ABDULLAH HEHAMAHUA

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Integritas (6)

Oleh : Dr H Abdullah Hehamahua SH MM*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Secara metodologi, pendidikan remaja, berbeda dengan apa yang dilakukan terhadap kanak-kanak. Pada usia remaja, anak berada di simpang jalan. Mereka berada pada masa transisi, baik secara pisik maupun psikologi. Olehnya, kesalahan bentuk, jenis, dan metode komunikasi yang diterapkan, berdampak jauh, baik terhadap dirinya, orang tua, masyarakat, maupun bangsa dan negara.

Ketika usia SD, anak cenderung meminta tolong, bertanya, berlindung, dan menurut perintah orang tua. Pada usia remaja, anak cenderung meminta tolong, bertanya, bahkan berlindung ke orang lain, baik ke teman, abang/kakak, pacar atau seseorang yang diidolakan. Sebab, anak mulai mengembangkan potensi dirinya.

Olehnya, orang tua harus memiliki pengetahuan psikologi pendidikan dan parenting agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar dengan anak. Dengan demikian, orang tua dapat membantu anak menjadi seorang yang berintegritas, pribadi yang: berperilaku jujur; konsisten; komitmen, objektif, berani mengambil putusan dan siap menerima risiko, serta disiplin dan bertanggung jawab.

Baca juga :  Anak Patuh atau Anak Kritis?

Anak Sebagai Mitra Orang Tua
Sebagai mitra, anak tidak boleh dianggap sebagai bawahan atau anak kecil yang disuruh-suruh, dimarahi, bahkan dipukul. Sebagai mitra, anak dijadikan kawan bicara dan wadah saling bertukar pengalaman. Anak mungkin menceriterakan pengalaman ketika mulai “naksir” lawan jenisnya. Orang tua pun menceritakan peng-alaman pertama ketika jatuh cinta.

Ketika dialog tersebut, ayah atau ibu melakukan transformasi nilai-nilai positif ke anaknya. Ayah dan ibu menceriterakan pengalaman, mengapa mereka menjatuhkan pilihan ke pasangan yang sekarang menjadi ayah atau ibunya.

Bagi muslim/muslimah, ayah atau ibu menyampaikan hadis Nabi Muhammad tentang kualifikasi se-seorang dipilih jadi pasangan hidup: kecantikan/kegantengan, kebangsawanan, kekayaan, dan agama.

Barangsiapa yang memilih karena agama, akan memeroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagi orang nasrani, tentu ucapan Nabi Isa yang disampaikan ke anak. Begitu pula orang tua yang beragama lain. Satu hal yang harus diperhatikan ayah atau ibu pada tahap kemitraan ini, transformasi nilai tidak boleh dengan pendekatan formal instruktif. Lakukan hal itu dalam keadaan santai, bergurau atau bermain bersama.

Baca juga :  KPK SP2 Novel Baswedan

Berikut ini disampaikan beberapa bentuk kemitraan:

1. Mengemas Rumah
Pada hari libur, ayah, ibu, dan anak-anak bersama-sama mengemas rumah. Ayah mengepel lantai, anak lelaki melap kaca jendela, ibu mengemas dapur, dan anak perempuan mencuci piring dan gelas.

Sambil ngepel, ayah memberitahu, pentingnya rumah yang bersih. Rumah yang bersih menghasilkan sirkulasi udara yang bersih, maka badan pun sehat dan otak semakin cerdas. Perabot rumah dirawat dengan baik agar terjadi efisiensi dan penghematan keuangan keluarga. Massage yang mau ditransformasi ayah ke anak: Ketika menjadi karyawan atau pejabat, anak tidak meyalahgunakan jabatan, kewenangan, dan kesempatan yang ada untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, kawan-kawan sekampung, seal-mamater, seormas atau separpol.

Di dapur, sambil memberihkan kamar mandi, ibu menjelaskan ke anak pe-rempuan, betapa pentingnya toilet yang bersih dan air di bak mandi yang bebas dari telur nyamuk. Ibu pun menjelaskan, dengan kamar mandi yang bersih, sua-sana hati ceriah, tubuh menjadi bersih, maka anak akan mengerti, mengapa di sekolah guru mengajarkan, mensano in corporesano (dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat).

Baca juga :  Etnis Bugis di Perantauan

Seorang ibu muslimah tidak lupa mengajarkan, anak harus melangkahkan kaki kiri ketika memasuki toilet sambil membaca doa. Sesudah buang hajat besar atau kecil, membaca doa. Ketika mau keluar, langkahkan kaki kanan sambil membaca doa.

Ketika membasuh piring mangkok, ibu menyampaikan pesan Nabi Muham-mad: “anak perempuan diajarkan menjahid dan memasak.” Massage yang mau diwariskan ke anak: Ke puncak kejayaan apa pun, sejauh mana pun perjalanan karier, fitrah perempuan adalah menjadi isteri dan ibu. Dialah tiang masyarakat, bangsa, dan negara.

