Pendidikan

Sekolah Lima Hari Minim Sosialisasi

 

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pengamat Pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah, Jejen Musfah mengungkapkan bahwa kelemahan utama dari kebijakan 5 hari sekolah adalah minimnya sosialisasi serta kebijakan yang dibuat tanpa melibatkan semua pihak.

“Kebijakan pendidikan harus selalu melibatkan dua pihak, Kemendikbud, maupun Kemenag,” katanya, Sabtu (12/8/2017).

Seharusnya, jika Kemendikbud memang ingin mengakomodir Madrasah Diniyah, solusinya adalah memasukkan jam berlangsungnya Madrasah Diniyah dalam 8 jam belajar yang dimandatkan dalam sehari. Kepala sekolah bisa memberikan perlakuan khusus agar siswa yang terlanjur masuk diniyah tidak terpaksa mundur .

“Seharusnya kepala sekolah punya data siapa saja muridnya yang masuk Diniyah, nanti diberi dispensasi,” katanya.

Menurut Jejen, petunjuk teknis pelaksanaan 5 hari sekolah harus benar-benar matang dibahas oleh kedua belah pihak serta tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat. Kasus banyaknya siswa Madrasah Diniyah yang mundur di beberapa daerah menurut Jejen menunjukkan bahwa peraturan belum tersosialisasi dengan baik.

 

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close