EDUNEWS

Kasus Irman Gusman, Ketua KAHMI : Suap Rp 10 Juta Pun Bisa Ditangkap KPK

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Sejumlah pihak mempersoalkan nilai suap Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman yang tidak kakap yakni, Rp100 juta. Namun, bagi Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Mahfud MD, angka bukanlah soal.

“Kenapa cuma Rp100 juta kok ditangkap? Ada dua. KPK boleh menangani korupsi APBD seperti mark up, Rp1 miliar. Tapi penyuapan Rp10 juta pun bisa ditangkap KPK, tidak ada batas minimalnya,” kata Mahfud MD, dalam perbincangan dengan tvOne, Senin, (19/9/2016).

Mahfud mengungkapkan bahwa dalam ilmu perkorupsian, ada yang namanya penyuapan terhadap pejabat yang memiliki kewenangan terhadap suatu kebijakan tertentu. Namun, ada pula yang tidak memiliki wewenang secara langsung. Di sini, Irman menjadi contoh.

Baca juga :  Wakil Presiden : Universitas di Pulau Jawa Tidak Kuat

“Pak Irman ini bisa ngebel presiden, menteri, kepala daerah, dirjen-dirjen, bulog. Pasti diangkat teleponnya. Dia merekomendasi lisan maupun tertulis,” ujarnya.

Mahfud tak membantah jika peran yang dilakukan oleh Irman bisa disebut sebagai praktik calo. Sebab, ia sepakat dengan KPK bahwa yang bersangkutan memperdagangkan pengaruh.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa Ketua DPD Irman Gusman dijebak. Menurut Mahfud, KPK sudah menjalankan tugasnya dengan benar.

“Pak Irman dijebak, saya menolak. KPK bukan lembaga bodoh juga,” kata Mahfud.

Mahfud meyakini KPK sudah melakukan penyadapan hari-hari sebelum menangkap Irman. Meskipun ia sendiri juga heran tokoh asal Padang Panjang, Sumatera Barat, itu mau berinteraksi dengan orang yang berstatus tersangka.

Baca juga :  Geledah Kanwil Kemenag Jatim, KPK Amankan Dokumen

“KPK itu mungkin menerima telepon, memonitor orang tersebut. Tiba-tiba ada telepon nyasar dari di Pak Irman. Orang ini sedang dipantau, disadap,” kata Mahfud.

Kemudian, saat pemeriksaan, ia percaya penyidik juga memperdengarkan rekaman hasil sadapan ke Irman. Setelah itu, lanjut dia, Irman tidak berkutik dan menerima kenyataan.

“Selalu menolak bahwa saya tidak ini tidak itu. Sesudah diperdengarkan rekamannya, tanda tangan berita acara. Ya sudah (menerima status tersangka),” ujarnya.

Terkait cepatnya KPK menetapkan Irman sebagai tersangka, Mahfud memberikan penjelasannya. Dia menuturkan, operasi tangkap tangan memang dalam waktu 24 jam harus dijadikan tersangka karena jika tidak maka wajib dilepas.

“Ajudannya dikeluarkan sebelum 24 jam. OTT 24 jam tidak tersangka berarti penangkapannya salah. Ini akan terurai di pengadilan seperti yang sudah-sudah,” tutur dia.

Baca juga :  Bekali Ilmu Tasawuf Petugas Haji, Kemenag: Tugas Kita Membina, Melayani dan Melindungi

KPK telah menetapkan Irman sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap izin impor gula. Dalam operasi tangkap tangan, KPK menyita uang Rp100 juta sebagai barang bukti dari kediaman Irman.

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, mengungkapkan uang suap Rp100 juta oleh KPK saat OTT diambil dari kamar pribadi Irman. KPK telah menetapkan dua tersangka lain dalam kasus dugaan suap impor gula ini.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!