Pendidikan

Guru Tolak Dimutasi, Kontrak Bakal Diputus

 

 

 

PASER, EDUNEWS.ID – Kabupaten Paser, Kaltim, mengalami kekurangan jumlah pendidik maupun tenaga kependidikan di perdesaan. Dari rekrutmen 700 pendidik dan tenaga kependidikan beberapa bulan lalu, minat yang mengisi di perdesaan, baik SD maupun SMP, kalah tinggi dibandingkan di kota.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Paser Murhariyanto mencontohkan, di Desa Segendang, Kecamatan Batu Engau, saat lowongan guru kontrak dibuka, tidak ada satu pun yang mendaftar. Sama halnya dengan SD di kawasan Kecamatan Tanjung Harapan.

“Karena itu, pemerintah segera melakukan pemetaan guru. Jika ada mutasi, itu artinya tidak boleh menolak. Kalau tidak setuju, kontraknya diputus,” ucap Murhariyanto, Senin (24/7/2017).

Baca juga :  Sejumlah Mahasiswa Asing Belajar Ternak di IPB

Menurutnya, kebijakan tersebut diambil semata untuk pemerataan kualitas pendidikan. Pasalnya, masih banyak guru yang hanya ingin mengajar di perkotaan. Begitu diberikan peluang di desa, tidak berminat.

Sementara untuk guru yang sudah berstatus PNS, Murhariyanto mengatakan, bila ingin mutasi, minimal sudah empat tahun mengajar di lokasi sebelumnya. Jika memaksakan, berdasar aturan baru, guru tersebut akan dikenai sanksi tidak bisa naik pangkat.

Advertisement

Selain itu, dia mengimbau seluruh pendidik dan tenaga kependidikan, baik PNS maupun honorer, agar segera memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Hal itu demi menambah kesejahteraan. Bila tidak memiliki NUPTK, hak-haknya, entah itu anggaran dari pemprov maupun pusat, tidak bisa dicairkan.

Murhariyanto menginginkan seluruh kepala sekolah (kepsek) terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme para pendidik. Sebab, saat ini mutu pendidikan di Indonesia dibanding negara lain masih sangat rendah.

“Dari 188 negara, kita berada di urutan ke-30 untuk daya saing kualitas. Belum lagi hasil lainnya yang menempatkan negara kita tertinggal jauh dari negara lain. Selain itu, masih banyak di sejumlah sekolah ada guru yang berkelompok, kubu sini dan kubu situ,” tegasnya.

“Inilah yang menurunkan profesionalisme. Bagaimana dia bisa mendidik anak didik maupun berkomunikasi dengan orangtua, jika di lingkungannya saja masih berkelompok dan bahkan tidak akur. Di sinilah tugas kepsek untuk mengatur,” tambahnya.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com