EDUNEWS

Menristekdikti Didesak ambil Langkah Tegas Terkait Dugaan Kecurangan Pemilihan Rektor ULM

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir didesak untuk mengambil langkah tegas atas dugaan kecurangan pada pemilihan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Pasalnya, Prof Dr Sutarto Hadi, calon rektor ULM periode 2018-2022, diduga melakukan penggalangan suara dengan menggunakan dana Islamic Development Bank (IDB) 2017.

“Pihak Menristekdikti jangan hanya jadi penonton. Namun harus segera membentuk tim khusus untuk menyelidiki dugaan kecurangan,” kata Pemerhati Hukum, Wanto A Sahlan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan beberapa waktu yang lalu.

Menurut Wanto, sikap tegas tersebut diperlukan agar kasus yang diduga melibatkan Rektor ULM Sutarto Hadi itu, tidak menjadi polemik berkepanjangan. Jika memang benar, maka akan diketahui kebenarannya. Jika tidak, akan diketahui pula bahwa dugaan kasus itu tidak benar.

Namun, terlepas benar atau tidaknya dugaan tersebut, imbuh Wanto, kalau memang terbukti melanggar hukum, maka bukan hanya calon rektor yang terduga bakal dipidana. Para pemilih atau senatpun, dapat terindikasi melakukan pelanggaran hukum.

“Saya kira tidak sah kalau pemilihan kandidat rektor disertai dengan dugaan kecurangan,” tegas Wanto.

Sebelumnya anggota Komisi X DPR Sofyan Tan mendesak Menristekdikti melakukan verifikasi ulang terhadap calon Rektor ULM yang diduga melakukan kecurangan

“Menristekdikti harus melakukan verifikasi kepada yang bersangkutan dan semua yang terlibat. Ngapain kita memiliki rektor bermasalah,” kata anggota Komisi X DPR Sofyan Tan di Jakarta.

Verifikasi tersebut, menurut Sofyan sangat mendesak. Pasalnya, rektor terpilih tentu akan mengelola dana besar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dan kalau dana APBN dikelola orang yang bermasalah, imbuhnya, tentu akan melukai dan mencederai pendidikan itu sendiri.

Sofyan berharap, Kemristekdikti memiliki sikap yang jelas terhadap persoalan ini. Jika dalam verifikasi ditemukan bukti otentik tentang dugaan tersebut, tentu pencalonan Sutarto sebagai rektor harus digugurkan.

“Kemristekdikti memiliki wewenang signifikan untuk menggugurkan calon rektor yang tidak memenuhi syarat, melalui 35 persen suara,” kata dia.

Dugaan penggalangan suara yang dilakukan Sutarto, muncul menjelang pemilihan suara, Rabu (30/5/2018). Diduga, Sutarto mengarantina 20 orang pemilik hak suara di sebuah hotel mewah di Kota Banjarmasin.

Dana penggalangan suara tersebut ditengarai berasal dari bantuan dana Islamic Development Bank (IDB) 2017. Sebelumnya, ULM memang menerima pendanaan dari IDB untuk bantuan pembangunan 12 gedung baru lewat skema Proyek 7 in 1 senilai Rp 384,7 miliar.

Proses pemilihan suara calon rektor ULM itu, saat ini sudah menghasilkan tiga kandidat. Selain Sutarto, calon lain adalah Prof Dr Zairin Noor dan Prof Dr Hadin Muhjad. Dalam proses pemungutan suara tingkat senat universitas, Sutarto meraup 31 suara, Zairin 17 suara, dan Hadin sembilan suara.

Sementara, bakal calon lain, yaitu Prof Husaini hanya meraih satu suara dan gagal melenggang ke tahap selanjutnya. Panitia pemilihan, kemudian melakukan mengirimkan berkas ketiga calon tersebut kepada Kemristekdikti.

Pemilihan rektor ULM, juga menggema di kalangan netizen. Beberapa waktu lalu di media sosial, sempat ramai komentar dengan hastag #gantirektorunlam.

Hastag #gantirektorunlam tersebut muncul, diduga karena banyak pihak tidak puas atas kepemimpinan Sutarto Hadi. Sebab, selama Sutarto menjabat sebagai rektor, kondisi ULM dinilai banyak kalangan makin terpuruk.

Berdasarkan peringkat perguruan tinggi se-Indonesia, misalnya, ULM Banjarmasin, hanya menduduki urutan ke-51.

 

 

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!