ABDULLAH HEHAMAHUA

Perawatan Integritas (3)

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Di masyarakat Indonesia, sering didengar slogan: asih, asah, dan asuh. Sejatinya, filosofi asih, asah, dan asuh berasal dari masyarakat Sunda (Jabar). Ia merupakan akulturasi ajaran Islam di masyarakat pribumi sesuai tingkat pendidikan dan pemahaman mereka waktu itu.

Seperti sewaktu kecil, kakek mengajarkan, kuku yang dipotong, ditanam di tanah, nanti tumbuh wang. Kata nenek, jangan menduduki bantal, nanti pantatnya bisulan. Ibu mengatakan, anak perempuan susah dapat jodoh kalau duduk di depan pintu.

Semua nasihat atau larangan itu merupakan suatu metode pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak. Mengapa potongan kuku harus ditanam di tanah? Ya, agar tidak berserakan yang kemudian menyusahkan ibu yang harus membersihkan lantai atau tempat di mana kuku tersebut dibuang. Mengapa tidak boleh menduduki bantal? Sebab, bantal itu untuk kepala, bukan untuk diduduki. Filosofinya, menempatkan sesuatu secara proporsional. Mengapa tidak boleh duduk di depan pintu. Sebab, itu tempat orang lalu lalang. Jadi, orang yang masuk keluar rumah tidak terganggu. Begitulah metode pembelajaran yang dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya yang belum baligh.

Berdasarkan filosofi di atas, penyebar Islam di Jabar pada awal masuk Islam di daerah ini, menggunakan metode: asih, asah, dan asuh. Seperti Walisongo yang menggunakan wayang sebagai medium dalam mendakwakan ajaran Islam. Jadi, apa sebenarnya filosofi ketiga perkataan asih, asah, dan asuh tersebut.? Dalam proses perawatan integritas, perlu dipahami filosofi dari slogan ini.

1. Silih Asih
Allah swt Maha Kasih terhadap seluruh makhluk-Nya di alam semesta. Orang beriman, orang kafir, atheis, kapitalis, komunis, semuanya diberi udara secara gratis. Orang yang rajin atau tidak pernah sama sekali ke masjid, tetap diberi udara gratis. Orang yang rajin atau tidak pernah ke gereja, kuil, wihara, tetap bebas menghirup udara tanpa batas. Air di sungai, di danau, di dalam tanah, dapat digunakan setiap orang secara gratis. Ikan dan makhluk lain di dalam laut dapat ditangkap dan dikonsumsi penduduk bumi di mana saja tanpa bayaran.

Baca juga :  Ketua KPK Dituding Berniat Rusak Sistem Ketatanegaraan

Salah satu imbalannya, sadar atau tidak, terjadi silih asih di antara sesama manusia. Baik sesama warga kampung, sedaerah, satu negara maupun sesama warga dunia. Dalam ungkapan lain, silih asih merupakan kualitas interaksi di antara nilai-nilai keilahian dan kemanusiaan. Dalam tradisi masyarakat silih asih, manusia saling menghormati. Tidak ada orang yang dianggap superior maupun imperior. Sebab, menganggap superior atau imperior seseorang, hakikatnya bertentangan dengan filosofi keilahian dan kemanusiaan. Mendudukkan manusia di tahap superior atau imperior dapat menjerat seseorang ke dalam praktik syirik. Sebab, ketika ada manusia dianggap superior, berarti mendudukkannya sejajar dengan Allah. Demikian pula halnya ketika kita menempatkan seseorang di ke-dudukan yang rendah, berarti kita menempatkan diri sejajar dengan Allah. Dalam mayarakat silih asih, manusia didudukkan secara sejajar satu sama lain. Prinsip ini melahirkan sikap saling membantu, kerjasama, dan tidak kalah penting, ber-tindak adil. Dari sikap dan perilaku seperti itulah lahir model musyawarah ketika terjadi perbedaan pandangan dan pemahaman terhadap suatu isu tertentu.

