ABDULLAH HEHAMAHUA

Perawatan Integritas (5)

 

 

Oleh : Abdullah Hehamahua*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Pada edisi yang lalu, dikomunikasikan 4 tips pemupukan integritas. Sekarang, dikomunikasikan lima tips terakhir pemupukan integritas yang efektif dan efisien.

1. Wudhu dan Beristighfar, Mengstabilkan Emosi

Ketika marah, seseorang lebih banyak menggunakan perasaan daripada akal. Oleh karena itu, sebaiknya, jangan menasihati orang yang sedang marah. Biarkan dia melampiaskan amarahnya sehingga tersalur apa yang terpendam di hati. Sepanjang tidak mencelakai diri sendiri atau orang lain, mereka yang dimarahi, diam saja. Biarkan dia sendirian. Jika sudah stabil, dekati. Dalam kondisi tertentu, rangkullah dia. Beri segelas air putih untuk mengstabilkan gejolak di hati.

Bagaimana kalau hal itu terjadi atas diri sendiri? Pertama, duduk atau baring di kursi atau di tempat tidur. Bagi muslim/muslimah, beristighfarlah. Jika emosi belum stabil juga, berwudu’lah. Sebab, air efektif untuk memadamkan kobaran api. Air wudu’ mampu menyejukkan hati dan mencerahkan akal. Syaraf-syaraf senyum di wajah pun mekar. Hilang cemberut di wajah, mata bersinar ceriah, adrenalin mengalir normal. Anda bersemangat untuk beraktivitas seperti sediakala.

2. Berdoa dan Olahraga, Menghilangkan Gelisah

Mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Olahraga merupakan salah satu instrumen trandisonal untuk membangun tubuh yang sehat. Dalam tubuh yang sehat itu, jiwa juga akan sehat dan mampu meng-hilangkan segala kegelisahan, baik kegalauan hati maupun ketidak-fokusan pikir.

Kalau pun ia mencapai peringkat serius, ada slogan ora et labora, yang meng-ingatkan seseorang untuk senantiasa berdoa dan bekerja. Olehnya, awali, selama, dan akhiri setiap aktivitas dengan doa. Bagi muslim/muslimah, ingat pesan Nabi Muhammad, doa adalah ruh semua bentuk ibadah.

Baca juga :  Perawatan Integritas (2)

3. Jiwa Tertekan, baca laa hawla wa laa quwwata illa billah

Galau, resah, bahkan kecewa, masih dalam ruang lingkup manusiawi. Namun, ketika penomena itu membuat anda mendekati sakit jiwa, segeralah baca: laa haula wa laa quwwata illa billah. Sebab, membacanya sambil menghayatinya, anda sadar bahwa, tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah. Ketika memahami dan menghayati ucapan ini, seseorang tidak tergoda untuk menyalahgunakan jabatan, wewenang, dan kesempatan, termasuk ber-KKN.

4. Mengonsumsi yang Halal, Memeroleh Berkah

Rumah pejabat atau konglomerat biasanya dikelilingi pagar tinggi. Di atas pagar, dipasang pagar kawat atau pecahan beling. Untuk memasuki rumah mere-ka, tamu harus melapor satpam atau disambut anjing herder. Kalau tidak ada satpam atau anjing, tamu harus memencet bel. Si mbok akan membuka pintu, me-nanyakan identitas tamu, lalu menginformasikan ke bos. Jika bos setuju, tamu dipersilahkan masuk. Sebaliknya, kalau tidak setuju, mbok akan mengarang pelbagai alasan: “bapak sedang tidur,” atau “bapak sedang sakit.” Bagi mbok yang jujur, keceplos dengan ucapan: “kata bapak, bapak tidak ada.” Ucapan seperti ini disebabkan tuan rumah sudah melihat wajah tamu melalui CCTV di dalam rumah.

Pejabat dan orang kaya tinggal di rumah mewah, dikawal satpam, anjing her-der, dan CCTV. Tidur di kamar berhawa dingin dengan kasur empuk, tetapi tidak nyenyak, khawatir saham jatuh atau ditangkap KPK. Biasanya merasa tidak puas jabatan atau menganggap kurang dengan kekayaannya. Sebab, pangkat, jabatan, dan kekayaan yang ada, diperoleh secara tidak halal sehingga tanpa berkah.

