ABDULLAH HEHAMAHUA

Penyiangan Integritas (3)

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Pengalaman lebih 4 tahun di KPKPN dan lebih 8 tahun di KPK, saya mene-mukan, sebagian di antara mereka yang ditangkap, tidak menyadari, apa yang dila-kukan, terkategori korupsi. Misalnya menerima hadiah atau parsel, baik dari mitra kerja, bawahan, atau pengusaha. Sebab, hadiah atau parsel sudah menjadi tradisi di masyarakat. Padahal, perbuatan itu dapat menggerus integritas. Sebab, menurut Nabi Muhammad saw, “pejabat yang menerima hadiah, sama dengan mencuri.”

Hadiah yang diperoleh (kenderaan, rumah atau lahan) merupakan salah satu sarana atau prasana untuk mendatangkan penghasilan pribadi. Uang yang diperoleh sebagai hasil dari hadiah tersebut digunakan untuk membeli makanan dan minum-an, baik untuk diri sendiri maupun anggota keluarga.

Dengan sendirinya, bagi umat Islam, shalat, shaum, zakat, dan hajinya, tertolak. Sebab, ibadah dengan sumber da-na yang haram, tertolak. Di sinilah terjadi proses penggerusan integritas. Tiba-tiba, ada tokoh, aktivis, akademisi, bahkan pemimpin agama, ditangkap. Olehnya dalam upaya membersihkan pohon integritas yang ada di diri kita, berikut dikomunikasikan bentuk korupsi yang dilarang ajaran agama, baik Islam maupun Kristen.

1. Suap menyuap, sesuai dengan ayat Alquran, Al-Hadis, dan atsar sahabat:
a. Dan janganlah kamu makan harta (orang-orang yang di antara) kamu de-ngan (jalan) tidak betul, dan (janganlah) kamu bawa (urusan harta) itu kepada Hakim-Hakim dengan maksud kamu hendak memakan sebahagian dari-pada harta orang (lain) dengan (jalan) dosa, padahal kamu tahu (Q.S.2:188).
b. Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” (HR Imam Ahmad)
c. Rasulullah saw melaknat pemberi suap, penerima suap, dan mediatornya (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
d. Dari Buraidah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa yang kami beri tugas akan suatu jabatan dan kami memberinya rezeki (gaji), ma-ka apa-apa yang diambilnya selain itu (gaji) berarti kecurangan.”
e. Rasulullah saw mengutus Abdullah bin Rawahah untuk mengunjungi kaum Yahudi dengan tujuan mengambil pajak hasil tanaman kurma. Namun, kaum Yahudi membangkang dan malah memberi sedikit uang kepada Abdullah bin Rawahah sebagai suap. Maka dia menjawab: “adapun apa-apa yang kamu tawarkan berupa suap, maka seungguhnya itu adalah makanan ha-ram. Kami tidak akan memakannya.” (H.R. Malik).
f. Umar ibnu Khattab menulis surat ke para pegawai: “Jauhkanlah segala ma-cam hadiah karena sesungguhnya hadiah itu termasuk suap.”

2. Hadiah, sesuai dengan hadis:
a. Seorang petugas pemungut zakat melapor ke Rasulullah saw tentang hasil pungutan zakat yang dilakukannya sambil menambahkan, dia mendapat ha-diah dari salah seorang wajib zakat. Berkata Rasulullah: Apakah jika engkau duduk-duduk di rumah orang tuamu, hadiah itu akan datang kepadamu?
b. Hadiah-hadiah (yang diterima) para pejabat adalah (sama dengan) hasil curian (HR Al Baihaqi);
c. Dari Ali bin Abu Thalib, bahwa Nabi SAW bersabda: “Pejabat mengambil ha-diah berarti memakan harta haram dan Hakim menerima suap berarti kufur.”
d. Dari Usamah bin Malik bahwa Rasulullah bersabda : Hadiah itu dapat meng-hilangkan pendengaran, menutup hati, dan penglihatan.

3. Penggelapan, sesuai dengan hadis:
Ibnu Abbas meriwayatkan, katanya: Saya diberitahu Umar ibnul Khattab, kata-nya: Ketika usai perang Khaibar, ada serombongan sahabat menghadap Ra-sulullah saw, mengatakan: Si Fulan syahid, si Fulan syahid, sehingga mereka ti-ba di tempat seseorang (dan mengatakan): Si Fulan ini syahid. Rasulullah lalu menjawab: Tidak, sekali-kali tidak, sungguh benar-benar saya melihat dia di ne-raka karena selembar burdah yang disembunyikan-nya……(HR Muslim)

4. Menghianati amanah dan sumpah jabatan, sesuai dengan firman Allah swt:
Dan tidaklah layak seorang Nabi menyembunyikan (barang ghanimah) dan siapa yang menyembunyikannya akan membawa barang yang disembunyikan itu kelak di akhirat lalu setiap orang akan disempurnakan (balasan) apa yang dilakukannya sedangkan mereka tidak dizalimi (Q.S Ali Imran: 161).

5. Menyalahgunakan jabatan dan fasilitas negara, sesuai dengan arti ”ghalla” di atas, yaitu menghianati jabatan dan fasilitas yang harus digunakan hanya untuk kepentingan negara, maka ia juga terkategori sebagai perbuatan korupsi

6. Kolusi dan Nepotisme
Seorang perempuan sesudah fathu Makah telah mencuri. Rasulullah lalu memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin Zaid menemui Ra-sulullah, meminta keringanan hukuman bagi perempuan tersebut. Wajah Rasulullah langsung berubah. “Apakah kamu akan meminta pertolongan (men-syafa’ati) untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza Wajalla?. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya” (HR Buchari)

7. Lambat melaporkan keuangan/aset Negara kepada pejabat yang berwenang, juga terkategori korupsi sesuai dengan hadis di bawah:
Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan, katanya: Adalah Rasulullah SAW apabila mendapatkan ghanimah, beliau menyuruh Bilal mengumumkan ke-pada khalayak. Mereka lalu datang dengan membawa pelbagai ghanimahnya, kemudian diambilnya seperlima terlebih dahulu (untuk fakir miskin dan anak yatim piatu), lalu beliau membaginya (kepada para peserta perang yang berhak).

Ternyata ada seseorang yang datang terlambat dengan membawa seutas tali/kendali terbuat dari bulu, seraya berkata: Ya Rasulullah, inilah yang kami peroleh dari ghanimah. Rasulullah SAW kemudian berta-nya,”Apakah anda belum mendengar pengumuman Bilal.?” Diulang sampai tiga kali. Dia pun menjawab: ”Ya, sudah.” Selanjutnya beliau bertanya lagi, ”Apa yang menyebabkan kamu terlambat.?” Orang tersebut beralasan. Maka Rasulullah SAW bersabda,”Bawalah sendiri barang itu nanti di hari kiamat, saya tidak mau menerima barang tersebut darimu.”

Hadis tersebut menunjukkan, pejabat, karyawan atau instansi yang bertanggung jawab dalam penerimaan keuangan negara, sengaja lambat me-lapor ke pejabat atau instansi terkait, dikategorikan sebagai tindak pidana.

Kesimpulannya, integritas seseorang tidak tergerus jika dia biasa mengelakkan diri dari tindakan dan perilaku koruptif. Antara lain, tidak menggunakan atau mengonsumsi barang, makanan, dan minuman yang haram, baik berupa suap, pemerasan, penggelapan, penipuan, maupun hadiah.

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close