2. Silih Asah
Kebiasaan saling membantu dalam slogan silih asih mendorong masyarakat untuk silih asah, yaitu saling meningkatkan potensi diri atau masyarakat. Baik di bidang pengetahuan maupun teknologi. Jika target silih asih adalah kerukunan, kedamaian, dan harmonisasi, maka substansi silih asah adalah lahirnya kompetisi yang sehat. Sebab, ia dirakit dalam semangat musyawarah dan ukhuwah. Per-kataan lain, setiap orang atau kelompok, bersikap independen dalam menjalan-kan profesi masing-masing atas dasar prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap dalam ikatan kepentingan bersama yang lebih luas.

Baca juga :  Penyiangan Integritas (3)

Jika sikap asah ini dilakukan dalam masyarakat, khususnya golongan pribu-mi, maka daya saing Indonesia di tingkat global dapat meningkat secara ber-tahap. Di Malaysia misalnya, PM Mahathir pada awal kepemimpinannya, meminta agar pengusaha nonpribumi, khususnya China, membantu meningkatkan kom-petensi dan keterampilan pengusaha pribumi agar dapat sejajar dengan pengusaha nonpri. Hal ini berhasil. Penyebabnya, dua faktor. Pertama, secara sosio ekonomi, jika jurang ekonomi sangat dalam di antara golongan pribumi dan nonpribumi yang mengakibatkan gejolak sosial, maka yang menjadi sasaran unjuk rasa, bahkan pengrusakan adalah kaum nonpribumi sendiri. Kedua, golongan nonpribumi China sadar, mereka adalah tamu, pendatang sehingga harus tahu diri, mesti bisa menyesuaikan diri dengan kondisi golongan pribumi. Hal ini tidak ditemukan di Indonesia, baik oleh golongan nonpribumi China maupun pemerintah sendiri. Padahal, fakta di lapangan, sejak orde lama, setiap unjuk rasa, golongan nonpri China yang menjadi sasaran pengrusakan.

3. Silih Asuh
Ketika masa kecil di kampung, kanak-kanak akan disuruh berhenti bermain bola kalau sudah menjelang waktu maghrib. Di Malaysia, polisi akan mengantar anak sekolah (yang masih mengenakan seragam sekolah) yang kelihatan merokok ke rumah orang tuanya. Orang tua diminta agar menasihati dan mengontrol agar anaknya tidak merokok. Inilah dua ilustrasi sederhana bagai-mana sikap, perilaku, dan tindakan saling asuh di kalangan anggota masyarakat. Masyarakat memahami, perilaku buruk seseorang secara pribadi, jika dibiarkan berlanjut terus akan berdampak negatif terhadap komunitas sekitar.

Baca juga :  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Integritas (4)

Sebaliknya, perilaku buruk di suatu kelompok tertentu akan berdampak negative terhadap individu lain. Oleh karena itu, dengan sikap asuh, individu atau kelompok saling menegur, menasihati, dan mengontrol perilaku dan tindakan pihak lain yang menyimpang dari rambu-rambu adat istiadat, peraturan perundang-undangan, dan agama. Dengan demikian, masyarakat yang harmonis, saling berkompetisi secara sehat berdasarkan ilmu dan teknologi hasil perilaku saling asih dan asah di atas akan menjadi suatu masyarakat madani melalui sikap saling asuh.

Di masyarakat Eropa, Amerika, dan Negara maju lainnya, sikap asih, asah, dan asuh, sepertinya jarang ditemukan. Tetapi, mereka mengalami pelbagai ke-majuan di sektor apa pun. Jangan heran.! Sebab, sikap asih, asah, dan asuh sudah menyatu dalam sistem keluarga, kemasyarakatan, dan kenegaraan. Di Singapore, Seoul, Tokyo, London, Paris, Washington, dan kota-kota modern lain di dunia, jarang ditemukan polisi lalulintas di jalan raya. Tetapi, kemacetan atau tabrakan kenderaan bermotor, jarang terjadi. Sebab, setiap pengguna jalan taat asas terhadap semua rambu lalulintas yang ada. Jika terjadi pelanggaran, pengguna jalan sendiri yang rugi. Apakah dia akan menerima surat tilang di rumahnya atau kena finalti ketika memperpanjang SIM, BPKB atau paspor.

Bagi mereka yang mau anak, sahabat, karyawan atas atasannya berin-tegritas, mulailah menerapkan falsafah saling asih, asah, dan asuh dalam kehi-dupan sehari-hari. Namun, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati!

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com