Artikel

Ketulusan dan Kesederhanaan Baharuddin Lopa

Oleh: Ahmad M. Sewang*

INSPIRASI, EDUNEWS.ID – Sekitar empat dekade silam, tatkala Prof. Dr. Baharuddin Lopa, S.H. menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, di panggung hukum Indonesia geger oleh munculnya sosok Lopa yang jujur, sederhana, apa adanya, antikorupsi, dan nyali bak harimau. Ia tidak kenal warna abu-abu, sebab baginya warna itu hanya hitam dan putih, benar atau salah.

Ada banyak kisah tentang kejujuran, ketulusan, dan kesederhanaan mantan Jaksa Agung (2001) dan mantan Menteri Kehakiman (2001) ini. Ketika menjelang lebaran tiba, ia tegaskan kepada anak buahnya untuk tidak menerima parsel lebaran. Ia menggelar jumpa pers yang di antaranya mengumumkan, seluruh aparat kejaksaan Sulawesi Selatan tidak menerima hadiah dalam bentuk apa pun.

Namun, ketika tiba di rumah, ia melihat ada dua parsel di rumahnya. ”Eh, siapa yang kirim parsel ke sini?” ucap Lopa dengan raut masam. Seisi rumah bungkam karena tahu Lopa geram. Lopa kemudian sangat terkejut dan tersinggung ketika melihat salah satu parsel tersingkap 10 cm. ”Aduh, siapa yang membuka parsel ini?”

Seorang putrinya maju ke depan dan dengan jujur menyatakan dialah yang buka dan mengambil sebuah cokelat. ”Mohon maaf Ayah,” ujar anak perempuan itu. Lopa menghela napas, ia tidak bisa menerima kenyataan, tetapi tidak urung ia memperingatkan untuk tidak melakukan hal itu lagi.

Lopa lalu menyuruh putranya membeli cokelat dengan ukuran dan jenis yang sama. Cokelat itu dimasukkan ke bungkusan parsel dan segera dikembalikan kepada pengirimnya.

Saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, penulis berkunjung ke rumah jabatan beliau di Makassar. Di sana penulis menunggu di ruang tunggu dan duduk di bangku kayu cet putih yang sederhana. Dalam waktu yang sama banyak pejabat yang korup dan hasil korupsinya dipertontonkan dalam bentuk barang dan perabot rumah mewah. Kesederhanaan itulah yang membuatnya bernyali dalam pemberantasan korupsi.

Kisah ini adalah peristiwa nyata pada diri almarhum bukan sebuah khayalan. Peristiwa yang sungguh terjadi dan menginspirasi banyak orang dengan ekspektasi besar akan munculnya Lopa-lopa baru di kemudian hari. Sayang di antara mereka kemudian kecewa karena Lopa baru yang ditungu-tunggu tak kunjung lahir, sekalipun kepergian almarhum menghadap Yang Maha Kasih sudah lebih dua dekade.

Penulis berpendapat alangkah baiknya jika kita merenung sejenak dan bertanya dalam hati, “Kenapa begitu sulit melahirkan Lopa baru? Apa ada yang salah di negeri ini?” Sembari menungguh jawaban, kita pun perlu berdoa semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Sang Kekasihnya yang Abadi, Allah swt. sekaligus menaruh harap pada-Nya kiranya sesegera mungkin lahir Lopa baru yang sangat diperlukan di negara Indonesia tercinta ini. Jangan kami dibiarkan menunggu panjang atas munculnya Lopa-lopa baru.

Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Tidak banyak orang yang berani hidup sederhana di saat kemewahan melanda masyarakat. Karena itu, Lopa adalah manusia langka yang pernah dikaruniakan Allah swt. pada bangsa dan negara.
2. Hidup apa adanya dan ketulusan dalam bekerja, menjadi prisai bagi Barlop menghindari prilaku koruptif yang patut jadi teladan.

Wassalam
Polman, 6 September 2017

Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA. Ketua Umum DPP IMMIM Masa Amanah 2013-2018.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!