Kesehatan

erikut Tips Jaga Kesehatan Lansia saat Berpuasa

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Berpuasa di bulan Ramadan merupakan salah satu kewajiban sekaligus ujian bagi seorang Muslim di seluruh dunia. Berbagai penelitian menunjukkan ibadah puasabisa membawa beragam manfaat yang bagi kesehatan.

Meski demikian, ada golongan yang mendapat keringanan untuk tidak menjalankan rukun islam yang keempat ini, salah satunya orang lanjut usia atau lansia. Mengingat, orang tua biasanya memiliki penyakit penyerta yang bisa saja berisiko pada kesehatannya bila memaksakan diri untuk berpuasa.

Menurut ahli gizi dikutip dari KhaleejTimes, puasa dapat menyebabkan kadar glukosa darah rendah, yang menyebabkan berkurangnya konsentrasi dan meningkatnya kelelahan, dan ini bisa berpengaruh pada kesehatan lansia.

Akan tetapi manfaat berpuasa jauh lebih besar. Apabila puasa dilakukan dengan benar, dapat meningkatkan kesehatan sistem pencernaan dan metabolisme secara keseluruhan.

Haruskah lansia berpuasa?

Lansia yang tak memiliki keluhan penyakit dan masih merasa sanggup sangat diperbolehkan menjalankan ibadah puasa. Bahkan beberapa sumber menyebut, lansa yang berpuasa dengan tetap mengonsumsi menu sehat dapat meningkatkan harapan hidup yang lebih tinggi.

Namun, lain halnya dengan lansia yang memiliki tubuh sangat kurus disertai dengan riwayat penyakit kronis tentu disarankan untuk tidak puasa.

Baca juga :  Cegah Covid 19, Dokter Spesialis 'Larang' Lansia Keluar Rumah Selama Normal Baru

Oleh karenanya, lansia dengan problem penyakit diabetes, hipertensi, tiroid atau penyakit degeneratif lainnya tentu harus berkonsultasi dengan dokter terkait kondisi kesehatan mereka sebelum melakukan puasa. Dengan kontrol dan pengawasan dokter, lansia mungkin saja dapat berpuasa dengan aman tanpa membahayakan keselamatan dirinya.

Kendala yang dihadapi lansia ketika puasa

Dehidrasi adalah salah satu masalah paling serius dihadapi lansia. Selain itu, mereka mungkin lebih sering mengeluhkan sakit kepala, terutama selama hari-hari pertama puasa. Ini wajar karena menurunnya kadar gula darah tubuh. Gejala ini seiring menghilang ketika tubuh sudah beradaptasi dengan puasa.

Inilah pentingnya mengonsultasikan pada dokter terkait kesehatan diri dengan puasa. Harus cermat membedakan antara sakit kepala akibat penyakit ataukah akibat dari puasa.

Tips puasa yang aman bagi lansia

Lansia yang tak punya hambatan problem kesehatan atau penyakit yang berarti tentu bisa menjalankan ibadah puasa dengan aman. Ada hal yang harus diketahui para lansia agar ibadah yang dilakukan ini tak membahayakan kesehatan sekaligus mendapat berkah dari Allah SWT.

Baca juga :  Hadapi Virus Corona, Menkes Terawan Sebut Indonesia Siaga Satu

Berikut 8 tips untuk para lansia agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan aman, dikutip dari berbagai sumber.

1. Jangan lewatkan sahur

Sahur itu penting bagi siapa pun yang menjalankan puasa, terlebih para lansia. Dengan sahur, energi akan tercukupi sehingga membuat tubuh lebih menahan puasa dalam jangka waktu yang lama.

Makanlah sahur secukupnya untuk mendapatkan sumber energi agar selotak dan saraf tetap aktif. Kurma juga bisa menjadi tambahan sumber energi yang ideal disantap saat sahur karena mengandung gula, serat, karbohidrat, kalium, dan magnesium yang sangat baik.

2. Perbanyak minum air putih

Dehidrasi adalah salah satu masalah paling serius dialami lansia akibat kurangnya minum selama berpuasa.

Persiapkan diri untuk menjalani puasa dengan minum banyak air putih, baik saat sahur maupun selama berbuka puasa. Jangan sampai lansia hanya minum ketika haus, karena haus adalah sinyal bahwa tubuh sudah mengalami dehidrasi.

Agar mencegah dehidrasi yang parah, usahakan hindari minum minuman yang mengandung kafein untuk memastikan tubuh mendapatkan sumber hidrasi terbaik.

Baca juga :  Kurang Tidur Bisa Bikin Berat Badan Naik

Tap berhati-hatilah dan jangan berlebihan minum terlalu banyak dalam satu waktu. Minum dalam jumlah banyak sekaligus dapat melarutkan elektrolit tubuh yang menyebabkan keracunan air.

3. Tips puasa untuk lansia adalah tidur cukup

Orang yang berpuasa biasanya mengeluhkan kurang tidur karena waktu tidur malamnya terpotong oleh aktivitas sahur. Kemudian, aktivitas tarawih dan berkumpul selama malam-malam Ramadan dapat menyita waktu istirahat.

Merujuk Sleep Foundation, dokter dan ilmuwan menyebut kurang tidur dapat memengaruhi kadar hormon dan kemampuan tubuh untuk mengatur dan memetabolisme glukosa. Itu berarti jika tak cukup tidur berisiko lebih tinggi mengalami kenaikan berat badan dan diabetes tipe 2.

