan, namun kerap dianggap wajar. Respon atas pelbagai tindakan bullyng, hingga menimbulkan tekanan psikologis yang akut, adalah penyebab, paling esensial dalam tulisan penulis. Melihat sturktur sosial yang secara mengejutkan ada, tanpa kita tahu bermula dari mana, sedikit demi sedikit telah menjadi lumbung sumber kekerasan di balik baju kebesaran.

Sumber kekerasan
Martabat dan status senior seringkali dianggap sebagai harkat tertinggi di ranah spasial kampus, terlebih khususnya di kampus yang masih kental pola pengaderan yang nuansanya mirip mirip sistem feodal ala dulu. Tidak heran jika muncul pelbagai praktek pencekokan mengatasnamakan senioritas di berbagai struktur sosial utamanya mahasiswa. Semua kalangan mungkin akan bertanya tanya, sejak kapan kebiasaan perilaku relasi antar senior junior ini lahir? Tentu mustahil jika ini dinyatakan datang bersamaan atau berlawanan dengan para kaum di kampus yang hanya memiliki modal mengaku senior, plus teriakan yang selalu dideringkannya untuk meneriakkan Marxisme sebagai paham yang menolak adanya kelas kelas di masyarakat.

Namun naas memang di tengah kita lumrah, kadang ternyata teori hanya sebatas teori, Marxisme yang diperjuangkan banyak orang nyatanya di tataran realitas kita mengaminkan panggilan panggilan seperti senior dll. Ah sudahlah penulis di awal tulisan di atas, sebenarnya hanya bermaksud menyampaikan uneg uneg yang lebih barangkali pantas disebut hasil celoteh, atau singkatnya pengalaman empiris penulis saat berdiskusi dan berceritra di suatu waktu dengan salah seorang mahasiswa tingkat akhir menjelang pemilihan ketua BEM tingkat Fakultas di salah satu kampus primadona di wilayah kawasan timur Indonesia ‘’katanya’’.

Baca juga :  Universitas Keio Jepang Jalin Kerja Sama Dengan Empat Fakultas Unhas

Namun terlepas dari keduanya, baik cerita penulis di atas atau proses perjalanan pengetahuan kita semua. Saya ingin mengajak pembaca atau kita semua untuk sejenak megingat, mengenang Karl Marx kakek tua seksi yang hangat menjadi perbincangan kita hari ini. Terlepas Marx yang satu sisi mendapat dukungan dari banyak kaum dan pengikut setianya, di sisi lain juga mendapat sorotan ataupun kecaman dari pihak lain.

Di sini penulis tidak akan membahas soal PKI, apalagi sampai memperpanjang soal perdebatan, bagaimana kesuksesan perjuangan Marxisme yang pernah berhasil melakukan revolusi besar besaran, kita tidak akan menyoal bagaimana suksesi komunis versi Lenin dalam revolusi Bolsevik yang kemudian sukses disusul oleh Stallin di Uni Soviet, atau bagaimana Mao di China atau PKI Aidit dkk. itu di Indonesia, pembahasan dan ulasan ini tidak akan konsen dan sampai ke sana, karena penulis menganggap perdebatan soal ideologi ideologi besar di dunia tidak akan pernah selesai, ideologi apapun dan di manapun akan selalu menjumpai penerimaan ataupun sebaliknya penolakan, intinya pro maupun kontra selalu mengiringi dan akan selalu ada plus minus dari masing masing paham ideologi itu, tidak berhenti untuk saling mendebat dan menyerang satu sama lain. Nah terlebih jika semua pihak golongan, firqoh, penganut, golongan ataupun ideologi tertentu mementingkan ideologinya sendiri, pada ujungnya saya khawatir muncul analis pakar sejarah amatiran dadakan lagi memihak.

Baca juga :  Pemerintah Kesulitan Deteksi Anggota HTI di Kampus

Di sini penulis hanya hendak ingin berceritera yang pasti soal apa yang realitas di hadapan kita, dari hal yang remeh temeh, dan terbilang kecil sebelum jauh memperdebatkan sesuatu yang di mana kita tak hidup di masa itu, mungkin sepele ulasan ini barangklali tidak penting namun semoga bisa membuka ruang dilektika ataupun memantik para aktivis, para pelaku organisasi, para pengader khususnya yang lebih dulu berada di kampus.

