Pendidikan

Belajar Online, Kemendikbud Pikirkan Siswa yang Tak Punya Akses Listrik hingga Internet

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pelaksana tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Hamid mengaku pihaknya tengah memikirkan persoalan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa di daerah tanpa akses internet hingga listrik.

Kegiatan belajar dari rumah ini diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia karena penyebaran virus corona (Covid-19) sejak awal Maret 2020 lalu.

“Persoalan yang paling kami pikirkan adalah anak-anak yang tidak punya akses internet, tidak punya akses listrik, tidak punya akses TV. Tentu ini pembelajaran sangat manual,” ujarnya melalui konferensi pers daring Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (2/5/2020).

Hamid mengatakan di beberapa daerah mungkin pembelajaran dilakukan lewat radio atau komunitas. Ia pun meminta guru di daerah tak punya akses internet hingga listrik itu berinovasi dalam mengajar.

Baca juga :  Seniman Akan Ikut Mengajar

“Tentu para guru menyesuaikan kondisi masing-masing dan inilah saatnya guru inovasi pembelajaran di setiap daerah,” katanya.

Selama belajar di rumah diberlakukan, Hamid mencatat tiga metode PJJ yang diterapkan guru dan sekolah.

Pertama sekolah dengan menerapkan sistem online sepenuhnya. Pembelajaran ini dilakukan oleh sekolah yang sudah terbiasa dengan sistem daring memakai berbagai aplikasi.

Kemudian kedua kegiatan PJJ dilakukan tidak sepenuhnya daring. Artinya tugas diberikan melalui perangkat pesan Whatsapp. Tidak ada tukar materi yang dilakukan dengan konferensi video.

Lalu, yang ketiga PJJ yang hanya memanfaatkan program belajar di televisi maupun radio.

“Jangan disamaratakan semua anak, harus perhatikan kondisi di lingkungan anak. Termasuk akses internet,” jelas Hamid.

Baca juga :  Keterlibatan Orang Tua Perlu Didorong Dalam Proses Pembelajaran Anak

Menurut survei PJJ yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 1.700 siswa di 20 provinsi dan 54 kabupaten atau kota, ditemukan beberapa kendala penerapan PJJ daring.

Sebanyak 77,8 persen responden merasa PJJ daring terkendala tugas menumpuk; 42,2 persen terkendala beban kuota internet; 37,1 persen terkendala waktu mengerjakan tugas yang sempit; dan 15,6 persen terkendala akses fasilitas komunikasi.

Dalam survei tersebut, tak semua responden punya akses fasilitas wifi di tempat tinggalnya. Sebanyak 46,4 persen mengaku tak memiliki sambungan wifi, sedangkan 53,6 persen tersambung wifi.

Advertisement

Mayoritas responden menggunakan telepon genggam sebagai sarana PJJ, yakni sebanyak 95,4 persen. Sedangkan 23,9 persen menggunakan laptop dan telepon genggam. Serta 2,4 persen menggunakan komputer.

Kemendikbud sendiri sudah menyediakan platform PJJ daring yang bisa diakses secara gratis, yakni Rumah Belajar.

Namun dari hasil survei KPAI, ditemukan 56,9 persen siswa tak tahu platform Rumah Belajar. Lalu sebanyak 76,6 persen siswa menyatakan tidak pernah menggunakan platform Rumah Belajar.

Sebanyak 65,1 persen siswa mengaku PJJ dilakukan melalui platform Google Classroom; 24,5 persen dari Ruang Guru; Rumah Belajar; Zenius; dan Zoom; serta 10,4 persen dari aplikasi WhatsApp.

Pengamat pendidikan dari Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji menilai seharusnya pemerintah gencar mendorong pemanfaatan aplikasi Rumah Belajar selama PJJ.

“Jadi uang rakyat yang dipakai untuk membangun Rumah Belajar tidak mubazir. Pertanyaan besarnya jika 76,6 persen siswa tidak pernah akses Rumah Belajar ini berarti informasi ke masyarakat yang belum terbuka,” tuturnya melalui pesan singkat.

Indra menilai pemakain platform berbayar dari pihak swasta yang kini banyak dilakukan sekolah justru membuat popularitas Rumah Belajar tenggelam.

Sebulan lebih kegiatan belajar di rumah di terapkan sejumlah daerah di tengan pandemi virus corona. Proses belajar jarak jauh ini dilakukan dengan berbagai metode. Untuk yang tak punya akses internet, PJJ dilakukan lewat televisi dan radio.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengaku pihaknya belum menemukan solusi untuk siswa dan sekolah tanpa akses listrik. Namun, pihaknya berjanji terus mengevaluasi jalannya PJJ.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyatakan sebanyak 68.265.784 siswa dan 3,2 juta guru terdampak wabah corona dan harus belajar dan mengajar dari rumah.

FSGI menilai sekolah, guru, siswa, orang tua, sampai pemerintah daerah tak siap menangani tantangan pendidikan di tengah wabah yang terjadi tiba-tiba.

cnn

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com