ABDULLAH HEHAMAHUA

Perawatan Integritas (1)

 

 

Oleh : Dr Abdullah Hehamahua SH MH*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Laksana tanaman, selain bibit unggul, tanah di mana benih akan ditanam ha-ruslah lahan yang subur. Namun, bibit cepat tumbuh atau tidak, memberi hasil yang menggembirakan atau tidak, bergantung perawatannya. Demikian pula halnya integritas.

Bibit unggul adalah pasangan suami isteri ideal yang di Indonesia, khu-susnya masyarakat Jawa, disebut: bibit, bebet, dan bobot. Bibit adalah latar orang tua calon suami/isteri berasal dari keluarga baik-baik atau keluarga penjahat, penipu dan koruptor misalnya.

Bebet, kualitas calon suami yang memiliki kemampuan material untuk menjamin kehidupan isteri. Sedangkan bobot adalah kualitas calon suami, apakah berpendidikan tinggi atau tidak, berpangkat atau tidak.

Agama-agama langit (Yahudi, Nasrani, dan Islam) mempunyai kriteria khusus dalam memilih calon suami/isteri. Di Islam, hadis popular yang biasa dirujuk adalah: “Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantik-annya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan bahagia” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, dalam Islam, bibit unggul yang akan melahirkan keturunan yang berintegritas adalah agama calon suami/isteri. Artinya, selain sesama muslim, aqidah, ibadah, dan akhlaknya juga terpuji. Demikian pula menurut keyakinan penganut agama Yahudi dan Nasrani.

Setelah bibit unggul, lahan harus yang subur agar benih tumbuh dengan subur, daun yang rindang dan buah yang lebat yang mendatangkan hasil optimal bagi petani atau pekebun. Kondisi rumah, suasana kehidupan suami isteri dan anak-anak serta keadaan lingkungan yang kondusif merupakan lahan subur bagi lahirnya anak-anak dan cucu-cucu yang berintegritas.

Jika sudah memiliki bibit unggul dan lahan yang subur, tanggung jawab berikut, baik orang tua, masyarakat maupun peme-rintah untuk merawat anak-anak, warga, atau rakyatnya. Di bab terakhir ini, diko-munikasikan tiga pola besar proses perawatan integritas, yaitu penyiraman, pe-mupukan, dan penyiangan integritas.

A. Penyiraman Integritas

Air adalah sumber kehidupan seluruh makhluk di bumi sebagaimana per-nyataan tegas dari langit: “….Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al Anbiya: 30).

Selain Adam dan Hawa, manusia berasal dari air yang dipancarkan seorang suami ke dalam rahim isterinya. Ketika di dalam rahim ibu, bayi diselimuti placenta yang berisi air. Lahir ke bumi, bayi diberi minuman berupa asi ibunya.

Air, secara filosofi, bawaannya menyejukkan, mengurangi, bahkan dapat me-matikan api, baik api sesungguhnya maupun api berupa nafsu amarah dan nafsu hewan. Secara sunatullah, air berperilaku jujur. Siapa pun yang haus, apakah dia pejabat, rakyat jelata, hartawan, fakir miskin, ulama, penjahat, bahkan koruptor, hausnya hilang ketika meneguk segelas air.

Jadi, semua proses penyiraman in-tegritas ke anak, kawan, bawahan atau rakyat, hendaknya menggunakan filosofi air: jujur dan menyejukkan. Secara operasional, penyiraman integritas tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara dan tindakan, antara lain:

1. Nasihat yang Menyejukkan

a. Nasihat Terhadap Anak

Ketika menasihati anak, ayah dan ibu menggunakan kata-kata yang positif dan menggembirakan, misalnya: ayo sayang, mari anak cerdas, anak saleh /solehah. Perkataan seperti itu menyejukkan hati anak. Terbentuk dalam me-mori otaknya, dia seorang anak yang cerdas dan saleh/salehah.

Memori tersebut secara langsung maupun tidak langsung memicu komponen indera anak untuk rajin belajar, sopan, dan taat beribadah. Apalagi, setiap ucapan ibu ke anaknya adalah doa. Olehnya, jangan menggunakan kata-kata: anak pemalas, jahat, bodoh, bandel dan sejenisnya.

Sebab, ucapan itu memotivasi dirinya untuk menjadi anak yang malas, nakal, berperangai kasar dan tidak mau melaksanakan ibadah ritual. Tidak kalah penting, orang tua sering memeriksa tas sekolah anaknya. Siapa tau, di dalamnya ada buku komik atau CD porno. Tidak mustahil, ada pula ganja atau jenis lain narkoba.

b. Nasihat Terhadap Orang Dewasa

Pantangan bagi orang dewasa, mereka diceramahi atau digurui, apalagi oleh anak muda atau yang berpangkat lebih rendah. Metode nasihat yang terbaik bagi orang dewasa adalah perbuatan atau keteladanan.

