Featured

Mengenal Bang Ahmad Sahide

Oleh: Wira Prakasa Nurdia*

 

INSPIRASI, EDUNEWS.ID – Seorang ahli psikologi kenamaan, Gordon Allport berpendapat bahwa pemikiran pada suatu individu tidak bersifat independen (berdiri sendiri). Melainkan ada faktor pendukung eksternal, sub-sistem, yaitu lingkungan. Sementara George Kelly –ilmuwan dalam disiplin ilmu yang sama- melihat terbentuknya kepribadian/pemikiran sebagai fenomena dialektika psikologis, ia sewaktu-waktu bisa berubah, fleksibel dan lentur. Namun pendapat yang terakhir ini bisa berhasil terwujud tergantung pada seberapa kaya pengalaman yang digali oleh “si-empunya badan”. Terlepas dari itu, kedua pola siklus menurut ahli psikologi di atas sudah cukup menggambarkan rute pengalaman pemikiran saya mengenai diri saya sendiri dan faktor eksternal yang memengaruhinya.

Faktor eksternal tersebut bukanlah sub-sistem, melainkan individu. Namanya Ahmad Sahide, familier dengan sebutan/panggilan Bang Ahmad. Umurnya sudah kepala tiga. Perawakannya kurus dan tak begitu tinggi, kulitnya putih. Bentuk fisiknya tak menggambarkan usianya, ia masih seperti usia muda. Ia merupakan putra asli Bulukumba, Sulawesi Selatan. Namun hampir separuh dari perjalanan hidupnya dilakoninya di Yogyakarta. Bagi saya, ia sosok yang paripurna dan cocok dijadikan panutan. Betapa tidak, saya sendiri bingung dengan identitasnya, ia pernah menjadi aktivis mahasiswa dan dicalonkan menjadi kandidat kuat pucuk pimpinan organisasi besar mahasiswa. Di sisi lain ia juga seorang akademisi yang tidak tanggung: menggondol gelar Doktor di usia yang relatif muda, keuletannya tersebut kini mengantarkannya menjadi dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia pun juga seorang penulis produktif yang buah pemikirannya berseliweran di media lokal-nasional.

Bang Ahmad sosok yang bersahaja, ia akrab dengan siapa saja: golongan tua maupun muda. Ia punya banyak yunior yang dibangun dari relasinya ketika menjadi seorang aktivis. Para yuniornya akrab memanggilnya Kanda Ahmad. Saya sendiri sering kali dan lebih suka menyapanya dengan sebutan Bang Ahmad. Kedua-duanya tak menjadi masalah, sematan “Bang” atau “Kanda” di depan namanya adalah ciri khas kebudayaan Timur, yang bermaksud untuk menghormati orang yang lebih tua. Namun bagi saya penggunaan frase “Bang” bukanlah bertujuan demikian. Melainkan ada faktor lain, yakni ilmu pengetahuan dan kesudiannya untuk berbagi. Jarang ada orang yang “sedermawan” dirinya untuk tidak pelit berbagi ilmu pengetahuan. Kalaupun ada, itupun paling bersifat temporer, tidak konstan dan tak membutuhkan pengorbanan yang berlebih. Bagi saya pada titik ini, barangkali ia juga bisa disebut sebagai relawan.

Baca juga :  Jepang Tawarkan Beasiswa Kuliah Bagi Lulusan SMA

Bang Ahmad Sahide, sependek pengamatan pribadi saya adalah orang yang dengan wawasan luas, ilmu pengetahuan apapun diserapnya, termasuk di antaranya adalah sastra, yang jika diurai sebetulnya tak ada sangkut-pautnya dengan disiplin ilmu yang digelutinya. Saya juga tak mengerti dari mana ketertarikannya pada bidang “abstrak” tersebut. Bagi saya (dulu) disiplin ilmu tersebut tidak mempunyai dampak apapun di masyarakat, selain hanya estetika semu dan cuma bersifat inter dan intrapersonal. Kebetulan sikap apatis terhadap sastra tersebut saya peroleh dari didikan himpunan yang mengharuskan kami berpikir secara rigid dan textbook. Di himpunan kami, tradisi literasi bersifat ajek, karena referensi bacaan terbatas (tidak dalam artian literal), dan dibatasi hanya pada bidang tertentu. Tak ada celah untuk disiplin ilmu lain, termasuk sastra. Kami dididik oleh senior dengan pola top to down, konstruktif. Dari Bang Ahmad, wawasan saya cukup terbuka, tak ada paksaan, ia hanya merekomendasikan tetapi itu sudah cukup membekas dan memotivasi saya secara pribadi.

