Pendidikan

Tolak Imunisasi, Ponpes akan Dikenai Sanksi

 

 

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID – Lembaga pendidikan berbasis keagamaan atau pondok pesanten (ponpes) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menolak melaksanakan imunisasi Measles Rubella atau MR akan dikenai sanksi.

“Kalau mereka (ponpes) tidak menaati program pemerintah, apalagi imunisasi mempunyai tujuan memenuhi hajat hidup orang banyak, kami tidak akan memfasilitasi keberadaan ponpes itu,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY, Muhammad Lutfi Hamid, di Yogyakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Lutfi, sanksi yang disiapkan disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan. Meski demikian, apabila pondok pesantren tetap bersikeras menolak melaksanakan program pemerintah seperti imunisasi dan dinilai merugikan negara secara luas, Kemenag bisa memberikan sanksi hingga penutupan.

Baca juga :  Muhadjir Effendy Minta Kemenag Buka Pondok Pesantren

Sebelumnya, Kemenag DIY menyatakan ada empat lembaga pendidikan berbasis agama atau ponpes yang menolak imunisasi MR di Sleman dan Bantul. Namun demikian, setelah dilakukan peninjauan dan penyuluhan lapangan, hingga saat ini sudah tidak ada ponpes maupun sekolah berbasis keagamaan lainnya yang menolak mengadakan imunisasi MR.

Lutfi mengatakan untuk memastikan program pemerintah itu berjalan sesuai target, Kemenag DIY bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA), serta Dinas Kesehatan akan memberikan penyuluhan mengenai imunisasi MR ke seluruh lembaga pendidikan di bawah Kemenag.

“Jika masih ada kendala berbasis persoalan pemahaman keagamaan, tentu kami akan tindaklanjuti,” kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setianingastutie, menyebut penolakan imunisasi yang sebelumnya pernah terjadi itu sesungguhnya karena ada beberapa wali murid atau wali santri yang minim informasi mengenai imunisasi MR.

Baca juga :  Mendikbud Klaim Implementasi PPK tak Ubah Kurikulum

Kekhawatiran dari beberapa orang tua atau wali murid itu di antaranya mengenai kehalalan unsur kandungan yang ada pada vaksin imunisasi. Sebagian mereka juga ada yang mengira bahwa jarum suntik yang digunakan untuk imunisasi hanya satu untuk digunakan bersama-sama.

“Mereka masih menggeneralisasi bahwa seluruh vaksin imunisasi menggunakan bahan dengan kandungan enzim babi. Informasi keliru ini perlu diluruskan karena justru bahan pembuatan vaksin ini menggunakan media telur ayam,” kata Pembajun.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com