Pendidikan

Di ‘Bully’, Anak-anak Pengungsi Rohingya Berhenti Sekolah

ILUSTRASI

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pendidikan menjadi salah satu hak yang harus dimiliki setiap anak, namun tidak bagi anak pengungsi Rohingya. Anak yang merupakan keturunan murni Rohingya artinya kedua orang tua berasal etnis Rohingya, lebih banyak yang berhenti sekolah, salah satu penyebabnya akibat intimidasi (bully) yang diperoleh anak Rohingya ketika bersekolah di sekolah formal.

Berbeda halnya dengan anak keturunan campuran antara Rohingya dan Indonesia. Artinya, salah satu orang tua anak merupakan orang Indonesia, masih dapat bertahan di sekolah. Perlakuan intimidasi itu sampai melukai fisik sang anak.

Hal itu diungkapkan Peneliti Utama SUAKA Rizka Argadianti Rachmah usai diskusi Laporan Penelitian Nasib Pengungsi Rohingya di Indonesia dengan tema ‘Hidup yang Terabaikan’ hasil penelitiannya serta rekan peneliti SUAKA Zico Pestalozzi, kemarin (5/12/2016).

Baca juga :  Etnik Minoritas di Myanmar Dibantai, HMPI : Cabut Gelar Nobel Aung Saan Suu Kyi

“Semua anak murni Rohingya berhenti sekolah. Mereka berhenti sekolah pada akhirnya karena trauma,” ujar Rizka usai memaparkan hasil penelitiannya di empat daerah di Indonesia yakni Jakarta, Aceh, Makassar dan Medan.

Rizka juga menceritakan salah satu tindakan bully yang ia ketahui yakni anak Rohingya yang dilukai kepalanya hingga bocor. Bully ini biasanya dilakukan karena faktor perbedaan bahasa serta sikap yang berbeda dengan siswa lainnya, sehingga siswa daerah kerap membawa permasalahan ras ke lingkungan sekolah.

Rizka juga mengatakan, jika aksi bully di sekolah diselesaikan masalahnya di ruang kelas saja oleh guru, tetapi ketika ke luar ruang kelas bully tetap terjadi.

“Penanganan bully masih kurang, beberapa anak sekolah (dulu) sisanya tidak bersekolah karena kendala bahasa yakni cara bicara yang berbeda, biaya, identitas dan mendengar kisah temannya yang menjadi korban bully,” kata Rizka.

Baca juga :  Fraksi PPP Desak Pemerintah Sampaikan Nota Protes ke Pemerintah Myanmar

Namun berbeda bagi anak Rohingya campur, artinya orang tua berasal dari etnis Rohingya dan satunya berasal dari Indonesia, mereka masih bisa bertahan sekolah.

“Semua anak murni Rohingya berhenti sekolah, kecuali anak dari perkawinan campur, ada yang bertahan karena minimal orang tua bisa berbahasa Indonesia sehingga bisa bertahan sekolah,”jelasnya.

Selain itu menurut hasil penelitian Rizka, idetitas anak Rohingya juga menjadi salah satu faktor tidak adanya pendidikan publik formal yang diakui yang tersedia untuk anak-anak pengungsi.

Penelitian Rizka juga menuliskan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui bahwa sistem pendidikan untuk anak-anak pengungsi belum tersedia. Direktorat Pendidikan khusus dan Layanan Khusus (PKLK) yang menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus juga tidak pernah mendapatkan arahan untuk memenuhi hak pengungsi tersebut.

Baca juga :  10 ribu Massa Sekolah Swasta Hari ini Unjuk Rasa

Dan dalam pendidikan nasional secara tegas juga menyatakan jika identitas formal yang tidak dimiliki pengungsi Rohingya merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam mengikuti ujian dan prosedur lainnya.

Sedangka di setiap shelter di daerah yang ia bersama rekannya teliti misalnya Makassar, ditemukan tempat kursus-kursus seperti bahasa Inggris, mekanik, pelatihan supir eskavator dan pelatihan montir listrik yang terbukabagi seluruh pengungsi di Indonesia sebagai persiapan menuju negara ke tiga.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com