Kampus

Jurus Bertahan Kampus Swasta di Jogja

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID – Kopertis Wilayah V mencatat ada sekitar 106 PTS di Yogyakarta per April 2016. Tapi tidak semua kampus swasta ini bertahan.  Direktur Akademi Komunikasi Indonesia (Akindo) Yogyakarta Sumantri Raharja mengatakan saat ini kampusnya sedang gencar melakukan promosi via online.

Pihaknya menyadari saat ini persaingan antarkampus cukup ketat karena ada banyak kampus di Yogyakarta.

“Kami mau tidak mau harus promo ke luar Yogya. Cara online menjadi alat yang penting untuk menjaring mahasiswa baru,” ujarnya.

Selama ini, sejumlah PTS melakukan promosi dengan menyebarkan brosur saat SBMPTN, atau mereka mendatangi SMA dan SMK sebelum ujian akhir. Namun, menurut Sumantri, cara konvensional itu “kurang efektif” dan belum bisa menjangkau mahasiswa dari luar Yogya.

Baca juga :  STAIN Sorong Berharap Pemerintah Tingkatkan Kuota Bidikmisi

Mereka juga bekerja sama dengan provider Telkomsel untuk mengirim pesan pendek berbasis demografi calon mahasiswa baru. Alasannnya, Telkomsel memiliki data pengguna berumur 16-20 tahun dan punya jangkauan wilayah luas.

Sumantri berkata, “promosi yang efisien dan efektif” perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya lantaran hidup-mati PTS mengandalkan pemasukan utama dari biaya kuliah mahasiswa. Hingga saat ini, katanya, Akindo belum memiliki jumlah peminat tetap setiap tahun, sehingga jumlah pemasukannya pun berbeda-beda. Maka pihak kampus harus pintar-pintar mengakalinya.

“Kita akhirnya harus memprioritaskan hal-hal yang penting. Misal, peralatan kita anggaran besar. Jika mahasiswanya berkurang, ya porsi untuk penambahan alat maupun perawatannya berkurang. Yang jelas kegiatan belajar-mengajar tak boleh terganggu,” ujarnya.

Baca juga :  3.415 Calon Mahasiswa Lulus Masuk USU

Akindo, menurut Sumantri, sedang mempersiapkan untuk menjadi sekolah tinggi. Dan sesuai regulasi, akademi yang sedang berproses menjadi sekolah tinggi tidak boleh mengajukan dana hibah ke pemerintah.

Proses menuju sekolah tinggi bukan hal mudah. Akindo terhalang masalah legalitas tanah, yang sesuai persyaratan, minimal seluas 5.000 meter persegi.

Perubahan dari akademi menjadi sekolah tinggi ini, kata Sumantri, sesuai tuntutan keadaan. Sebagian besar industri zaman sekarang mensyaratkan pendidikan sarjana strata satu untuk calon karyawan.

“Misalnya, kamerawan secara kapasitas tak mesti S1. D3 saja sudah cukup. Saya juga tak paham dengan aturan ini. Padahal itu tak relevan. Itu membebani kita,” keluhnya.

EDUNEWS.ID

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!