ABDULLAH HEHAMAHUA

Presiden, Pemimpin Berintegritas

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Seri ke-35 ini merupakan penutup dari tema besar kita, Integritas. Seri ini lebih merupakan saran yang ditujukan ke setiap anggota keluarga, warga masyarakat, PNS, karyawan swasta, pejabat, Penyelenggara Negara, serta Presiden dan Wakil Presiden agar berintegritas dengan cara:

1. Secara individual, setiap warganegara bertekad menjadikan dirinya sebagai pribadi berintegritas. Pribadi mana, selalu berperilaku jujur dan komitmen terhadap visi dan misi kehidupan, baik sebagai hamba Allah, warganegara Indonesia, maupun sebagai warga dunia. Individu ini konsisten terhadap kedua nilai tersebut sehingga dia senantiasa objektif terhadap setiap permasalahan yang pada gilirannya, berani mengambil putusan, dan siap menerima risiko. Akhirnya, individu seperti ini senantiasa disiplin dan bertanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan hidup.

2. Untuk menjadi individu yang berintegritas, pastikan, pasangan hidup, isteri maupun suami mestilah seorang yang juga berintegritas. Pastikan pula, makanan dan minuman yang dikonsumsi, halal dan tayyibah, kenderaan, rumah, dan fasilitas yang digunakan sehari-hari, berasal dari sumber yang halal. Strategis, kalau setiap keluarga merupakan keluarga sakinah.

Keluarga sakinah adalah suatu kehidupan yang penuh kasih sayang, saling memahami dan membina dalam suasana asah, asih, serta asuh berdasarkan nilai-nilai religiusitas, sesuai sila pertama Pancasila dan pasal 29 ayat 1, UUD 1945. Untuk itu, keluarga yang berintegritas adalah keluarga yang menjadikan rumahnya sebagai: tempat ibadah, sekolah, panti asuhan, taman permainan, dan pohon yang rindang.

Sebagai tempat ibadah, setiap rumah memancarkan suasana religiusitas di mana anak-anak muslim/muslimah mendengar bacaan al-Qur’an, baik melalui radio, tv, kaset, maupun bacaan langsung oleh salah seorang penghuni rumah. Demikian pula anak-anak Nasrani, Hindu, atau Budha, mendengar bacaan injil, weda atau kitab suci lainnya.

Sebagai sekolah, setiap rumah sakinah memberikan suasana belajar mengajar. Ayah dan ibu memotivasi anak dengan cara rajin membaca atau menulis. Sebagai sekolah, ayah dan ibu berperan sebagai guru pertama dan utama yang mengajarkan baca, tulis, dan menghitung ke anak-anaknya. Jangan lupa untuk menemani anak, sekalipun hanya beberapa menit ketika mereka menyelesaikan PR, menghadapi ulangan umum atau ujian akhir. Hal ini dimaksudkan sebagai motivasi agar anak rajin dan bertekad untuk menjadi pelajar yang cerdas, terampil, dan berintegritas.

Sebagai panti asuhan, di rumah, anak dimotivasi oleh ayah dan ibu agar peduli terhadap sesama manusia, hewan maupun lingkungan hidup. Jika ada pengemis atau panti asuhan meminta sumbangan, anak jangan disuruh untuk menutup pintu. Apalagi, anak disuruh untuk mengusir mereka. Justru, ayah atau ibu menyerahkan sejumlah uang ke anak untuk menyerahkannya ke mereka yang meminta bantuan. Jika ada hewan yang kehujanan, kesakitan atau kela-paran, anak diminta agar menolong hewan tersebut. Anak juga dilatih untuk tidak mematahkan ranting tanaman apalagi menebang pohon secara membabi buta. Anak-anak justru didorong untuk menanam tanaman bunga atau pohon buah di pekarangan rumah.

Sebagai taman permainan, ayah, ibu atau keduanya menyisihkan waktu khusus untuk bersenda gurau dengan sesama anggota keluarga. Hubungan itu dapat dilakukan dalam bentuk masak bersama, makan bersama, membersihkan pekarangan atau rumah secara bersama, dan berbelanja ke pasar tradisional secara bersama. Bahkan, dalam waktu tertentu, ayah, ibu, dan anak bermain halma, karombol atau jongkak bersama-sama.

