News

Siswa SD Diajari Identifikasi Masalah Kemiskinan Sejak Dini

EDUNEWS.ID – Persoalan kemiskinan bisa disebabkan berbagai faktor yang saling terkait. Hal itulah yang ingin digali siswa Kelas IV SDN 1 Purwojati, Jawa Tengah, saat guru mereka, Arifin Nur Hayadi mengajak mengidentifikasi permasalahan kemiskinan yang ada di lingkungan sekitar.

“Permasalahan sosial yang ada di sekitar harus diketahui oleh siswa sejak dini. Agar siswa bisa belajar dari fenomena permasalahan sosial tersebut tersebut sehingga bisa mengantisipasi agar tidak terjadi pada dirinya,” kata Arifin.

Melalui pembelajaran IPS ini, menurut Arifin, siswa juga bisa belajar mengatasi permasalahan yang ada dalam kehidupan sekitarnya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.

Mewawancarai warga

“Siswa saya tugaskan mengumpulkan berbagai macam informasi penyebab permasalahan kemiskinan di sekitarnya. Pemerolehan informasi diperoleh melalui kegiatan observasi dan wawancara,” kata Arifin lagi.

Baca juga :  JK Sebut Indonesia Kalah dari Thailand dari Sektor Ekspor Produk Otomotif

Pada kegiatan wawancara, siswa dibentuk dalam kelompok kecil. Mereka ditugaskan melakukan pengamatan dan mewawancarai keluarga yang masuk pada kriteria miskin.

Arifin yang juga fasilitator pembelajaran Program Pintar Tanoto Foundation menjelaskan siswa mengindentifikasi sendiri kriteria warga yang dianggap miskin.

Beberapa kriteria yang dibuat para siswa di antaranya rumah masih bilik, tidak memiliki pekarangan atau sawah, tidak memiliki motor, atau jika berbelanja sering berhutang.

“Dari beberapa kriteria miskin tersebut, siswa menunjuk tiga rumah warga, dan melakukan wawancara,” tuturnya.

Sebelum siswa melakukan kegiatan wawancara guru membagi lembar wawancara terlebih dahulu dan menjelaskan tata cara pengisiannya. Setelah itu siswa berlatih tentang sopan santun dalam berwawancara.

Baca juga :  Segera Ditandatangani Jokowi, Iuran BPJS Naik 100 Persen Berlaku 1 September

“Mereka berlatih menjadi pewawancara untuk mendapatkan informasi yang diperlukan.
Pertanyaan yang diajukan siswa terkait dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan, jumlah pendapatan perhari, sampai masalah yang dihadapi keluarga tersebut,” jelas Arifin lagi.

Advertisement

Ternyata siswa tidak mengalami masalah dalam berwawancara. Mereka bisa mendapatkan informasi diperlukan.

Kreasi ide pengentasan kemiskinan

Usai wawancara, siswa kembali ke sekolah. Mereka mendiskusikan dan membuat laporan hasil wawancara dan pengamatannya. Setelah selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil laporannya.

“Dari hasil wawancara kami mendapatkan informasi ijasah mereka ada yang SD dan SMP. Bayaran menjadi buruh juga tidak tentu tetapi keperluan banyak. Ada yang gara-gara berhutang pada bank tetapi tidak terbayar sehingga akhirnya hutang membengkak. Mereka tidak mampu membayar pinjaman. Jumlah anggota keluarga dalam satu rumah juga banyak,” tutur salah satu kelompok.

Dari hasil presentasi tersebut, guru menugaskan siswa di dalam kelompok membahas beberapa solusi yang harus dilakukan agar dirinya tidak terjerumus dalam kemiskinan.

“Kita harus berupaya sekolah yang tinggi, tidak hanya sampai SD atau SMP saja. Kita juga harus bekerja keras mencari pekerjaan yang layak. Tapi jangan bercita-cita menjadi buruh saja, kita berusaha menjadi bos. Mulai sekarang kita juga harus giat belajar dan selalu berdo’a untuk mendapat kehidupan yang baik,” ucap siswa pada saat presentasi.

Dari pembelajaran ini, siswa bisa mendapat pengalaman riil di lapangan. Mereka juga dilatih berpikir kritis siswa belajar mengatasi permasalahan di sekitarnya.

“Siswa Kelas IV juga tampak bahagia belajar langsung terjun ke masyarakat. Pada kegiatan refleksi pembelajaran, banyak yang menyampaikan pembelajaran ini mantul atau mantap betul,” ujar Arifin.

kmp

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com