Pendidikan

Pendidikan Dinilai Belum Mengantarkan pada Cita-cita Kemerdekaan

 

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pendidikan nasional dinilai belum berhasil menjadi episentrum pembangunan. Pengelolaannya yang politis membuat sistem yang dijalankan menjadi tidak ajek. Bahkan disebut gagal menghantarkan bangsa Indonesia pada cita-cita kemerdekaan.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen, mengaku miris melihat pengelolaan pendidikan nasional di alam kemerdekaan.

Ia menilai sistem yang berjalan sepanjang 72 tahun kemerdekaam minim kemajuan, jauh dari desain yang dapat menanamkan nilai-nilai kemerdekaan, dan nilai-nilai keindonesiaan.

“Sehingga hasil pendidikan itu belum menghantarkan bangsa ini pada cita-cita kemerdekaan kita, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelas dia, di Jakarta, Selasa (15/8/2017).

Faktanya, kata Abduhzen, selama 72 tahun Indonesia merdeka, upaya pencerdasan yang dibangun melalui sistem pendidikan belum mampu menjadi episentrum (pusat getar) dari seluruh gerak pembangunan.

“Pendidikan kita kurang atau bahkan belum berhasil melahirkan orang-orang yang berwatak,” tegasnya.

Jebolan sekolah-seolah maupun lembaga pendidikan tinggi di Indonesia belum cukup memiliki kemandirian, tanggung jawab, serta nilai kerja dan kinerja.

“Dari tahun ke tahun masih seperti itu, belum ada kemajuan,” sebutnya.

Dalam praktik kehidupan sosial, gagalnya pendidikan nasional juga terlihat dari sulitnya membangun sistem perlindungan seperti keamanan dan kenyamanan hidup terhadap warganegara masih kemah.

“Tingkat kemiskinan juga masih relatif tinggi, moralitas korup, kekerasan, peran-peran di kancah internasional makin lemah. Salah satu sumber persoalannya adalah kegagalan pendidikan kita,” imbuhnya.

Kondisi tersebut, menurut Abduhzen, merupakan buah dari belum adanya sistem pendidikan nasional yang ajek. Ia menegaskan bahwa selama ini pengelolaan pendidikan masih sangat politis.

“Jabatan-jabatan di kementerian yang terkait pendidikan sering kali dijadikan ‘hadiah hiburan’ bagi partai atau organisasi masa pendukung presiden,” tandas Direktur Eksekutif Institute Education Reform Universitas Paramadina ini.

Mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), Edy Suandy Hamid, menilai kemajuan pendidikan di era kemerdekaan tentu saja sudah banyak jika dibandingkan dengan zaman sebelum kemerdekaan, seperti angka buta huruf sudah banyak berkurang.

“Tapi, peran pendidikan yang dibutuhkan di era kemerdekaan tentu saja bukan hanya itu,” tandasnya.

Ia menyebutkan pendidikan nasional masih memiliki pekerjaan rumah yang besar, terutama untuk menyelesaikan persoalan akses pendidikan. Mengingat angka kemiskinan yang masih tinggi, yakni sebesar 11 persen atau sekitar 27 juta jiwa akan menjadi golongan masyarakat yang berpotensi sulit mengakses pendidikan.

“Pendidikan itu pemotong rantai kemiskinan, jika pendidikan untuk kaum miskin tidak difasilitasi maka kemiskinan akan terus menjadi persoalan bangsa,” tegas mantan Rektor Universiyas Islam Indonesia ini.

Komponen Pembangunan

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, mengatakan bangsa Indonesia sudah 72 tahun merdeka. Namun, kemerdekaan yang sesungguhnya masih belum dirasakan oleh semua anak bangsa secara adil dan merata.

Terlebih lagi menyangkut aspek pembangunan dan pendidikan. Padahal, amanat proklamasi jelas disebutkan bahwa tujuan Indonesia merdeka adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Salah satu sektor yang sangat strategis dan penting untuk diperhatikan dalam membangun suatu negara adalah pendidikan. Karena pendidikan merupakan ikhtiar untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mencakup semua komponen pembangunan dengan tujuan akhir meningkatkan kualitas manusia dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Pengamat Pendidikan dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji, mengatakan pengelolaan pendidikan kita sangat kacau karena tidak jelas siapa penanggung jawab utamanya.

“Apa pun kebijakan yang dibuat Kemdibud sering mental,” tutupnya.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!