Kampus

Sabun Herbal Berbahan Minyak Kelapa Dikembangkan di UNY

Sabun/ilustrasi.

SLEMAN, EDUNEWS.ID – Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi produsen kelapa terbesar dunia. Namun, banyak produsen mengeluhkan produksinya karena menciptakan permasalahan yaitu produk sampingan pengolahan minyak kelapa yang masih sedikit termanfaatkan.

Produk sampingan tidak dapat dikonsumsi bila tidak diolah membuat pencemaran terutama lingkungan produksi baik air atau udara yang disebabkan zat kimia dan aroma menyengat yang dihasilkan, sehingga saat ini produk sampingan hanya terkumpul menjadi limbah.

Dari ini, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merekayasanya jadi sabun antibakteri. Ada Khoir Nur (Manajemen), Larasati Nindya (Biologi), Naufal Majid (Kimia), Nur Mahsun (Bhs Inggris), Lolita Paramesti (Komunikasi), Arif Oktavia (Fisika) dan Bagas Isdiyantara (Biologi).

Khoir mengatakan, banyak penelitian sudah menemukan limbah pemurnian minyak kelapa mengandung beberapa zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Hasil pemurnian itu bisa digunakan sebagai campuran seperti ke bahan makanan, produk kesehatan dan kosmetik.

“Bahkan, bisa digunakan sebagai bahan utama pembuatan sabun,” kata Nur, Rabu (24/2/2021).

Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun dari campuran minyak dan lemak berbeda. Namun, minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa, sehingga sangat bagus diolah menjadi sabun.

Larasati menuturkan, mereka menambahkan ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia Hirta) yang mengandung senyawa kimia seperti tanin, saponin, dan flavonoid. Ada pula senyawa aktif seperti alkaloid dan polifenol,

“Yang memiliki sifat anti-inflamasi, antiseptik, antibakteri dan antifungal,” ujar Larasati.

Naufal mengungkapkan, produk yang mereka kembangkan diberi nama Nuthea. Bahan yang digunakan yaitu hasil sampingan pemurnian minyak kelapa, patikan kebo, NaOH, essential oil, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, aquades dan etanol 96 persen.

Proses pembuatannya terdiri dua tahap yaitu produksi ekstrak daun patikan kebo, lalu pembuatan sabun herbal. Pembuatan ekstrak Euphorbia Hirta terdiri dari dua kilogram serbuk daun patikan kebo dimaserasi memakai 500 ml etanol 96 persen selama dua hari.

Baca juga :  Mentan SYL Sambut Ribuan Mahasiswa Baru Politeknik Pertanian

Selanjutnya, ditutup dan dibiarkan terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk. Setelah dua hari, sari dan ampas diperas, dipisahkan dengan cara filtrasi dan dikumpulkan dalam satu wadah. Ekstrak Saponin dipekatkan menggunakan rotary evaporator.

Ulangi maserasi dengan pelarut Aseton 95 persen. Pembuatan sabun antibakteri dimulai membuat larutan NaOH dengan aquades perlahan dan biarkan bereaksi mencampur pemurnian minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, ekstrak Euphorbia Hirta dan essential oil.

Masukkan larutan NaOH ke dalam campuran minyak secara perlahan sambil diaduk hingga mengental. Tuangkan adonan sabun pada cetakan yang telah disiapkan, lalu tutup dengan kain. Lalu, kata Naufal, biarkan 2-3 pekan sambil dilakukan pengecekan kepada produk.

Baca juga :  Sutrisna Wijaya Terpilih sebagai Rektor UNY periode 2017-2021

“Produk yang sudah jadi siap dikemas dan dipasarkan. Karya ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan 2020,” ujar Naufal.

rpl

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com