Meski jam tidur berubah saat puasa Ramadan, pastikan lansia 65 tahun ke atas memiliki durasi tidur yang cukup 7-8 jam setiap malam. Bagi lansia, mengompensasi kurang tidur di malam hari dengan tidur siang adalah hal yang normal.

4. Perbanyak sayur, buah, dan protein

Dalam laporan Diabetes Care pada 2010, dokter dari berbagai institusi menyarankan saat berbuka puasa sebaiknya mengurangi asupan karbohidrat dan lemak.

Advertisement

Mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, terutama saat berbuka harus dihindari karena memperlambat kerja pencernaan dan penyerapan.

Sebaliknya, konsumsi karbohidrat dan serat nabati kompleks saat sahur saja untuk meningkatkan energi, mempertahankan rasa kenyang, meningkatkan fungsi usus, dan kadar lemak darah selama Ramadan.

Selain itu, lansia perlu mencukupi asupan vitamin, mineral, dan garam harian dengan banyak makan sayuran dan buah-buahan. Sayuran, buah, maupun protein dapat mencegah sembelit.

Lansia bisa mencoba variasi menu sahur dengan semangkuk oatmeal hangat yang ditambah dengan pisang, alpukat, kurma, kacang-kacangan, telur. Atau bisa juga semangkuk sup sayur dengan sepotong roti gandum, kurma, dan segelas susu atau smoothies buah.

5. Tetap aktif bergerak

Aktivitas fisik tak harus melakukan olahraga berat. Berjalan kaki setelah berbuka puasa dapat membantu mengaktifkan sirkulasi darah dan mengendurkan otot para lansia.

Jika biasanya berolahraga di pagi hari, tak ada salahnya beralih ke malam hari setelah atau menjelang berbuka puasa. Jangan memaksakan diri untuk melakukan aktivitas fisik yang berat di siang hari karena hanya akan mempercepat dehidrasi.

Berjalan kaki masih dianggap olahraga yang aman dilakukan lansia selama bulan Ramadhan, selama tubuh tidak kelelahan dan dehidrasi. Berdasarkan laporan Diabetes Care, penderita diabetes tipe 2 atau prediabetes sekalipun dianjurkan untuk melakukan olahraga ringan untuk mempertahankan massa otot.

6. Tidak makan berlebihan

Selama berat badan dalam kategori normal, hindari makan terlalu banyak dan kenyang saat sahur dan berbuka puasa. Perut akan lebih terasa nyaman dan kualitas tidur semakin baik jika mempertahankan makan dalam batas porsi normal selama bulan Ramadan.

Makan lebih sedikit juga bisa mencegah melonjaknya kadar gula darah setelah berbuka puasa. Sebaliknya, jika makan berlebihan, tentu bisa menimbulkan sembelit, mulas, atau gangguan pencernaan lainnya terutama di malam hari.

Makanlah dengan penuh kesadaran dan berhentilah sebelum benar-benar kenyang. Sebab tubuh perlu waktu sekitar 20 menit untuk memberi sinyal kenyang. Jadi jangan berlebihan saat menyantap hidangan buka puasa.

7. Rutin cek gula darah

Mengutip ScienceDirect, pada orang sehat, kadar glukosa darah secara otomatis dikendalikan oleh tubuh. Setelah makan, tubuh akan melepaskan insulin untuk menjaga kadar glukosa berada di kisaran normal.

Akan tetapi pada pengidap diabetes, kontrol otomatis kadar glukosa darah tak bekerja normal. Setelah makan, lansia yang mengidap diabetes akan sering mengalami peningkatan kadar glukosa darah dan bertahan dalam waktu lama. Ini tentu berbahaya dan bisa memunculkan komplikasi serius.

Selama puasa, gula darah diambil dari makanan yang dikonsumsi saat sahur dan oleh glikogen hati. Perubahan bisa berubah-ubah tergantung pada kualitas dan kuantitas makanan, aktivitas fisik dan olahraga, serta perubahan berat badan.

Karenanya, penting melakukan pengecekan gula darah secara rutin saat puasa dan setelah berbuka atau sahur. Pengecekan tersebut dapat dilakukan secara mandiri (self-monitored) yang berguna untuk memastikan kadar darah lansia berada di kisaran yang sehat.

8. Tahu batasan diri

Lansia perlu menyadari bahwa di usia keemasannya ini fisik menjadi lebih cepat lelah dan rentan terserang penyakit. Apabila di tengah puasanya mengeluhkan sakit, lebih baik ditunda dan dapatkan pengobatan sesegera mungkin.

Bagi para lansia yang tidak bisa puasa karena sakit, tetapi ada harapan akan pulih dan menjadi mampu berpuasa, bisa mengganti puasa di hari lain. Hal ini sesuai dengan Q.S. Al-Baqarah 2: 185. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka harus diganti di hari-hari lain dengan jumlah [hari tidak saum/berpuasa] yang sama.”

Sementara, jika lansia tidak bisa berpuasa dan tidak ada harapan untuk sembuh atau mengganti puasanya maka harus membayar fidyah atau memberi makan satu orang miskin per harinya.

Itulah 8 tips puasa untuk lansia yang bisa diterapkan agar menjalankan ibadah ini dengan lancar dan aman. Kuncinya, manfaatkan momen Ramadan dengan fokus beribadah dan memperbanyak amalan baik, namun tetap menjaga kesehatan dengan menerapkan gaya hidup sehat.

cnn

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com