Pendidikan

USBN SD Dipastikan Hanya untuk 3 Mata Pelajaran

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tiga mata pelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dirancang untuk merangsang murid berpikir kritis dan meningkatkan kompetensi guru dalam membuat soal yang memenuhi standar pendidikan nasional.

Mata pelajaran yang diujikan dalam USBN SD yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pasalnya, 75% butir soal USBN SD tidak lagi diserahkan kepada pemerintah daerah, tetapi dibuat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuturkan, jika kompetensi guru sudah meningkat, tidak menutup kemungkinan USBN SD pada tahun ajaran 2018/2019 akan menjadi 8 mata pelajaran.

Seperti halnya USBN untuk jenjang SMP/SMA/SMK sederajat. Menurut dia, dengan disertai soal berupa esai, murid akan belajar berpikir kritis. Varian soal USBN tidak hanya pilihan ganda seperti yang diterapkan dalan Ujian Sekolah (US) selama ini.

Ia menegaskan, 25% soal yang dibuat pemerintah akan menjadi jangkar agar mutu USBN bisa memenuhi standar kompetensi guru dan lulusan.

“USBN ini kami harapkan guru mengambil peranan kembali yang selama ini hilang. Dan tahun lalu sudah diadakan pelatihan membikin soal dan evaluasi. Jadi nanti tidak boleh lagi ada guru yang mengambil soal dari LKS atau lembaga bimbel. Guru harus membikin soal dan soalnya. Kemudian juga dibimbing agar lebih berkualitas. Jadi konteksnya untuk guru terkait USBN seperti itu,” kata Muhadjir di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (10/1/2018) malam.

USBN diklaim sebagai terobosan untuk menghadapi persaingan global. Muhadjir menyatakan, masyarakat jangan langsung menilai negatif program yang digulirkan pemerintah dalam menata pendidikan nasional. Menurut dia, perubahan sangat penting karena tuntutan zaman yang bergerak dinamis dan semakin kompetitif.

“Dunia ini terus berubah, makanya sekolah juga harus berubah. Jangan jadi orang yang antiperubahan agar tidak digilias oleh perubahan itu. Tanpa perubahan, kita tidak akan maju. Diam sudah pasti tidak akan maju, berubah juga belum tentu maju. Tetapi setidaknya dengan perubahan kita sudah berusaha untuk maju. Dan ini bukan ganti menteri ganti kebijakan, ini hanya policy assessment saja agar tujuan dari pendidikan nasional bisa tercapai,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad mengatakan, USBN SD bukan hal baru. Pemerintah sempat menerapkan UASBN pada 2008-2013,. Namun, guru tidak terlibat dalam pembuatan soal dan variannya tidak disertai esai.

Menurut dia, anggaran USBN sudah masuk dalam alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Kami akan pastian pencairan BOS berjalan tepat waktu agar tak menghambat persiapan USBN,” katanya.

SISWA kelas V SDN Kopo IV menggambar sketsa Gedung Sate, di Jln. Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (18/10). Kegiatan untuk mengisi program jeda atau sistem belajar di luar sekolah itu, dilakukan dengan mengunjungi Museum Geologi dan Gedung Sate.*

Pembeda

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan, yang membedakan USBN dengan US atau UASBN adalah varian soal esai. Menurut dia, komposisi soal bentuk esai maksimal 10% dari total butir soal.

Pembuatannya diserahkan kepada MGMP atau Kelompok Kerja Guru (KKG). Menurut dia, 25% soal jangkar dari pemerintah sepenuhnya berupa pilihan ganda.

“Jad kalau toal soalnya itu ada 40 butir, 10 butirnya sebagai soal jangkar dari kami. Soal esainya berarti tidak lebih dari 5 butir. Kenapa guru yang harus membuat soal, karena guru yang paling pas untu mengevaluasi murid. Bahwa anak itu diuji sesuai dengan sudah diajarkan. Dan dengan ikatan standar itu harapannya guru mengajarkan sesuai dengan standar nasional,” kata Totok.

Pelaksanaan USBN SD ini akan diterapkan pada tahun ajaran 2017/2018. Sebelumnya, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengusulkan agar USBN SD sama dengan SMP/SMA/SMK, yakni langsung untuk 8 mata pelajaran.

Namun, Kemendikbud tidak sepakat sehingga 5 mata pelajaran lainnya, yakni Agama, IPS, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Seni Budaya dan Prakarya, serta PKN cukup diujikan pada US. Pelaksanaan USBN bisa setelah atau sebelum US, diserahkan kepada kesiapan masing-masing sekolah.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!