ABDULLAH HEHAMAHUA

Perawatan Integritas (2)

 

 

Oleh : Dr Abdullah Hehamauha SH MH*

INTERGITAS, EDUNEWS,ID – Selain nasihat, perawatan integritas juga hendaknya dilakukan melalui proses penugasan, baik ke anak, sahabat, karyawan, bawahan, atau pun rakyat secara keseluruhan. Di pertemuan ini, penugasan yang diberikan hendaknya memerhatikan beberapa hal berikut:

2. Penugasan yang Menyeronokkan

Agar penugasan diterima baik sebagai suatu proses pembelajaran, hendak-nya ia diberikan secara menyeronokkan, bukan bersifat instruktif semata. Olehnya, ada beberapa pola dan metode penugasan tersebut:

a. Penugasan Anak

Salah satu pilar integritas adalah disiplin dan bertanggung jawab. Seperti bambu, pembentukannya dilakukan sejak masih berupa rebung. Begitu pula dengan pembentukan integritas, ia dilakukan sejak seseorang berumur setahun sampai usia SMU. Di edisi-edisi sebelumnya, secara detail dijelaskan bentuk penugasan ke kanak-kanak, mulai dari mengemas barang sendiri, membantu orang tua di rumah, mengerjakan tugas sekolah, sampai dengan tidak bolos sekolah. Apalagi nyontek ketika ulangan umum atau ujian akhir.

Agar penugasan dirasakan seronok, menggembirakan, tidak terasa dipaksakan, harus diciptakan suasana yang seronok tersebut. Misalnya, perintah ibu begini: “sudah selesai sekolah, langsung pulang ke rumah.” Anak dengan spontan akan menjawab: “nggek mbok.” Ternyata, sampai di rumah, tidak ada ayah, ibu, abang atau kakak. Hanya ada PRT atau tidak ada orang sama sekali.

Sebab, ibu dan ayah masih di kantor. Suasana seronok tidak dijumpai. Besoknya, si anak diajak kawan sekelas bermain ke rumahnya. Mengingat di rumah tidak ada ayah, ibu, abang atau kakak yang bisa diajak ngobrol, main atau bercanda, lebih baik ke rumah kawan. Di rumah kawan, ibu kawannya menyambut kedatangan anak dengan pelukan mesra dan langsung mengajak ke ruangan makan. Ibu menyediakan sendiri makanan dan mi-numan kesukaan sang anak.

Bayangkan, jika anak anda diajak ke rumah kawan yang juga ayah dan ibunya sibuk di luar rumah. Apa yang terjadi di sana.? Mungkin mereka me-nonton video porno atau bermain game yang menunjukkan kekerasan atau (lebih celaka lagi) mereka menghisap ganja. Olehnya, ketika memberi tugas ke anak, harus diikuti pengawasan. Dengan demikian, dapat diketahui, apakah tugas tersebut dilaksanakan dengan benar atau tidak.

Jika benar dan ber-kualitas, diberi penghargaan. Sebaliknya, jika pelaksanaannya tidak benar, harus ada perbaikan seterusnya. Dalam kondisi tertentu, hukuman, minimal peringatan perlu diberikan. Agar, ada kepastian, tugas dilaksanakan dengan benar atau tidak oleh anak, orang tua harus senantiasa bersama anak, khususnya dalam waktu tertentu. Jadi, ketika pulang ke rumah, anak ber-temu orang tua, minimal ibu. Pilihan sekarang ada di tangan ibu, mau menjadi perempuan karier atau menjadi ibu dari seorang penjahat, koruptor atau pengguna narkoba.

b. Penugasan Orang Dewasa

Seperti dijelaskan di bab-bab sebelumnya, penugasan suami ke isteri, sesama sahabat atau terhadap jiran, jauh berbeda dengan penugasan anak-anak. Jika dalam penugasan anak, ada unsur paksaan, terhadap orang de-wasa, ia lebih berbentuk dialog atau ngobrol santai. Mungkin diawali dengan eksplorasi terhadap rasa memiliki (sence of belonging), kemudian rasa tanggung jawab (sense of responsibility). Dari dialog singkat itu, diharapkan lahir sikap mau bertasipasi (sense of participation).

