Kampus

Dosen Jangan Hanya Asyik Mengajar

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir mendorong agar para dosen meningkatkan kualitasnya. Dia juga mengatakan seorang dosen harus juga harus melakukan penelitian di bidang yang terkait dan mengabdi kepada masyarakat dengan menerapkan penelitian yang telah dilakukan.

“Syarat jadi dosen minimal harus S2, kalau bisa S3. Selain itu dosen harus meneliti dan mengabdi kepada masyarakat, jangan asik mengajar saja. Dosen merupakan kunci dalam mengembangkan prodi dan mencetak lulusan berkualitas,” tegas Nasir dalam keterangannya, Kamis (3/5/2018).

Demikian disampaikan Menristekdikti Mohamad Nasir saat membuka Bimbingan Teknis Peningkatan Karir Dosen di Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, akhir bulaln lalu.

Baca juga :  Siap-siap, Dosen Ikut Organisasi Terlarang akan Dipecat

Direktur Karir dan Kompetensi SDM Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (Ditjen SDID) Bunyamin Mahtuh mengatakan Bimbingan Teknis Peningkatan Karir Dosen merupakan program yang dimiliki Ditjen SDID untuk mengembangkan karir para dosen khususnya karir akademik dan jabatan fungsional.

“Kami memiliki banyak program pendukung untuk peningkatan kompetensi dosen, seperti pelatihan-pelatihan hingga program beasiswa. Bisa dilihat di laman kami sumberdaya.ristekdikti.go.id, di sana banyak beasiswa yang dapat diikuti oleh para dosen PTN maupun PTS,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Menristekdikti juga menemui para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi. Dihadapan ratusan santri, dirinya menyampaikan bahwa menjadi santri harus pintar, bekerja keras dan bekerja cerdas, artinya mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Baca juga :  Mengapa SKS Perlu Dipangkas? Berikut Alasan Kemenristekdikti !

“Dulu saya juga pernah menjadi santri seperti kalian di sini, jangan sampai berpikir kalau santri tidak bisa menjadi pejabat negara atau menteri, buktinya saya berasal dari pondok pesantren yang sekarang menjadi Menristekdikti. Semua bisa asalkan ada usaha, maka ada jalan,” ucap Nasir.

Nasir berpesan, selain mempelajari ilmu agama, santri jangan sampai tidak mempelajari ilmu pengetahuan. “Kalau kalian semua ingin menjadi orang yang sukses, kalian harus jadi santri yang pintar ilmu agama dan ilmu pengetahuannya juga,” pesannya.

Di era digitalisasi atau disebut Revolusi Industri 4.0 saat ini, santri tidak boleh ketinggalan oleh perkembangan zaman yang semakin canggih, santri harus mampu menghadapi era digitalisasi.

Baca juga :  Rencana Pengurangan SKS Mesti Dikaji Ulang

“Jangan sampai santri-santri di sini malah dimasuki oleh informasi-informasi yang hoax atau tidak benar. Oleh karena itu, santri harus menguasai ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat,” tutur Nasir.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com