Sedikit penulis hendak menyinggung soal Marx, yang barangkali di bangku akademik wajib SKS, mata kuliah hanya diperuntukkan dan dipelajari oleh sebagian mahasiswa prodi sebut saja hanya mahasiswa Fakultas Ekonomi, Filsafat atau barangkali mahasiswa Fisipol di beberapa prodi, namun tunggu dulu penulis tidak mengunci bahwa Marx hanya dibahas oleh mahasiswa program studi dan fakultas tertentu, dengan jumlah jam dan pertemuan yang jauh lebih dari kata cukup sepertinya mustahil menamatkan Das Kapital jilid satu saja sepertinya tidak akan sampai. Maka dari itu lewat diskusi diskusi dan dipanggung panggung resisten perlawanan sesungguhnya Marx lebih hidup dan sering diperbincangkan, pisau analisis marx selalu seksi, makanya sangat laris di tataran mahasiswa aktivis gerakan, baik di lingkup intra kampus maupun extra kampus.

Baca juga :  Perayaan Idul Adha Ala Mahasiswa Rantau

Hal inilah yang kemudian mengantarkan penulis untuk tidak ragu dengan para mahasiswa, aktivis kampus, aktivis gerakan ini, terlebih kepada yang gemar berorganisasi, rajin membaca buku dan aktif berdiskusi, dari yang sekedar membaca betul-betul atau betul-betul membaca, yang memahami sosialisme marx sekedar sebagai ilmu pengetahuan atau mengaminkan dan mempraktikkan sebagai ideologi.

Di sini penulis hendak mengangkat teori kelas Marx, konklusi penulis bahwa teori kelas dan pertengtangan Karl Marx dalam mewujudkan cita-citanya soal masyarakat komunal ‘’tanpa kelas’’. Nyatanya sekedar menjadi teori belaka. Pasalnya di tataran kampus kita sering tidak konsisten dalam menerapkan Marx. Seperti kerap kita menjadi pelaku, untuk mengaminkan panggilan senior dll, namun di sisi lain kita selalu meneriakkan sosialisme-komunisme dan mengagung-agungkan Karl Marx.

Dan lihatlah bagaimana efek senioritas di beberapa kampus dengan tidak bermaksud menggeneralkan dan menyebut merk. Di sana mayoritas dari yang tanda kutip lebih dulu makan garam, akan menjawab dengan nada geram tentang kejadian-kejadian bullyng, penipuan, pemaksaan dalam membeli stiker, pembunuhan karakter, dan mental, bahkan kekerasan yang berujung kematian.

Advertisement

Mungkin ingatan kita masih hangat bagaimana kejadian yang nahas harus menimpa salah satu mahasiswi kedokteran asal perguruan tinggi swasta terkemuka di Makassar, yang harus meninggal karena di duga dipelonco oleh seniornya. Beberapa kasus semisal di Malang terjadi kasus yang serupa seorang mahasiswa dari kampus ternama terbukti melakukan tindakan yang tidak manusiawi dari mahasiswa tingkat di atasnya, tatkala orientasi studi dan pengenalan kampus atau biasa disingkat ospek sementara berlansung.

Barangkali kita bisa menyela dan menarik contoh yang bisa jadi bahan komparasi, bagaimana semisal kasus-kasus seperti kejadian pencurian di bandara oleh petugas kargo. Banyak pemberitaan yang menyebutkan bahwa para pelaku terpaksa melakukan tindak pidana tersebut atas dasar di suruh oleh senior di atasnya, ataukah beberapa kasus kekerasan yang dialami oleh oleh para akademi militer yang memang karena profesionalisme dan kekuatan untuk uji layak bertarungnya, tentu keduanya beda dengan mahasiswa sebagai kaum intelektual organis yang harus cerdik mensiasati, zaman berbeda maka pola dan metode tentu berbeda saat masa perjuangan republik ini melawan rezim sepatu laras dan senjata api, beda zaman harus beda taktis dan gaya menghadapi.

Seringkali tindak kekerasan senior terhadap junior dipengaruhi oleh adanya kuasa dan anggapan bahwa mereka unggul dari sisi pengalaman di atas segala galanya. Weber (1947) menjelaskan kekuasaan ini sebagai kemungkinan seseorang melakukan keinginan didalam suatu hubungan sosial yang ada, termaksud dengan kekuatan tanpa menghiraukan norma dan nilai yang menjadi landasan.