Artinya, jika ingin isteri, mertua, ipar atau anak yang sudah dewasa, rajin shalat, begitu kedengaran adzan, ayah atau suami langsung menuju masjid atau mushalla dekat rumah. Kalau ingin isteri, suami, ipar, atau anak yang dewasa rajin dan ulet bekerja, anda harus bangun subuh dan siap untuk melaksanakan kerja rutin.

Jika ingin isteri, suami, ipar, anak yang sudah dewasa atau sahabat, berilmu luas, berketerampilan tinggi, dan sukses dalam karier, anda harus tunjukkan di diri sendiri. Apa yang terjadi kalau ayah, ibu, abang, atau kakak tidak atau kurang berilmu dan professional dalam melaksanakan tugas sehari-hari yang kemudian diikuti anak-anak, tetangga, kawan atau bawahan di kantor.

Dalam kaitan pemberian nasihat terhadap orang dewasa, seorang anak dapat saja menasihati ayah atau ibunya. Seorang cucu dapat menasihati kakek atau neneknya. Bahkan, karyawan rendahan dapat menasihat atasannya di kantor. Metodenya seperti yang dilakukan Hasan dan Husin, cucu Nabi Muhammad SAW.

Ketika menyaksikan seorang kakek yang cara mengambil wudu’nya tidak benar, kedua cucu Nabi Muhammad ini ingin menegur, bahwa apa yang dilakukan kakek itu, salah. Namun, sadar akan posisi mereka yang masih kanak-kanak, bersepakatlah mereka menggunakan kaidah yang luar biasa.

“Kek, kami berdua mau bertanding mengambil wudu’. Kami minta kakek menjadi yuri untuk menentukan, siapa yang lebih baik cara mengambil wudu’”. Sang kakek mengangguk, tanda setuju. Hasan lalu mengambil wudu’ dengan cara tidak tuma’nina’.

Sedangkan Husin mengambil wudu’ secara tuma’nina seperti yang dilakukan kakeknya, Nabi Muhammad. Detik itu juga, sang kakek memeluk kedua anak ini dan dengan suara serak, berkata: “kalian adalah guru yang terbaik yang mengajarkan kakek, cara wudu’ yang benar,”

c. Nasihat Terhadap Karyawan

Ketika menasihati karyawan atau bawahan di kantor, Presiden sampai Kades hendaknya menggunakan kata-kata yang akrab, seperti ok, well, baik, bagus, dan sejenisnya. Ungkapan seperti itu, oleh karyawan atau bawahan diterima sebagai penghargaan, reward.

Reward itu memicu karyawan untuk bekerja lebih kuat sehingga kinerja yang dicapai individu, unit, maupun organisasi optimal. Sebaliknya, kata-kata yang kurang bersahabat, dianggap oleh karyawan sebagai punishment. Padahal, mereka merasa tidak berbuat salah.

Akibatnya, pikiran buruk akan muncul di benak karyawan, baik terhadap pimpinan, pejabat, maupun lembaga. Endingnya, karyawan bersifat masa bodoh, pasif, bahkan cenderung menyabotase kegiatan perusahaan.

Metode yang sederhana, murah, dan meriah adalah keteladan pemimpin. Jika ingin PNS melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen, Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, sampai Lurah, datang lebih awal ke masjid atau mushalla di kantor setiap mendengar adzan.

Ini adalah aplikasi konkrit dari sila pertama Pan-casila. Jangan seperti selama ini, khatib sudah mau naik mimbar, bos baru datang. Itu pun sambil melangkahi pundak jamaah menuju tempat yang disediakan khusus di shaf pertama. Padahal, etikanya, siapa pun dia, duduk di depan jika datang awal. Sebaliknya, duduk di barisan paling belakang, jika terlambat datang.

Kalau mau bawahan masuk kantor tepat waktu, 15 menit sebelumnya, atasan sudah ada di ruang kerja. Andaikan kita mau PNS tidak konsumtip apalagi hedonis, Presiden sampai Camat jangan hidup mewah apalagi ber-kawan dengan konglomerat hitam seperti yang dipamerkan penguasa masa sekarang ini.

Kesimpulannya, bagi yang mau anak, karyawan, bawahan, dan rakyatnya berintegritas, rawatlah tingkah laku mereka dengan nasihat yang menye-ronokkan, beri motivasi, dan picu mereka dengan keteladan orang tua, majikan, atau bos sendiri. Namun, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati.

Dr Abdullah Hehamahua SH MH, Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Periode 2005-2013

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close