2. Memasak
Kerukunan rumah tangga dapat ditampilkan dalam kegiatan masak bersama. Ayah dan anak lelaki menyediakan bahan-bahan yang akan dimasak. Misalnya mengupas kentang, parut kelapa, mengupas bawang, dan memotong cili. Anak perempuan menggiling cabe dan membersihkan beras.

Advertisement

Setelah semua bahan siap, ibulah yang memasaknya.Ketika masakan sudah selesai, anak perempuan mema-sukannya ke dalam piring atau mangkok. Anak lelaki meletakkan makanan di atas meja sedangkan ayah menyediakan minuman. Sebelum memulai, ayah memimpin doa makan. Pada waktu lain, anak diberi tugas membaca doa makan secara ber-gantian, dimulai dari anak tertua sampai yang terkecil.

Di meja makan, ayah atau ibu mengtransformasi nilai kesehatan dan akhlak makan minum yang diajarkan para nabi, antara lain: (a) Makan dan minum hendaknya menggunakan tangan kanan, tanpa sendok dan garpu; (b) Mulailah dengan meminum segelas air putih; (c) Makan buah terlebih dahulu baru mengkonsumsi nasi dengan sayur dan lauk lainnya; (d) Janganlah makan sampai bertahak karena hal itu bertentangan dengan amalan nabi. Sebab kata nabi, isi lambung itu tiga bagian: nasi dan lauk pauk; air, dan udara. Bertahak adalah bunyi yang disebabkan udara yang di dalam lambung ke luar akibat kepenuhan.

3. Membersihkan Halaman Rumah
Ketika membersihkan halaman, ayah mengajak anak lelaki membuang sam-pah yang ada di got. Ayah menjelaskan, salah satu sebab banjir, warga membuang sampah ke sungai atau got. Massage yang mau disampaikan ayah ke anak: Ketika menjadi pejabat, jangan memberi ijin untuk membangun bangunan di kawasan hijau. Jangan membangun rumah atau perkantoran terlalu dekat dengan sungai.

Ibu mengajak anak perempuan menanam tanaman bunga. Jika tidak ada lahan kosong, gunakan pot. Massage yang mau disampaikan: Polusi, kemarau panjang, banjir, dan tanah longsor disebabkan rumah tanpa halaman hijau.

4. Berbelanja ke Pasar
Hari libur, ayah dan ibu mengajak anak belanja ke pasar tradisional, bukan di supermarket. Massage yang mau disampaikan: Pasar tradisional, milik pribumi, rakyat biasa, bukan keluarga pejabat, konglomerat, apalagi orang asing. Jika ingin memajukan pertanian rakyat yang gilirannya meningkatkan kesejah-teraan petani, belanjalah di pasar tradisional. Selama di pasar, anak perempuan memilih beras, sayur, buah atau ikan yang mau dibeli. Massage yang mau disam-paikan: Belanja, tidak boros, tetapi mendapatkan bahan makanan yang sehat dan bergizi.

5. Olahraga Bersama
Hari libur, ayah, ibu, dan anak-anak berolahraga bersama. Sambil jogging, ba-pak atau ibu mengisahkan, jalan kaki itu sehat, setidaknya stengah jam sehari. Massage yang mau disampaikan: Kalau menjadi karyawan, gunakan kenderaan umum. Selain mengurangi polusi dan kepadatan jalan, karyawan berjalan kaki dari halte bus atau stasium kereta api ke kantor. Itulah jogging hariannya. Di peka-rangan, ayah, ibu, dan anak bermain bulu tangkis. Targetnya: subur sikap keber-samaan, kasih sayang, dan kejujuran di antara sesama anggota keluarga.

6. Pendelegasian Wewenang
Hari libur, Ibu misalnya mendelegasikan anak perempuan membuat nasi go-reng untuk sarapan. Ibu juga bisa mendelegasikan anak perempuan untuk men-jaga dan mengurus adik-adiknya selama ibu dan ayah tidak ada di rumah. Ketika hujan lebat, ayah meminta anak lelaki menjadi imam shalat subuh berjamaah di rumah Massage yang mau disampaikan: Jika diberi tugas di kantor atau oleh ma-syarakat, harus menjadi pejabat yang amanah, yakni: ketika bicara, tidak bohong, berjanji, ditepati, dan kalau diberi kepercayaan, tidak khianat.

7. Piknik Keluarga
Sesekali, ayah, ibu, dan anak-anak piknik bersama. Tempat piknik harus sesuai dengan tujuan pembentukan integritas: Ada nilai sejarah, lingkungan hidup yang sehat dan serba hijau serta jauh dari kebisingan kota. Massage yang mau disampaikan ke anak: Hargai jasa-jasa pendahulu; memelihara kelestarian alam; serta menyediakan sarana hiburan yang murah, sehat, dan bermoral bagi rakyat.

Mereka yang mau anaknya berintegritas, jadikanlah anak-anak remaja sebagai mitra. Ajak mereka bersama-sama mengemas rumah, membersihkan halaman, memasak, berolahraga, dan piknik bersama.

Dr H Abdullah Hehamahua SH MH, Penasehat KPK Periode 2005-2013.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com