Ada tabir lain yang ternyata tidak saya tangkap dan sadari setelah perkenalan dan belajar darinya. Dulu saya pikir yang ada di himpunan itu adalah sebenar-benarnya ilmu. Tradisi di himpunan kami memang menekankan pentingnya tradisi literasi, terutama membaca. Hanya membaca. Kami tak familier dengan kewajiban untuk meng-create sesuatu dari bahan bacaan, tentu yang saya maksud di sini adalah menulis. Kosa-kata “menulis” tak kami kenal di lingkungan komisariat. Setelah membaca biasanya kami berdiskusi dan tak jarang berdebat. Setelah itu berangsur sepi. Tak ada inisiatif untuk mendokumentasikan apa yang kami perdebatkan dalam bentuk tulisan. Jujur saja, saya jenuh dengan aktivitas tersebut, buku yang saya konsumsi dalam beberapa hari hanya habis dalam perdebatan beberapa jam. Dampak dari minimnya tradisi menulis amat dirasakan terutama ketika salah seorang kader senior ingin melanjutkan pada jenjang perkaderan tingkat dua, di mana salah satu persyaratannya adalah pembuatan karya ilmiah dalam bentuk makalah seminim-minimnya enam lembar. Untuk melangkahi lembar pertama saja, ia harus membutuhkan waktu lebih-kurang empat jam. Itupun sampai keringat bercucuran sebesar biji jagung. Tentu pengalaman di atas tidak bermaksud untuk mengerdilkan komisariat saya sendiri. Tetapi itulah fakta dan realitanya. Dan saya kira, itu tidak hanya terjadi di lingkungan himpunan saya, tetapi problem besar bangsa ini.

Baca juga :  Rumah Tangga

Berkenalan dengan Bang Ahmad saya cukup banyak mendapat oase baru dan terbarukan. Saya masih ingat ketika ia merekomendasikan tokoh wartawan senior, Goenawan Mohammad sebagai pijakan saya untuk belajar menulis esai. Sebelumnya nama tersebut terasa asing di telinga saya, kini saya sudah banyak membaca karya-karyanya, dari yang klasik sampai kontemporer. Selain itu, rujukan literasi lain adalah Harian Kompas. Tentu yang terakhir ini bukan tanpa alasan, saya tahu kalau disiplin diksi dalam menulis yang diterapkan di Komunitas Belajar Menulis (KBM), –komunitas yang dirintisnya sejak lama- itu adalah Kompas. Namun faktor yang paling substansial adalah sistematika menulis dan bagaimana alurnya dapat ditangkap dan dirasakan oleh pembaca. Percuma kita menulis panjang-lebar mengenai suatu fenomena atau kasus, tetapi tidak dimengerti oleh khalayak.

Baca juga :  Terinspirasi Hasil Riset S3, Wanita ini Dirikan Sekolah Komunitas Perbatasan

Dari berbagai rekomendasi dan motivasi ihwal literasi yang diberikan oleh Bang Ahmad, wawasan saya kini cenderung lebih terbuka dan selalu skeptis terhadap berbagai hal. Dari situ saya menemukan rantai ilmu pengetahuan yang ternyata begitu rupa dan saling-berkaitan; dari Goenawan Mohamad saya mengenal pengamat seni rupa Nirwan Dewanto, atau pemikir keislaman macam Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie, Coel Husain Pontoh, Rizal Mallarangeng sampai novelis Dee Lestari, yang juga dikagumi Bang Ahmad. Sebelumnya nama-nama tersebut terasa asing. Kini saya akrab melahap magnum opus mereka.

Satu hal yang pasti, Bang Ahmad adalah orang yang demokratis. Saya berkali-kali membawa beberapa tulisan yang terkesan tidak umum, dan sangat ideologis. Meskipun kadang kawan-kawan lain berkomentar dengan “nada miring” terkait konten tulisan, tetapi beliau tidak pernah protes dan membatasi. Beliau setali dengan Mustofa Bisri (Gus Mus), terkait ilmu pengetahuan. Belajar dan terus belajar itulah message point-nya. Saya kira pola yang diterapkan oleh dua pengamat psikologi di awal pembuka tulisan ini sudah klop dengan pola perjalanan pemikiran saya. Berkenalan dengan Bang Ahmad Sahide, saya merasa sangat bodoh, betapa sedikit saya mereguk ilmu selama ini. Last but not least, saya hanya berharap beliau masih memegang utuh statusnya sebagai lone wolf, seorang jomblowan yang produktif dan inspiratif. Semoga saja status tersebut bertahan lama, supaya saya masih bisa mereguk ilmu darinya. Salam damai Bang Ahmad.

 

Wira Prakasa Nurdia. Mahasiswa Universitas Ahmad dahlan (UAD), Pegiatan Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!