Pendidikan

Kepsek Dipecat, Guru SD Swadaya di Bandung Mogok Ngajar

ILUSTRASI

BANDUNG, EDUNEWS.ID – Guru Sekolah Dasar (SD) Swadaya di Jalan Pagarsih, tidak datang mengajar selama dua hari. Ketidakhadiran mereka tersebut diduga ada kaitannya dengan pemberhentian kepala sekolah beberapa waktu lalu. Kepala sekolah inisial Y itu diduga telah menggunakan ijazah palsu. Pihak yayasan pun kemudian menelusuri sumber ijazah.

Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Nasional Swadaya Dainsyah mengatakan, temuan ijazah palsu itu terjadi saat yayasan memverifikasi data pegawai. Dokumen guru non-PNS termasuk kepala sekolah diverifikasi.

“Kami menemukan keganjilan ketika kepala sekolah menggunakan gelarnya pada 2010. Padahal di ijazah tertera ia kelulusan 1989,” ucap Dainsyah, Kamis (19/1/2017).

Pihak yayasan kemudian mendatangi IKIP Malang, institusi yang mengeluarkan ijazah untuk meminta klarifikasi. Ternyata tidak ada nama kepala sekolah Y tersebut di daftar lulusan.

Baca juga :  RuBI beri Pelatihan 'Menjadi Guru Kekinian' untuk Guru di Bojonegoro

“Kami juga sudah mengkonfirmasi yang bersangkutan. Keputusan yayasan akhirnya memberhentikan yang bersangkutan,” ujarnya.

Dikatakan Dainsyah, sebelum guru mogok mengajar, sudah ada aksi protes sebelumnya. Pihak yayasan menduga hal itu buntut dari pemberhentian kepala sekolah. Saat itu, kata Dainsyah, pengurus meminta pengunduran diri sementara dan meminta bantuan Dinas Pendidikan. Setelah 21 hari, status pengurus pulih demi hukum.

Advertisement

Aksi berikutnya, Rabu, 18 Januari 2017, sedikitnya 16 guru tidak masuk mengajar. Terpaksa, pihak sekolah meliburkan kegiatan belajar mengajar. Di hari yang sama yayasan mendatangi Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk meminta menyelesaikan masalah.

“Namun, belum ditanggapi,” ujarnya.

Hari berikutnya, guru masih tidak datang mengajar. Siswa kembali diliburkan. Tetapi, kata Dainsyah, pihak Disdik sudah ada yang datang. Bahkan sudah mengonfirmasi guru-guru.

“Mereka akan kembali mengajar mulai Jumat (20 Januari 2017),” ungkapnya.

Ia menyayangkan aksi para guru itu yang mengorbankan siswanya. Menurut dia, aksi tidak mengajar tersebut merupakan bentuk solidaritas yang salah terhadap sesama pengajar. Dainsyah berharap ke depan, aksi serupa tidak perlu berulang. Ia menyebutkan setelah pemberhentian kepala sekolah, aktivitas di sekolah tidak terganggu karena kini dikelola oleh wakil kepala sekolah.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com