Kampus

Situasi Mesir Kini Jauh Lebih Buruk

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID – Magister Ilmu Hubungan Internasional (MIHI) dan S3 Politik Islam (PI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan Diskusi Pakar dengan tema ‘Politik Mesir Dewasa Ini’ pada Jumat (24/2/2017). Kegiatan yang berlangsung di ruang siding Pascasarjana, Lantai 1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut menghadirkan Dr Mahmud Hamzawi Usman, MA salah satu warga negara Mesir yang sudah lama berdomisili di Indonesia. Bahkan menyelesaikan studi doktoralnya di Program Studi Politik Islam UMY.

Dalam diskusi pakar tersebut, Dr Mahmud Hamzawi mengatakan bahwa Mesir kini situasinya jauh lebih buruk daripada era Husni Mubarak. Saat ini rezim politik di Mesir yang dipimpin oleh Abdul Fatah el-Sisi jauh lebih otoriter dan represif. Menurut Mahmud Hamzawi, militer sebenarnya telah merencanakan untuk merebut kembali kekuasaan sejak lengsernya Mubarak.

Baca,   Ini 2 Tersangka Kasus Kematian 3 Mapala UII yang Ditetapkan Polisi

“Sejak lengsernya Mubarak itulah, militer mulai merencanakan menggagalkan revolusi 2011,” katanya.

Alumni S3 Politik Islam UMY ini mengatakan bahwa ada tiga hal yang dilakukan oleh militer untuk merebut kembali kekuasaannya, terutama dari Mohammad Mursi yang terpilih secara demokratis pada 2012 lalu. Pertama, militer menciptakan suasana sosial politik yang rapuh di mana pemerintahan sipil tidak mampu menanganinya. Kedua, membuat infrastruktur juga rapuh, misalnya mati lampu berjam-jam.

Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Hal ini, menurut Hamzawi dapat membuat publik berpandangan bahwa pemerintahan Mursi semakin buruk. Rakyat semakin resah. Faktor ketiga adalah ketika Mohammad Mursi mengeluarkan Dekrit Presiden yang memberikan wewenang yang cukup besar kepada presiden.

Baca,   Berusia 53 Tahun, Universitas Muhammadiyah Magelang kini Punya Guru Besar

Hal ini dimanfaatkan oleh militer untuk membenarkan isu yang diangkatnya bahwa Mursi juga akan memimpin dengan cara otoriter.
Mursi juga, seturut Hamzawi, tergesa-gesa ingin menjadikan Mesir sebagai negara Islam.

“Mesir sama dengan Indonesia, negara religius tetapi ia bukanlah negara Islam,” lanjutnya.

Kegagalan demokratisasi di Mesir itulah yang membuat situasi kini semakin buruk.

“Dulu ekonomi hancur, sekarang super hancur,” sambungnya.

Namun demikian, Dr Mahmud Hamzawi tetap mempunyai harapan bahwa suatu saat nanti Mesir akan menjadi negara yang demokratis. Meskipun memerlukan waktu yang cukup panjang. Hal itu menurutnya karena tidak akan ada lagi revolusi dalam waktu dekat, dan kedua partai politik di Mesir terpecah belah. Ia mengatakan bahwa setelah lengsernya Mubarak, muncul kurang lebih 50 partai politik.

Baca,   Pembangunan Rumah Sakit PTN di Seluruh Indonesia Mangkrak

“Hal ini yang menjadi persoalan baginya karena partai politik yang bermunculan tersebut masing-masing mementingkan kepentingan kelompoknya. Akhirnya sulit bersatu,” ujarnya dalam diskusi pakar tentang Timur Tengah yang dimoderatori oleh dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional UMY, Dr Ahmad Sahide, SIP MA.

[NHN]

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!