Pendidikan

Sekolah di AS Terapkan Hukuman Pakai Penggaris Kayu

EDUNEWS.ID – Hukuman fisik yang diterapkan guru pada siswa pelanggar aturan mungkin sudah jarang terdengar. Tak seperti dua puluh tahun lalu misalnya, hukuman fisik dianggap “wajar” sebagai bukti kedisiplinan.

Kini, guru yang menghukum siswa secara fisik justru timbulkan perkara. Mulai dari tuntutan orangtua hingga ancaman masuk penjara.

Namun, sebuah sekolah di kota Hephzibah, negara bagian Georgia, Amerika Serikat, mencoba menerapkan kembali kebijakan pemberian hukuman fisik pada siswa yang ketahuan melanggar aturan.

Melansir dari situs Sahabat Keluarga Kemendikbud, sekolah dasar Georgia School for Innovation and the Classics (GSIC) menganggap bahwa hukuman fisik kadang diperlukan untuk jenis pelanggaran tertentu.

Minta izin orangtua

“Di sekolah ini, kami menjalankan disiplin dengan sangat serius. Ada saat di mana hukuman fisik diperlukan,” ungkap Kepala Sekolah GSIC, Jody Boulineau.

Baca juga :  PPDB, Disdik Lakukan Pemantauan Secara Online

Walau begitu, pihak sekolah tak lantas memberikan hukuman fisik saat siswa tak disiplin melainkan akan lebih dulu mengirimkan formulir permintaan izin pada semua orangtua sebelum memberikan hukuman.

Formulir tidak hanya berisi tentang jenis pelanggaran siswa serta persetujuan orangtua.

Lebih jauh, dalam formulir itu juga dijelaskan langkah-langkah yang akan diambil sekolah dalam memberikan hukuman.

Tahapan pemberian hukuman

Prosesnya, siswa pelanggar aturan akan dibawa ke ruang hukuman.

Siswa meletakkan tangan mereka di atas lutut atau meja, lalu bokongnya akan dipukul dengan kayu sepanjang 24 inci, lebar enam inci dan tebal tiga perempat inci. Mirip seperti penggaris kayu yang digunakan di sekolah-sekolah.

Walau begitu, Boulineau menekankan bahwa hukuman ini baru akan diterapkan bila siswa sudah melanggar aturan sebanyak tiga kali. Hukuman pukulan pun diberikan paling banyak tiga kali.

Baca juga :  Pemerintah Pastikan Proses Belajar Mengajar di Daerah Terkena Bencana Tetap Berjalan

”Hukuman diberikan setelah pelanggaran ketiga yang dilakukan siswa. Pemukulan itu tidak boleh lebih dari tiga kali,” ujar Boulineau.

Tanggapan orangtua

Ragam tanggapan dilontarkan orangtua terkait kebijakan ini, seperti “Saya sudah mendengarnya,” lalu “Hebat, sudah waktunya, kami sangat senang bahwa ini terjadi lagi,” hingga “Ya ampun, saya tidak percaya sekolah melakukan itu.”

Menariknya, sekitar 100 orangtua yang anaknya tidak disiplin mengirimkan kembali formulir itu dan sepertiganya menyetujui kebijakan.

Boulineau menegaskan, orangtua memiliki hak untuk menolak kebijakan itu, yang artinya tidak memberikan izin ke sekolah untuk memukul anaknya. Sebagai kompensasi, siswa akan diskors paling lama lima hari.

Di Amerika Serikat sendiri hukuman fisik telah lama tak diperbolehkan. Namun, hukuman fisik itu kembali diberlakukan GSIC sejak tahun ajaran 2019.

Baca juga :  Kondisi Pendidikan di Daerah Masih Belum Penuhi Standar

 

 

kmp

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!