Regulasi

Standarisasi Masuk Sekolah Berbeda, Orang Tua Siswa ini Curhat di Medsos

JAKARTA, EDUNEWS.id-— Perbedaan standarisasi nilai yang ditetapkan oleh sekolah negeri atau sekolah favorit di berbagai wilayah dan daerah di Indonesia menuai kritik dan tanda tanya bagi sebagian orang tua siswa.

Mereka menilai, perbedaan kebijakan di tiap sekolah yang ada saat ini dengan menggunakan standarisasi nilai minimal bagi siswa yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi adalah bentuk kebijakan yang diskriminatif dan terkesan mengabaikan keadilan bagi calon siswa.

Seperti yang disampaikan oleh salah satu orang tua murid dengan akun facebook Setiyo Widodo yang menceritakan pengalamannya saat ingin mendaftarkan anaknya di sekolah yang diinginkan oleh anaknya, berikut ‘curhatannya’ melalui statusnya di Facebook.

Baca juga :  Mahasiswa Meksiko Antusias Pelajari Budaya dan Sejarah Indonesia

“Anak saya Isaac sabtu 25 Juni 2016 kemaren menerima hasil nilai Ujian Nasional. Nilai Matematikanya 90, Bahasa Indonesia 90, dan IPA 85 (nilai ini lebih tinggi dari nilai UN SD saya dan Istri saya). Totalnya 265. Saya bersyukur karena ini adalah nilai murni (tanpa dibantu siapapunn saat Ujian),” tulisnya saat dikutip, Senin (26/6/2016).

Status yang ditulis pada Minggu (25/6/2016) ini mengungkapkan, meski secara umum nilai yang diperoleh oleh anaknya terlihat cukup siginifikan, namun di daerahnya nilai tersebut tidak memenuhi kriteria untuk masuk di sekolah tertentu.

“Meskipun lumayan tinggi nilainya bagi saya, tapi dikotaku nilai ini masuk kategori rendah karena sangat2 banyak yang nilainya jauh lebih tinggi (sebagian karena memang pintar, sebagian lain karena faktor X) dan nilai isaac belum tentu bisa diterima di SMP Negeri yang diinginkan Isaac (yang kelasnya menenengah, bukan terbaik). Karena tahun lalu jalur benar masuk SMP tersebut nilai UN terendah yang diterima 265 (sekali lagi jalur benar). Dan tahun ini katanya akan naik,” lanjutnya.

Baca juga :  Seleksi PPDB, MTsN 3 Jakarta Berbasis Komputer

Menurutnya, kondisi ini tentunya sangat tidak adil dan terkesan mengebiri kemampuan siswa. Ia beranggapan, mestinya sekolah tersebut menggunakan cara-cara yang lebih kompetitif, bukan dengan memberlakukan standar nilai yang justru menghalangi siswa untuk melanjutkan studinya.

“Coba kalau masuknya pakai tes pasti lebih enak.
Barusan saya telp kakak saya yang tinggal di Kecamatan Pardasuka, kab Pringsewu Lampung. Anaknya (keponakan saya) yang nilai total UN SDnya 260 (lebih rendah dari isaac) meraih Nilai
terbaik sekecamatan Pardasuka. Dan seperti kata kakak saya, dia tdk akan kesulitan masuk SMP Negeri Favorit di sana
,” bebernya.

“Aneh ya masih satu negara dansatu pulau bisa beda banget,” tutupnya.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!