Kampus

Survei : Dosen Takut Kehilangan Pekerjaan

Ilustrasi.

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Rupanya program Kampus Merdeka yang digagas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim memiliki beberapa kendala dalam implementasinya. Tantangan terbesar justru berada pada pola pikir dosen dan pimpinan perguruan tinggi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Ristek Nizam mengaku telah melakukan survei dengan responden sebanyak 80 ribu mahasiswa, dosen, dan pimpinan di berbagai perguruan tinggi.

“Ternyata barrier utama untuk implementasi kampus merdeka itu ada di mindset dosen dan pimpinan perguruan tinggi,” ujar Nizam dalam acara The 19th Knowledge Sharing Forum (KSF) Universitas Terbuka 2021, Senin (3/5/2021).

Menurut Nizam dosen khawatir kehilangan mata kuliahnya dan pekerjaan. Padahal justru dosen akan mendapatkan tugas yang lebih mulia dan lebih penting lagi.

“Jadi coach bagi mahasiswa menemukan diri, masa depan, dan potensi di usia produktif. Masih banyak salah persepsi dari para dosen, pimpinan perguruan tinggi. Bahwa dengan kampus merdeka itu nanti peran dosen akan dimana sehingga ada keraguan di sana,” ujar Nizam.

Selain itu, para dosen masih enggan melepas mahasiswa untuk keluar sarang dari kampus. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah menggunakan berbagai macam bentuk insentif.

“Kemendikbud Ristek menggunakan berbagai macam bentuk insentif. Saat ini kita mengalokasikan lebih dari Rp1 triliun,” kata Nizam dalam acara The 19th Knowledge Sharing Forum (KSF) Universitas Terbuka 2021, Senin (3/5/2021)

Program-program tersebut mencakup kampus mengajar yang dikhususkan bagi mahasiswa untuk mendampingi guru-guru di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T), pembelajaran dari rumah, dan program-program lainnya.

Kemendikbud Ristek mendanai 15 ribu mahasiswa untuk program kampus mengajar tersebut. Kemudian sekitar 16 ribu mahasiswa untuk magang di berbagai tempat magang baik itu kedutaan asing, industri, birokrasi.

“Semester depan ini banyak program yang kami siapkan, banyak kesempatan adik-adik melakukan pertukaran mahasiswa merdeka. Adik-adik dari Jakarta bisa satu semester di Banda Aceh. Adik-adik dari Kalimantan Tengah bisa satu semester di Yogya,” ungkap Nizam.

Menurut Nizam dengan adanya program Kampus Merdeka juga dapat meningkatkan kepercayaan diri bagi mahasiswa untuk bisa bersaing di ranah internasional melalui program student mobility. Tidak hanya mahasiswa dosen pun juga memiliki kesempatan serupa di luar kampus.

“Demikian juga dengan microcredentials saat ini mahasiswa bisa mendapatkan sertifikat dari google akademi, Microsoft dan sebagainya sehingga bisa menjadi digital leaders di era ekonomi saat ini,” tutur guru besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada ini.

Lebih lanjut Nizam juga memaparkan mahasiswa juga secara aktif mengikuti program Kampus Merdeka ini. Mahasiswa membantu membuat usaha mikro kecil menengah (UMKM), mengembangkan artificial intelligence (AI), dan juga membantu membangun desa.

Selain itu Nizam juga menekankan untuk mendorong dalam menguatkan peran universitas yang tidak hanya berfokus pada publikasi saja. Pemanfaatannya didorong melalui platform kedaireka.id yang berguna untuk mengelaborasikan inovasi dari kampus supaya dapat dimanfaatkan oleh UMKM dan masyarakat.

“Ini kita alokasikan betul 250 M khusus kita alokasi penggunaan adopsi teknologi dari kampus untuk digunakan industri dari UMKM sampai industri-industri tinggi. Demikian pula dengan publikasi juga begitu, kita ingin publikasi tidak hanya sekadar publikasi tetapi betul-betul menyelesaikan permasalahan di masyarakat,” ujar Nizam.

Pengalokasian dana program Kampus Merdeka juga dialokasikan untuk beasiswa dosen dan tenaga pendidik. Dana yang dialokasikan digunakan untuk akselerasi, kompetensi, dan kualifikasi para dosen untuk mendorong keberhasilan program Kampus Merdeka.

dtk

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com