Pendidikan

Keberadaan Guru Garis Depan Dianggap Tidak Berperikemanusiaan

 

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Mahasiswa Kabupaten Sintang menolak kehadiran Guru Garis Depan (GGD) yang bertugas di wilayah Sintang, Kalimantan Barat. Mereka menilai program Guru Garis Depan tidak berperikemanusiaan.

Masyarakat Peduli Perbatasan, Andreas Nikodemus mengatakan di daerah tersebut ada guru yang sudah mengabdi 12 tahun di perbatasan honorer dengan gaji Rp 400 ribu. Namun kemudian dihadirkan Guru Garis Depan sebanyak tiga orang, yang masing-masing gajinya Rp 8 juta.

Karena itulah, dikatakan Andreas, program itu tak berperikemanusiaan dan tidak beradab. “Kalau kampus daerah tidak layak, jangan diberi izin operasional agar anak anak daerah tidak sekolah di sini. Dimana letak keadilan pemerintah pusat dengan program itu,” ujar Andreas.

Sementara itu, Pemuda Katolik Kabupaten Sintang, Marsianus mengatakan para guru honorer dan para sarjana pendidikan di Sintang tidak memiliki kesempatan mengikuti tes proses rekrutmen GGD.

Sebab syarat yang ditentukan pemerintah pusat harus mengikuti PPG dan SM3T program tersebut, dan hanya ada 1 universitas yang menyelenggarakan yaitu FKIP Untan. Artinya, menurut dia, lulusan sarjana pendidikan di kabupaten Sintang akan jadi pengangguran intelektual.

Ini akan menjadi masalah sosial dikemudian hari. “Kami tidak mau menjadi penonton, padahal bicara kualitas belum tentu kami lebih buruk dari mereka yang lulus pada program GGD,” kata Marsianus.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close