Pendidikan

Mendikbud Inginkan Sekolah jadi Rumah Kedua bagi Siswa

 

 

MALANG, EDUNEWS.ID – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendi memimpikan sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi siswa karena mereka (siswa) merasa nyaman dan sekolah merupakan kegiatan yang menyenangkan.

“Ciri sekolah yang bagus dan `hebat` itu ketika siswa siswi enggan pulang sebelum tugas dan proyek yang mereka kerjakan tuntas, seperti siswa siswi di Jepang yang pantang pulang sebelum tugas-tugasnya selesai dan mereka merasa nyaman berada di sekolah,” kata Mendikbud di sela peresmian laboratorium dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di SMA Negeri 8 Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (30/1/2018).

Apalagi, lanjutnya, peran guru saat ini sudah bergeser, tidak lagi sebagai pengajar, tetapi penghubung sumber (nara hubung) dan fasilitator. Metode pengajaran yang dikembangkan saat ini juga lebih banyak pada pemberian tugas dan proyek dengan harapan mereka bisa fokus dalam pembelajaran.

Baca juga :  WVI Galang Dana untuk Pendidikan Papua

“Siswa siswi di Jepang ini kalau tidak disuruh pulang oleh gurunya atau dijemput orang tuanya, mereka enggan pulang sebelum tugas dan proyeknya benar-benar selesai. Kondisi seperti inilah yang kami impikan, anak-anak betah di sekolah dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua,” ucapnya.

Namun, kondisi itu saat ini masih belum memungkinkan bisa wujudkan, sebab anak-anak (siswa) lebih senang jika libur sekolah daripada berlama-lama di sekolah. “Ini yang harus kita dorong,” tutur manta Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Oleh karena itu, lanjutnya, ketika ada evaluasi kondisi sekolah jangan ada yang tersinggung karena semua itu dilakukan demi perbaikan ke depan, termasuk sekolah-sekolah di luar Jawa. Dengan adanya evaluasi itu agar tergerak untuk lebih maju dan lebih baik.

Baca juga :  Sarana dan Prasarana Pelaksanaan UNBK Masih Minjam
Advertisement

Bahkan, lanjutnya, siswa pintar saja tidak cukup, tapi harus jujur karena ini menjadi bagian dari pendidikan karakter. Salah satu untuk memperbaiki diri dengan jujur itu adalah penyelenggaraan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Sebab, soal-soal UNBK antara siswa yang satu dengan lainnya tidak sama.

Tahun ini, katanya, untuk jenjang SMA/SMK sederajat penyelenggaraan ujian 100 persen harus UNBK, sedangkan jenjang SMP/MTs 80 persen harus UNBK. “Memang ada sekolah di daerah yang tidak siap UNBK. Ketidaksiapan itu bukan karena sarana komputernya yang kurang memadai, tetapi karena ada hal lain,” ujarnya.

Menyinggung kebutuhan tenaga guru di Tanah Air, Muhadjir mengatakan tahun ini “penen” guru pensiun dan sekolah rusak. Saat ini ada sekitar 164 ribu gedung sekolah rusak yang dibangun pada 1973 melalui program instruksi presiden (Inpres). Namun, pengganti guru pensiun dan sekolah rusak, saat ini masih dalam proses.

“Tahun ini mulai kita benahi dunia pendidikan kita secara sistemik dan untuk tahap awal guru dulu. Kami juga ingin mengembalikan hakekat guru seperti pada awalnya sebagai pendidik, pendidik, pendidik, dan baru pengajar,” katanya.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com