EDUNEWS

Kemendikbud akan Satukan Pendidikan Vokasi dan Industri

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto menyatakan optimis dengan masa depan siswa-siswi pendidikan vokasi.
Keyakinan itu disebabkan karena Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (DIKSI) telah memiliki strategi utama ‘link and match’ untuk menghubungkan SMK, kampus vokasi, serta lembaga pelatihan keterampilan di Indonesia dengan industri dan dunia kerja dalam lima tahun ke depan. Vokasi yang dimaksud Wikan meliputi pendidikan tinggi, SMK, serta kursus dan pelatihan.

Dalam webinar bertajuk Pendidikan Vokasi Menjawab Tantangan Inovasi yang diadakan CNN Indonesia TV pada Selasa (11/8), Wikan mengibaratkan link and match sebagai hubungan kasih. Menurutnya, pendidikan vokasi harus ‘menikah’ dengan industri dan dunia kerja, di mana ‘pernikahan’ itu memiliki sejumlah pengembangan yang disusun sedemikian rupa agar pendidikan vokasi dan industri saling terkait.

Baca juga :  Pemerintah Siapkan Rp 10 triliun untuk Dana Abadi Pendidikan

“Vokasi itu menjadi pilar kemajuan di setiap negara maju manapun. Jadi setiap negara maju manapun, karakternya pasti pendidikan vokasinya maju, dan pasti mereka sudah link and match dengan dunia industri. Pernikahan massal itu terjadi dengan paket yang sangat signifikan,” kata Wikan.

Ia menjelaskan, pengembangan strategi link and match meliputi kurikulum yang disetujui para stakeholder dunia industri; didikan yang disampaikan bersama dengan setidaknya 50 jam per semester siswa diajar oleh praktisi industri; magang atau prakerin (praktek kerja industri) yang diselenggarakan bersama dunia industri untuk minimal satu semester.

Berikutnya, sertifikasi kompetensi berupa pemenuhan syarat kelulusan pendidikan dan hasil riset terapan (hardskill, softskill, dan integritas); komitmen perekrutan oleh industri dan dunia kerja; juga pelatihan guru serta dosen oleh industri dan dunia kerja; beasiswa atau donasi dari industri yang ditegaskan oleh Wikan tidak bersifat wajib; serta riset vokasi yang berasal dari kasus nyata di industri dan dunia kerja.

Baca juga :  Indonesia Kekurangan 69.389 Guru SMK
Advertisement

Wikan mengatakan, ada hal-hal lain yang tak kalah penting untuk ditanamkan pada siswa, yaitu kejujuran, moral, dan integritas. Bila siswa menjalani pendidikan vokasi berdasarkan ketertarikan tanpa merasa terpaksa, ia meyakini siswa akan menjadi Sumber Daya Manusia yang berkompeten. Sehingga, tugas lebih lanjut adalah menyesuaikan dengan kebutuhan industri.

“Itu menjadi kebijakan kita, dan itu harus betul-betul sesuai keinginan industri. Tidak boleh kita bikin lulusan yang kompeten tapi enggak sesuai dengan industri, apalagi yang enggak kompeten dan enggak sesuai [industri]. Dan di masa pandemi, sebisa mungkin justru ‘pernikahan’ terjadi, sehingga nanti ketika industri berubah juga mengajak vokasi berubah di dalam era new normal,” paparnya.

Menurut Wikan, dengan 2,2 ribu pendidikan tinggi, 14 ribu SMK dan 17 ribu kursus atau pelatihan di Indonesia, sekitar 20 sampai 30 persen telah menerapkan strategi link and match. Ia optimis pendidikan vokasi dan dunia industri dapat bersama-sama melalui pandemi Covid-19.

“Mungkin belum sekomplit ini [skema strategi], tapi sudah terjadi. Di SMK itu tiap tahun kurikulum disinkronkan, tapi mungkin belum sedalam ini. ‘Pernikahan’ itu sudah dan sedang terjadi. Untuk itu, kita tahun ini menggelontorkan Rp3,5 triliun dengan 40 program baik di SMK, perguruan tinggi vokasi, dan kursus pelatihan Indonesia di luar anggaran rutin kita,” ungkap Wikan.

Ia menambahkan, saat ini industri perlahan mulai menggeliat. Wikan mengingatkan agar vokasi tak tertinggal dalam proses kebangkitan tersebut, sehingga dunia industri dan vokasi dapat berjalan bersama di era new normal.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com