EDUNEWS

Menristekdikti Ungkap Dosen di Beberapa Kampus Terpapar Radikalisme

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, sejak 2017 sudah meminta rektor di universitas-universitas yang ada di Indonesia untuk melaksanakan profiling terhadap dosen dan mahasiswanya. Profiling dimaksudkan untuk mendeteksi civitas akademika di kampus-kampus di Indonesia, terkait paham radikalisme.

Nasir mengungkapkan, dari hasil profiling tersebut, diketahui ada beberapa dosen yang terpapar radikalisme. Meski Nasir tidak bisa menyebutkan jumlahnya secara pasti, namun diakuinya ada sekitar empat hingga lima dosen yang terdeteksi sudah terpapar paham radikalisme.

“Kita ada beberapa dosen yang sudah ketahuan jelas (terpapar radikalisme). Ada sekitar 4 orang. Ada di Surabaya, ada di Bandung, ada di tempat-tempat lain juga, di Solo juga ada,” kata Nasir seusai mengikuti acara diskusi di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Kamis (22/11/2018).

Baca juga :  Indonesia Kekurangan 38.000 Dosen Kesehatan

Kesemua dosen yang terpapar paham radikalisme tersebut, lanjut Nasir, langsung diberikan pembinaan. Sebelum diberi pembinaan, mereka terlebih dahulu diberi pilihan, apakah ingin kembali ke NKRI, atau ingin keluar dari NKRI. Jika mereka ingin kembali ke NKRI, barulah diberikan pembinaan.

“Membuat satu pernyataan tertulis. Kalau enggak (mau kembali ke NKRI) dia harus keluar dari NKRI. Mereka memilih kembali ke NKRI dan dilakukan pembinaan,” ujar Nasir.

Nasir menambahkan, disahkannya Peraturan Menteri (Permenristekdikti) Nomor 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa juga dimaksudkan untuk menangkal paham radikalismw di lingkungan kampus. Sehingga kegiatan mahasiswa baik di dalam kampus maupun di luar kampus dalam kegiatan ekstranya, menjadi lebih harmonis.

Baca juga :  Enam Dosen Terima Anugerah Pendidik Berprestasi 2016

“Makanya ini Permenristekdikti nomor 55 saya siapkan supaya 4 pilar kebangsaan harus kita wujudkan di negeri ini. Yaitu NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika,” ujar Nasir.

Konkritnya, lanjut Nasir, nanti setiap kampus memiliki unit kegiatan pengawal ideologi bangsa. Adapum anggotanya yaitu para mahasiswa dari organisasi ekstra kampus seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), hingga Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang akan memberikan pembelajaran bersama dengan dosennya pembimbingnya.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!