Senior acapkali melakukan pemaksaan yang berujung pada kedunguan para junior. Bagaimanapun, kekerasan tidak lagi bisa direduksi hanya pada fisik belaka, seorang ketua himpunan di kampus saya pernah menjadi trend perhatian sekaligus perbincangan teman teman Mimbar angkatan 2013 waktu itu, saat seorang petinggi lembaga dari salah satu himpunan mahasiswa itu menyebutkan lewat dialeg khas makassarnya ‘’Akan kusiksako akan kupukulko”, sambil mengepal tangannya dan mengatakan, “Tapi tidak dengan ini, tapi dengan ini”, tunjuknya kepada kepala merujuk akal intelektual.

Kita musti mengakui bahwa kekerasan fisik sesungguhnya ujung-ujungnya hanya akan mengganggu sisi kejiwaan mahasiswa baru, maka jangan heran jika di belakang banyak yang anti dengan kampus sekretariat Senat, BEM, Himpunan. Celakanya, pengaruh ini berbuntut panjang kepada daya serap perkembangan intelektual, dan daya pikir para junior kedepan. Mereka menjadi resah, khawatir, hingga takut mengemukakan pendapat hanya sebab sering mendapat tonjokan mental dari seniornya.

Pemaknaan bahwa senior laksana guru pertama dalam proses kehidupan yang syarat pengalaman, berubah menjadi sekelompok orang yang menimbulkan keresahan. Padahal, subtansi senioritas telah dijelaskan dalam KBBI, yakni perilaku yang memprioritaskan status yang diperoleh dari umur atau lamanya bekerja (Siswoyo 2010) menegaskan bahwa pemberian keistimeawaan kepada yang lebih tua dikarenakan karakter orang yang lebih tua biasanya lebih bijak berpengalaman dan berwawasan luas.

Dalam pengertian di atas, kecerdasan emosional dan intelektual memainkan peran penting dalam perkembangan senioritas yang sudah mengakar. Meskipun kecerdasan emosional tidak bisa diukur dengan jelas, namun penilaian orang lain masih bisa memberikan rapor atas pengolahan emosi seseorang.

Acapkali orang menyamakan kedewasaan dengan kecerdasan ini. Asumsi tersebut tidaklah keliru, sebab emosional juga menuntut hal-hal yang dibutuhkan oleh kedewasaan, meliputi proporsional, professional, dan loyal. Berbeda dengan emosional, kecerdasan, intelektual bisa dilihat dari dari beberapa sisi riil, misalkan mengajar suatu pelajaran, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, jikalau dirasa sepak terjang senioritas sering kali menimbulkan kesemrawutan, terlebih dalam hal pilihan pilihan politik yang menentukan maka tidak ada gunanya struktur sosial ini dipertahankan. Namun tentu harus ada gagasan metode alternatif yang lebih fresh dan lebih baru. Metodologi cara praktik yang baru, segi teks dan konteks, yang dengan catatan tentu tidak lebih buruk dari sebelumnya. Atau tidak sekedar membuat sebuah metodologis yang ujungnya juga salah kaprah, misalnya terjebak dengan pola gerakan yang menjebak, dengan metode pengaderan dan pergerakan yang juga pada akhirnya lembaga gerakan sampai mirip LSM atau EO.

Akhirnya menyikapi hal demikian, penulis berpandangan bahwa semua aktivis pelaku gerakan organisasi kampus penting meninjau ulang kembali, membahasnya secara serius, hemat penulis sangat diperlukan dekonstruksi bahasa yang tengah berkembang. Derrida (1988) menjelaskan bahwa dengan mengubah teks berarti juga mengubah realitas kehidupan manusia. Untuk mengubah hal tersebut, diperlukan pemahaman dan penggambaran yang komperhensif akan realitas. Dalam konteks dipergunakannya bahasa senior-junior ini, yang tidak henti-hentinya menuai kritik akibat dari kekeliruan memaknai relasi antar keduanya. Penulis merasa perlu mengganti bahasa tersebut dengan tua-muda sebab secara historis, memang istilah tua-muda seringkali digunakan oleh masyarakat semenjak masa beratus ratus tahun silam. Ditambah lagi dengan muatan penghormatan dan pendidikan yang cenderung syarat akan nilai luhur. Misalkan, kala kita membaca teks atau mendengar dialog si tua si muda. Akhirnya Indonesia dibangun oleh generasi muda, bukan generasi junior menjadi akhir penutup dari tulisan ini.

Sulaeman. Mahasiswa Semester Akhir Fisip Unhas.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com