EDUNEWS

Pendekatan Kewirausahaan Dinilai Efektif Tuntaskan Masalah Tuna Aksara

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Direktur Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Erman Syamsudin, mengatakan masyarakat lebih meminati program pemberantasan buta aksara berbasis kewirausahaan. Program tersebut kini diikuti sekitar 90 ribu warga Indonesia yang berstatus buta huruf.

“Mayoritas warga buta huruf ini kan berusia di atas 45 tahun. Mereka merupakan warga miskin yang tinggal di pedesaan. Motivasi utama hidup mereka adalah mencari penghasilan,” ujar Erman di Jakarta , Jumat (9/9/2016).

Menurut dia, mengajak warga mau belajar membaca merupakan hal yang cukup sulit. Program dasar belajar membaca yang sebelumnya diterapkan  memakan waktu enam bulan.

Selama masa itu, tidak jarang warga mulai mempertanyakan manfaat belajar membaca. Beberapa dari mereka pun kehilangan motivasi sehingga akhirnya tidak tuntas belajar membaca.

Baca juga :  Nama Muhammad Ali Diabadikan Jadi Nama Jalan di New York

“Mereka ini kan orang dewasa, bahkan ada yang sudah berusia lanjut. Karena itu, tanpa ada motivasi kuat, keinginan belajar membaca bisa berkurang. Akhirnya kami gunakan pendekatan kewirausahaan,” jelas Erman.

Lewat pendekatan ini, warga diajak belajar membaca sambil belajar keterampilan yang mampu memberi tambahan penghasilan. Keterampilan yang diajarkan antara lain membuat keripik, menjahit, perbengkelan, pertukangan dan beberapa keterampilan boga lainnya.

Advertisement

Erman menuturkan, program pemberantasan buta huruf berbasis kewirusahaan telah diterapkan sejak 2011 lalu. Saat ini, ada 90 ribu warga dari seluruh Indonesia yang mengikuti program ini.

Program dilaksanakan selama enam bulan dengan materi belajar membaca dan berhitung secara dasar. Sambil belajar, warga diberikan materi tentang keterampilan wirausaha. Setelah enam bulan , kemampuan membaca para peserta tetap dipantau bersamaan dengan pemberian materi tambahan wirausaha.

“Tujuan utama program ini untuk memberantas buta huruf dan mengurangi kemiskinan. Kami berharap status kemiskinan warga bisa berubah, dari miskin ke hampir miskin bahkan menjadi pra sejahtera,” tambah Erman.

Berdasarkan catatan Kemendikbud, saat ini terdapat 5,9 juta warga Indonesia berstatus buta huruf. Jumlah ini mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan jumlah total warga buta huruf pada 2005 yang mencapai 14, 89 juta orang.

Tercatat ada lima provinsi dengan jumlah warga buta huruf tertinggi. Kelimanya adalah Jawa Timur (1,4 juta orang), Jawa Tengah (943.683 orang), Jawa Barat (604.378 orang), Papua (584.441 orang) dan Sulawesi Selatan (37.221 orang). Mayoritas warga buta huruf adalah perempuan.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com