Pendidikan

USAID Prioritas Latih Guru Mengajar Pembelajaran Aktif

BANDUNG, EDUNEWS.ID – USAID Prioritas melatih para guru SD/MI dan SMP/MTs mengajar dengan pendekatan pembelajaran aktif. Dengan pembelajaran aktif, guru di antaranya dapat memperbaiki konsep dan memahami konten materi yang akan disampaikan kepada murid dengan lebih baik. Direktur Program USAID Prioritas Stuart Weston mengatakan, metodogi pembelajaran aktif terbagi dalam empat modul, yakni pembelajaran kontekstual, pendekatan saintifik, keterampilan informasi dan pemahaman konten materi.

USAID Prioritas telah mengembangkan metodologi tersebut di tujuh provinsi, yakni Aceh, Sumut, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan Sulawesi Selatan. Stuart menjelaskan, pelatihan modul I-III telah selesai. Dengan melibatkan 300 fasilitator dari 50 daerah, USAID Prioritas kini tengah melatih para guru di Karawang untuk penerapan modul IV.

Baca juga :  ‘Guru Dapat Dilindungi Jika..

“Modul IV ini lebih memfokuskan pada penguatan konten materi dan cara mengajarnya dengan pendekatan pembelajaran aktif,” kata Stuart, di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Ia menyakatan, modul IV ini melengkapi tiga modul sebelumnya yang sudah dilatihkan kepada lebih dari 30.000 SD/MI dan SMP/MTs. Untuk guru SD/MI ada tiga materi utama dalam pelatihan tersebut yaitu literasi, IPA, dan matematika, sedangkan untuk guru SMP/MTs, bahasa Indonesia, IPA, dan matematika. Penyusun modul IV ini melibatkan para dosen dari 16 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

“Pelibatan para dosen LPTK ini agar setelah program USAID Prioritas selesai, mereka dapat melanjutkan pengembangan modul pelatihan lainnya untuk guru yang lebih menekankan pada kegiatan praktik dan menggunakan pendekatan aktif,” kata Stuart.

Baca juga :  Ini Manfaat Orang Tua Menemani Anak Membaca Buku
Advertisement

Ia menyatakan, dari pelatihan modul IV ini terungkap ada miskonsepsi guru terhadap konsep materi pembelajaran, seperti pada matematika. Selama ini, ‘garis tinggi’ segitiga selalu digambarkan tegak. Garis tinggi didefinisikan sebagai garis yang ditarik dari titik sudut secara tegak lurus terhadap alas, dan alas selalu dianggap berada di bagian bawah segitiga dan horizontal. Akibatnya, siswa mengalami kesalahan dalam menentukan garis tinggi segitiga yang miring.

Padahal, alas itu lebih tepat digambarkan sebagai ‘sisi’ di hadapan titik sudut tersebut atau perpanjangan sisi tersebut dalam hal segitiga tumpul. Maka, garis tinggi segitiga tepatnya didefinisikan sebagai garis yang ditarik dari titik sudut tegak lurus terhadap sisi di hadapannya atau terhadap perpanjangan sisi tersebut.

“Bayangkan, miskonsepsi tentang garis tinggi segitiga semacam itu sudah berlangsung puluhan tahun dan ribuan anak selama ini mengalami kesulitan menentukan garis tinggi segitiga yang miring atau segitiga tumpul,” ujar Ujang Sukandi, Spesialis Pelatihan Guru USAID Prioritas.

[NHN/PR]

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com