Kampus

Publikasi Internasional Indonesia Masih Dibawah 3 Negara ASEAN

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Jumlah publikasi internasional yang dihasilkan peneliti Indonesia masih rendah sehingga jauh tertinggal dari peneliti negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Dengan memublikasikan sekitar 9.000 hasil penelitian per tahun, Indonesia hanya berada di peringkat keempat ASEAN.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir mengatakan, capaian tersebut sangat tidak memuaskan. Pasalnya, Indonesia saat ini telah memiliki sebanyak 6.000 guru besar dan 31.000 lektor kepala. Jika saja setengah dari mereka mampu melakukan penelitian sekali dalam setahun, seharusnya ada 18.500 publikasi internasional dari Indonesia.

“Hal ini yang akan kami dorong. Saya akan mewajibkan guru besar untuk minimal (menghasilkan) satu publikasi internasional dalam setahun dan untuk lektor kepala, dua tahun sekali. Malaysia ada di angka 23.000, Singapura 17.000, dan Thailand 13.000 per tahun. Jadi, pada 2017, Indonesia harus bisa melewati Singapura dan Thailand,” kata Nasir, di Jakarta, kemarin (7/12/2016).

Baca juga :  Hindari Joki SNMPTN, Orangtua Wajib Dukung Minat Anak

Ia menegaskan, jumlah publikasi internasional yang masih sedikit itu mengindikasikan para profesor dan lektor kepala terlalu banyak melakukan kegiatan di luar kampus. Mereka seharusnya lebih banyak meluangkan waktu untuk konsentrasi meneliti. Menurut dia, riset yang dilakukan pun jangan sekadar riset dasar tapi harus ditingkatkan pada level prototipe dan inovasi.

Ia menjelaskan, inovasi merupakan salah satu pengukur daya saing bangsa yang dihasilkan dari riset.

“Jadi, kegiatan di perguruan tinggi yang tidak punya nilai tambah sebaiknya dipangkas dan dialihkan ke penelitian. Sehingga prototipe, hak paten, inovasi, dan kualitas dosen pun akan lebih baik. Saya berharap, imbauan ini dapat menghasilkan putusan yang lebih baik dan melihat kembali apa yang telah dilakukan,” ujarnya.

Baca juga :  Menteri Nasir minta Kampus harus Bebas dari Radikalisme
Advertisement

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati menambahkan, Kementerian telah melakukan sosialisasi peraturan yang baru untuk mendukung kegiatan riset di Indonesia.

Menurut dia, dalam jangka waktu setahun, diharapkan sudah terbangun kesamaan persepsi dan mendalami serta memahami berbagai regulasi baru terkait penelitian di Indonesia. Dimyati menyatakan, dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106 tahun 2016, riset lebih ditekankan pada hasil karya dibandingkan pertanggugjawaban administrasi.

“Artinya, guru besar dan lektor kepala akan lebih dibebaskan menghasilkan output dibandingkan mengurus berkas-berkas administratif yang membebankan dan meresahkan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, dampak dari permen tersebut, tren usulan proposal riset jadi meningkat. Pada 2015, sebanyak 28.200 dan pada 2016 meningkat sekitar 45.000. Dari jumlah tersebut, yang mampu dibiayai APBN pada 2015 baru sekitar 15.000 dan pada 2017 ditargetkan sekitar 16.000 proposal.

Tren pembiayaan memang terlihat naik namun sebenarnya hanya sekitar 40% dari keseluruhan. Artinya, pemerintah masih harus terus bekerja keras.

Selain urusan administrasi, keterlambatan anggaran juga menjadi kendala yang sering membuat peneliti resah. Dimyati menuturkan, untuk mengikis keresaham tersebut, rencana penetapan proposal tahun 2017 akan dilakukan pada pertengahan Desember ini.

“Sehingga pada awal Januari 2017 sudah bisa dilakukan penandatanganan kontrak untuk melaksanakan riset yang memungkinkan para peneliti mendapatkan anggaran penelitian lebih awal.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com