Baca juga :  Integritas Terapan (34)

5. Muliakan Orang Tua dan Bersedekah, Mudah Rezeki

Seorang pengusaha di Jakarta yang penghasilan per bulan satu miliar rupiah mengatakan, rahasia kesuksesannya adalah menghormati dan memuliakan orang tua, khususnya sang ibu. Sebab, ibu yang mengandung, melahirkan, dan mem-besarkan kita. Menurut Islam, surga di bawah telapak kaki ibu. Artinya, kesuksesan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat, bergantung pada keridhaan ibunya.

Oleh karena itu, bagi orang yang berintegritas, pangkat, jabatan, dan kekayaan yang dimiliki hanya dengan cara halal. Kehalalan diperoleh kalau ada ridha orang tua, khusus sang ibu. Dengan ridha ibu, seseorang akan memeroleh rejeki yang luas lagi halal. Menurut data yang ada, lima ratus orang pengusaha tersukses di dunia adalah mereka yang berbakti terhadap orang tua.

Rezeki yang diperoleh secara halal, selain hati nyaman, keluarga rukun dan damai, ia memeroleh berkah dari “langit.” Indikator harta yang diberkahi: pemiliknya bahagia, nominal harta bertambah, serta bermanfaat bagi orang lain. Pemilik bahagia adalah semua anggota keluarga merupakan individu-individu yang berintegritas yang dalam bahasa langit disebut sebagai hamba-hamba yang saleh dan salehah. Tidak ada pertengkaran di internal keluarga, baik berupa KDRT, ter-libat narkoba, broken home maupun perceraian. Pemilik harta tidak gelisah dan khawatir atas jatuhnya saham di bursa saham, apalagi takut dikejar-kejar KPK.

Last but not least, harta yang berkah adalah harta yang turut dinikmati anak yatim, fakir, miskin dan tetangga yang memerlukan. Artinya, pemilik harta senan-tiasa ringan tangan untuk berinfak dan bersedekah. Sebab, disadari, dalam kekayaannya ada hak orang lain yang karena perantaraan mereka Allah meningkatkan rejekinya.

Baca juga :  Tahapan Pembentukan Integritas

Orang yang berintegritas, tidak merasa rugi menginfakkan sebagian hartanya ketika apa yang dilakukan hanya mengharap ridha Allah swt, bukan kehormatan atau pujian dari masyarakat. Sama halnya jika anda membagi harta anda dengan angka nol (tidak mengharapkan apa pun kecuali ridha Allah), hasilnya, tidak terhingga. Jadi, bukan sekedar nama tersohor, naik pangkat dan jabatan, nominal kekayaan bertambah, tetapi di akhirat, anda mendapat pahala tak terhingga, surga.

Abdurrahman bin Auf, disebabkan banyak kekayaannya, sampai Nabi Muhammad bersabda: Abdurrahman akan masuk surga pelan-pelan karena kekayaannya. Mendengar hal itu, Abdurrahman ingin menjadi orang miskin saja. Ketika kurma, panen di Madinah rusak, Abdurrahman membeli semua korma busuk itu dan disimpan di gudang. Jadilah Abdurrahman bin Auf seorang yang miskin.

Beberapa hari kemudian, pejabat dari Yaman mengabarkan, penduduknya diserang penyakit menular yang hanya bisa disembuhkan dengan kurma busuk. Singkat cerita, kekayaan Abdurrrahman bin Auf bertambah dua kali lipat dari sebelum dia menghabiskan kekayaannya untuk membeli kurma busuk. Itulah rahasia, infak yang hanya mengharap ridha Allah SWT.

Kesimpulannya, jika anda, anggota keluarga atau karyawan dan rakyatnya memiliki integritas, mulailah dengan: Wudhu dan Beristighfar, Mengstabilkan Emosi; Berdoa dan Olahraga, Menghilangkan Gelisah; Jiwa Tertekan, baca laa hawla wa laa quwwata illa billah; Mengkonsumsi yang Halal, Memeroleh Berkah; Muliakan Orang tua dan Bersedekah, Mudah Rejeki. Namun, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati.

Abdullah Hehamahuha, Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2005-2013

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com