Pendidikan

Sex Education? ini Penjelasannya

SEMARANG, EDUNEWS.ID – Direktur Rutgers WPF Indonesia Monique Soesman mengingatkan pendidikan seksual yang diberikan kepada anak-anak dan remaja bukan sebatas pengetahuan.

“Pendidikan seksual yang diberikan harus mencakup pengetahuan, keterampilan (life skill), dan perilaku. Namanya pendidikan seksualitas komprehensif,” katanya di Semarang, Sabtu (17/12/2016).

Monique menjelaskan “sex education” yang selama ini berjalan masih menjadikan kesehatan reproduksi sebagai titik tolaknya, tetapi belum ada konsep pembangunan relasi setara pasangan.

“Bagaimana misalnya menolak ajakan (berhubungan seksual, red.) kalau belum siap, dan bagaimana konsep membangun keluarga berencana, mencegah kehamilan, belum ada,” katanya.

Sebab itu, kata dia, pendidikan seks yang diberikan harus komprehensif dan mencakup semuanya mengenai seksualitas sebab pengetahuan mengenai reproduksi saja tidaklah cukup.

Baca juga :  Pendidikan di Kaltim belum Merata

“Kami melakukan ‘roadshow’ di beberapa kota untuk mengkampanyekan pendidikan seksualitas komprehensif ini, seperti sudah di Bengkulu, Medan, Riau, kemudian menyusul Bali, dan Pontianak,” katanya.

Wakil Ketua Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Budi Wahyuni membenarkannya dan cara pandang pembuat kebijakan harus berubah mengenai pendidikan seksualitas.

“Selama cara pandang ‘policy makers’ tidak berubah, yakni memandang kawan-kawan usia di atas 18 tahun sebagai anak-anak, bukan remaja yang beranjak dewasa, ya, tetap saja sulit,” katanya.

Bahkan, kata dia, pendidikan seksualitas komprehensif justru dianggap mengajarkan orang untuk berhubungan seks atau kekhawatiran disalahgunakan sebab mereka dari kecil tidak melalui semacam itu.

“Mereka (policy makers-red) akan berpandangan, saya dahulu tidak melalui semacam itu (pendidikan seksualitas-red) dan bisa jadi begini, ‘kan susah. Cara pandang begini harus dibongkar,” tegasnya.

Baca juga :  Menteri Muhadjir Ingin Penyelenggaraan Pendidikan Gelorakan Semangat Berkesenian

Sementara itu, Direktur Eksekutif PKBI Jateng Elisabet S.A. Widowati menambahkan bahwsa pendidikan seksualitas komprehensif mencakup banyak hal, termasuk dorongan dan orientasi seksual hingga relasi gender.

“Persoalan-persoalan itu jarang dibahas dalam kesehatan reproduksi, padahal persoalan seksualitas banyak sekali. Makanya, dibutuhkan pendidikan seksualitas komprehensif yang menyeluruh,” ujarnya.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!