ABDULLAH HEHAMAHUA

Penyiangan Integritas (1)

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Tanaman, selain bibit unggul, lahan subur, dan pemupukan secara regular, diperlukan pula proses penyiangan. Penyiangan adalah proses membersihkan atau mencabut rumput dan tanaman lain yang tumbuh di sekitar tanaman peliharaan. Sebab, biasanya ada yang tidak dikehendaki, tumbuh di sekitar tanaman peliharaan.

Tanaman pengganggu itu antara lain ilalang, duit-duitan, dan benalu. Selain mengambil jatah makanan, tanaman pengganggu juga menghambat pertumbuhan tanaman peliharaan. Demikian pula halnya dengan integritas seseorang yang dapat merosot karena pengaruh lingkungan, baik pengaruh internal maupun eksternal.

Pengaruh internal dapat berupa makanan dan minuman yang dikonsumsi, prasarana yang dimiliki (rumah, kebun, sawah), sarana yang digunakan (transpor-tasi, saham, tabungan, dan perabot rumah) serta perilaku sehari-hari. Pengaruh eksternal dapat berasal dari tetangga, kawan, dan jenis pekerjaan.

Olehnya, berikut ini dikomunikasikan beberapa tips dalam menyiangi integritas, antara lain:
1. Menghindari Makanan dan Minuman Haram
Terkadang masyarakat kaget, ada pemimpin, tokoh, aktivis, akademisi, bahkan pemimpin agama, terlibat korupsi. Tidak disadari, makanan dan minuman haram yang dikonsumsi, merupakan salah satu penyebabnya. Sebab, makanan dan mi-numan haram yang dikonsumsi, semua shalat dan doa, tidak diterima Allah swt.

Apalagi jika diperhatikan, para anggota legislatif, eksekutif, yudikatif, dan PNS sekarang, sebagiannya keturunan PNS, Pejabat, dan pengusaha yang pada masa orde baru, ada yang terlibat KKN. Jadi anak-anak mereka mewarisi gen KKN. Dengan demikian, sekalipun berstatus pemimpin, tokoh, aktivis, akademisi, bahkan pemimpin agama, terlibat dalam tindak pidana, termasuk korupsi.

Teringat, ketika menjadi narasumber dalam salah satu workshop di Banda Aceh, seorang peserta menanyakan, mengapa seorang hafidz Qur’an, bisa korup-si. Jujur, waktu itu, saya agak bingung menjawabnya. Tetapi, seperti memeroleh hidayah, saya mengisahkan pengalaman di Singapura: Ketika melewati pintu pagar sebuah rumah di kawasan Jalan Selamat, Singapura, terdengar salam dari dalam rumah. Namun, tidak nampak seorang pun. Disebabkan lapar, saya melanjutkan perjalanan menuju warteg, tempat saya biasa makan, sehabis mengajar. Ketika kembali, terdengar lagi suara salam tersebut. Penasaran, saya berhenti, memer-hatikan jendela, pintu, dan pekarangan rumah itu. Tidak ada seorang pun di situ.

“Ada apa pakcik,” tegur seorang pemuda dalam bahasa Melayu. Saya mengisahkan apa yang terjadi. “Oh, penghuni rumah ini, orang Melayu. Semua tamunya, orang Melayu. Setiap tamu yang datang mengucapkan salam,” jelas pemuda itu. Tetapi, apa hubungannya dengan salam yang saya dengar tadi, batinku. “Dia me-melihara seekor burung nuri,” lanjutnya. “Disebabkan, pagi, petang, dan malam, ia mendengar salam, maka burung nuri itu bisa mengucapkan salam, setiap ia tau ada yang melewati pintu pagar ini.”

Berdasarkan pengalaman di Singapura itu, saya menjawab pertanyaan peserta workshop tadi: “Dalam Islam, status seorang hafidz, sangat mulia. Tetapi, jika tidak mengamalkan apa yang dihafadz tersebut, apa bedanya dengan burung nuri yang juga dapat mengucapkan salam.?”

Kesimpulannya, apa yang diketahui, baik melalui pengajaran orang tua di rumah, pendidikan formal di sekolah maupun informasi dan peraturan di kantor, semuanya tidak bermanfaat, jika tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Olehnya, agar integritas tetap terpelihara dan berbuah kinerja yang optimal, vertikal maupun horizontal, seringlah menyiangi rumput atau benalu yang ada di hati dan persekitaran kita. Salah satunya, jangan mengonsumsi makanan dan minuman ha-ram, termasuk penghasilan yang diperoleh secara tidak halal.

2. Hindari Lingkungan Kumuh
Tergolong ilalang atau benalu yang mengganggu integritas seseorang adalah lingkungan yang kumuh. Kumuh di sini tidak sekedar dalam pengertian harfiah: tempat yang kotor, jorok, dan padat. Ia meliputi penghuni yang tidak sopan, penju-di, pemabuk, pemakai narkoba, preman, atau sekuler. Apalagi tidak taat melak-sanakan kewajiban agama, seperti shalat, shaum, dan membayar zakat (orang Islam). Olehnya, beberapa kiat menghindari lingkungan yang “kumuh” adalah:

a. Mencari pasangan yang saleh/salehah
Pasangan yang saleh/salehah adalah suami atau isteri yang taat asas terhadap semua ketentuan yang ada, baik menurut ajaran agama maupun peraturan perundang-undangan (sepenjang peraturan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama).

Pasangan yang saleh/salehah adalah mereka yang tidak mau diberi makanan dan minuman yang berasal dari sumber atau cara yang tidak halal. Olehnya, mereka selalu mengingatkan pasangannya agar tidak berbuat curang.

Dalam kontek ini, ketika merestui pernikahan anak-anaknya, orang tua harus pastikan, calon mantu adalah seorang yang saleh/salehah. Sebab, selain anak dan cucu akan memeroleh dampak negatif, orang tua pun terkena imbas dari perilaku mantu yang tidak saleh/salehah tersebut.

b. Bekerja di Kantor/Perusahaan yang Benar.
Bentuk Ilalang atau benalu lain yang akan menggerus integritas adalah tempat kerja.Jika kantor/perusahaan tempat kerja, kegiatannya, berten-tangan dengan ajaran agama, maka gaji yang diterima, terkategori haram.

Dengan sendirinya, semua yang dibeli dengan gaji yang haram, merusak integritas anak, isteri, suami atau orang tua/mertua. Olehnya, pilihlah kantor atau pekerjaan yang aktivitasnya halal sekalipun gajinya, pas-pasan.

c. Tinggal di Perkampungan Sakinah
“Masuk kandang kambing, mengembek, masuk kandang harimau, mengaum.” Maksud pepatah ini, kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita tinggal. Masalahnya, kalau seluruh atau sebagian penduduk kampung adalah parampok, pencuri, pembunuh, pemabok, pemerkosa atau preman, apakah kita juga harus mengikuti pola hidup seperti mereka?

Daripada berdebat kusir yang tak kunjung selesai, ikuti adagium lain: “Mencegah lebih baik dari mengobati.” Dalam kontek ini, cari rumah atau kawasan yang kondusif bagi terpeliharanya integritas daripada rumah atau lingkungan yang secara sadar atau tidak, menggerus perilaku kita.

Artinya, pilihlah tetangga yang sama-sama orang saleha/salehah. Dengan demikian, kita akan terdorong menjadi orang saleh/salehah, jika kita masih kurang berintegritas. Namun, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati!!!

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close