Pendidikan

Kemenag Tolak Madrasah Diniyah jadi Ekskul

 

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kebijakan sekolah lima hari juga alot di internal pemerintah. Pada 9 Agustus lalu sudah keluar rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Namun dari Kementerian Agama (Kemenag) masih keberatan dengan sejumlah poin di dalam rancangan Perpres itu. Salah satu poros keberatannya Kemenag adalah klausul bahwa madrasah diniyah (madin) dijadikan ekstrakurikuler.

Klausul ini tertuang dalam Pasal 7 draft Perpres PPK. Keberatan lainnya adalah masih banyaknya nomenklatur yang menyebutkan sekolah lima hari. Padahal Perpres itu sejak awal difokuskan untuk pendidikan karakter.

Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan tidak tepat jika madin diposisikan sebagai ekstrakurikuler seperti musik, bermain futsal, basket, dan sejenisnya. Apalagi nanti madin itu dimasukkan sebagai salah satu ekstrakurikuler pilihan siswa.

“Sekarang mas aja kalau disuruh milih ekstrakurikuler madin atau futsal, pilih mana. Pasti pilih yang fun,” jelasnya Jum’at (11/8/2017).

Kamaruddin menuturkan dia khawatir madin bakal semakin ditinggalkan anak didik jika statusnya disejajarkan dengan eskstrakurikuler pilihan lainnya. Dia berharap madin tetap seperti yang sudah berjalan sekarang ini.

Kamaruddin mengatakan selama ini sasaran program madin adalah siswa di SD, SMP, maupun SMA. Khusus untuk di SMP dan SMA saja, jumlah muridnya mencapai 500 ribu orang. Menurutnya dengan penerapan sekolah lima hari, 500 ribu anak madin itu tidak bisa lagi belajar di madin.

Kekhawatiran Kamaruddin itu memang beralasan. Sebab dalam simulasi jadwal pelajaran di sekolah lima hari untuk jenjang SMP dan SMA, rata-rata siswa pulang pukul 15.00. Khusus untuk jenjang SMP misalnya, hanya ada waktu satu jam (14.00 – 15.00) untuk ekstrakurikuler. Itupun hanya tersedia pada Senin sampai Kamis. Sebab Jumat sudah dikapling untuk ekstrakurikuler Pramuka.

Sementara untuk jenjang SMA sederajat, pemberlakuan sekolah lima hari otomatis menghapus jam untuk ekstrakurikuler. Sebab kegiatan wajib atau intrakurikuler sudah memakan waktu sampai pukul 15.00.

“Yang paling memungkinkan itu di SD. Itupun mepet sekali waktunya,” jelasnya.

Untuk kelas IV, V, dan VI SD kegiatan intrakurikuler selesai pukul 12.10. Tetapi jika di SD masih ada kegiatan ekstrakurikuler, dia khawatir minat anak SD untuk ikut madin berkurang. Sebab anak-anak SD lebih memilih ekstrakurikuler yang ada di sekolah.

Di dalam draft Perpres sejatinya sudah ada ketentuan bahwa Kemenag diperbolehkan tidak menerapkan sekolah lima hari dalam sepekan. Namun Kamaruddin menegaskan sasaran madin itu bukan siswa dari madrasah. Tetapi siswa dari sekolah umum (SD, SMP, dan SMA/SMK). Kamaruddin mengatakan pembahasan draft Perpres itu bisa segera dimatangkan kembali.

“Sekarang pembahasannya masih seru,” tuturnya. Dia mengatakan draft itu dinaikkan ke Presiden jika sudah ada satu suara di tingkat kementerian.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close