Sebagai pohon rindang, di rumah, setiap penghuni merasa nyaman, tinggal, tidur, makan, bahkan membuat kerja-kerja rumah tanpa tekanan apa pun. Suami betah di rumah kerana dilayani penuh kasih sayang oleh isteri dan anak-anak. Isteri ikhlas melayani suami dan anak-anak karena dihormati sebagai ratu rumah tangga. Anak betah di rumah, tidak suka ke warnet, bioskop atau diskotik karena dilayani, dicandai dan dikasihi penuh cinta dan keakraban.

Sebagai pohon rindang, di keluarga sakinah, tetangga merasa nyaman, tidak tersakiti dengan ucapan dan bahasa tubuh kita. Bahkan, kawan-kawan anak kita merasa nyaman untuk bermain atau belajar bersama di rumah sakinah ini. Tak ubahnya konsultan, kawan-kawan anak atau tetangga yang mengunjungi rumah sakinah dengan pelbagai persoalan, tersenyum penuh harapan ketika meninggalkan rumah kita. Sebab, persoalan yang dihadapi, mendapat penyele-saiannya.

3. Sebagai Kementerian/Lembaga Negara berintegritas, pimpinan (menteri, sekjen, dirjen, direktur, karo atau pejabat struktural lainnya) adalah komandan, manajer, dan pelayan. Sebagai komandan, pimpinan berada di barisan terdepan dalam memberi teladan ke bawahan dalam pelaksanaan tugas-tugas kantor melalui pencerahan visi, misi, sasaran, strategi, tujuan, dan program yang jelas. Dalam kedudukan sebagai manajer, pimpinan mengajak semua bawahan sebagai mitra kerja dalam memeroleh saran, ide, dan masukan.

Dengan demikian, setiap karyawan ada sense of belonging (rasa memiliki). Tahap berikutnya, lahir sense of responsibility (rasa tanggung jawab). Akhirnya, muncul sense of participation (aktif dalam kegiatan operasional). Hasilnya, kinerja Kementerian/Lembaga Negara meningkat secara signifikan. Sebab, kinerja Lembaga/Kementerian meru-pakan hasil dari kinerja unit dan kinerja unit lahir dari kinerja individu.

4. Perlu ada aturan baku mengenai rekrutmen PNS, pejabat, dan PN yang memprioritaskan integritas sebagai syarat kelulusan. Khusus pimpinan Lembaga Negara, perlu dilakukan scanning otak pada tahap akhir proses seleksi. Sebab, seluruh tools di dunia yang digunakan ketika psycho test, hanya mampu mengdi-teksi 70 persen kepribadian seseorang.

Jika infra struktur, budaya kerja, dan SOP di suatu Kementerian/Lembaga Negara mengalami pelemahan, maka 30 persen karakter pegawai yang tidak terdeteksi oleh tes psikologi akan muncul. Itulah yang terjadi, seseorang yang tadinya berkelakuan baik, tiba-tiba melakukan penyimpangan, bahkan terlibat dalam tindak pidana, termasuk korupsi.

5. Agar semua rakyat berintegritas, Presiden dan Wakil Presiden harus berinteg-ritas. Sebab, dialah teladan bagi seluruh rakyat. Olehnya, dalam Pemilukada, Pemilu, dan Pilpres, rakyat memilih calon, bukan karena partainya, popularitas-nya, dan pencitraan. Pilihlah anggota legislatif, Kepala Daerah dan Presiden yang satunya kata dengan perbuatan, yakni individu yang amanah.

Amanah adalah ketika berbicara, tidak dusta, berjanji, ditepati, dan jika diberi amanah, tidak khianat. Itulah pemimpin yang berintegritas yang dengan sendirinya diikuti oleh rakyat yang berintegritas. Hanya dengan cara itu, tujuan kemerdekaan dapat tercapai: Masyarakat yang cerdas, sejahtera, aman, damai dan berperan positif di dunia internasional dalam ampunan Allah swt. Namun, jangan lupa untuk senyum, di hati!

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close