Dengan demikian, isteri, suami, ipar, besan, tetangga atau sahabat yang mendapatkan tugas tertentu akan tampil dengan sendirinya, penuh enerjik dan kreatif. Dengan demikian, sikap disiplin dan tanggung jawab yang dimiliki, bukan suatu pencitraan, tetapi lahir dari kesadaran yang pada gilirannya menjadi kebiasaan, habit, karakter. Itulah integritas!

c. Penugasan Karyawan

Biasa, bos, kalau menugaskan bawahan, selalu dengan bahasa perintah, instruksi, bahkan dengan matat melotot dan suara yang menggegar ruangan. Hasilnya, bawahan buru-buru mengangguk sekalipun tidak paham benar, apa hakikat dari tugas yang disampaikan atasan. Hasilnya, dua: Pertama, tugas dilaksanakan tanpa penghayatan. Boleh dikata, tanpa tanggung jawab karena asal melaksanakan perintah. Cara ini, selain hasil yang dicapai, tidak optimal celakanya, laporan yang disampaikan bersifat ABS (Asal Bapak Senang).

Kedua, tugas yang dilaksanakan, tidak sesuai dengan target serta berten-tangan dengan prosedur dan SOP yang ada. Sebab, instruksi yang disam-paikan dengan wajah seram dan suara mengelegar membuat karyawan kurang mengerti, tapi takut bertanya. Ambil contoh, presiden Jokowi biasa mengata-kan, pejabat jangan lagi berorientasi ke prosedur, tetapi harus berorientasi ke hasil. Secara sosiologis, akan terjadi deviasi, baik di kalangan PNS, pejabat apalagi masyarakat umum di desa atas instruksi presiden tersebut.

Mereka akan berfikir, kita boleh terapkan teori machiavelly, yaitu tujuan menghalalkan cara. Itulah yang mungkin terjadi dalam kasus BLBI, Century, RS Sumber Waras, reklamasi Tanjung Priok, kereta api cepat Jakarta Bandung, dan pelbagai pembangunan infra struktur di seluruh Indonesia pada era peme-rintahan sekarang. Padahal dalam ajaran agama samawi, khususnya Islam, niat yang benar harus diikuti dengan cara yang benar.

Berbeda dengan gaya instruktif, pejabat atau pemimpin yang baik adalah yang menugaskan bawahannya dengan pendekatan komunikatif tanpa mata melotot, suara tidak menggelagar apalagi dengan ancaman “gebuk.” Bandingkan kalau atasan mendekati meja karyawan (jadi bukan memanggil menghadap di ruangan bos), sambil senyum, mengucapkan salam, berjabat tangan kemudian bertanya, bagaimana anak keluarga di rumah.

Suasana dan bentuk komunikasi seperti ini oleh bawahan, dia merasakan dirinya, dianggap sebagai orang, sebagai manusia yang punya potensi, individu yang diandalkan, bukan sekedar sebagai pesuruh. Suasana seperti ini melahirkan hubungan batin di antara atasan dan bawahan: saling menghargai, saling membutuhkan, dan saling melengkapi. Hasilnya juga dua: Pertama, timbul rasa memiliki dalam diri karyawan (sense of belonging) bahwa maju atau mundurnya peru-sahaan/kementerian juga merupakan maju atau mundurnya karier dan masa depannya.

Oleh karena itu, tanpa diawasi, dia akan bekerja keras, penuh kejujuran, konsisten, komitmen, objektif, berani ambil putusan dan siap mene-rima risiko, serta disiplin dan bertanggung jawab. Itulah karyawan yang ber-integritas. Kedua, hasil atau kinerja yang dicapai optimal. Sebab, rasa memiliki (sense of belonging) melahirkan sikap bertanggung jawab (sense of responsibility) yang kemudian melahirkan partisipasi yang konkrit (sense of participation).

Kesimpulannya, jika ingin memiliki anak, sahabat, karyawan atau rakyat yang berintegritas, lakukanlah penugasan dengan pendekatan manusiawi yang komunikatif sehingga mereka yang menerima tugas memiliki sikap-sikap: rasa memiliki (sense of belonging), bertanggung jawab (sense of responsibility), dan kemauan berpartisipasi (sense of participation). Namun, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati.

Dr Abdullah Hehamahua SH MH, Penasehat Komisi Pemberantasa Korupsi Periode 2005-2013

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close