Ipoel Simatupang

Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan VS Pidato Victor Laiskodat yang Mencabik Persatuan

Oleh: Ipoel Simatoepang*

SIMILARITY, EDUNEWS.ID – Hari-hari ini rakyat Indonesia disuguhi kejadian yang cukup menghebohkan terkait pidato Victor B Laiskodat di Kupang NTT yang bisa disaksikan via video pendek yang beredar luas melalui berbagai macam media.

Menjadi pertanyaan besar dari warga negara Indonesia yang biasa menikmati Pendidikan. Selama ini seluruh siswa dan mahasiswa pasti pernah mendapat pelajaran yang dulu bernama PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan sekarang berganti menjadi PPKN ( Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Apakah pelajaran ini tidak bisa memberi nilai-nilai yang kuat bagi setiap insan di Indonesia ini.

Mengusik rasa persatuan dan menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang saat ini sedang menghadapi masalah serius dengan berbagai kejadian yang ada di Indonesia. Sehingga menjaga persatuan antar komponen warga negara adalah satu keharusan demi terciptanya secara kuat persatuan Indonesia.

Bila dicermati tujuan Pendidikan Nasional Pasal 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. PPKn merupakan mata pelajaran yang sangat relevan untuk mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut.

Sedangkan Sesuai dengan PP Nomor 32 Tahun 2013 penjelasan pasal 77 J ayat (1) huruf ditegaskan bahwan Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk Peserta Didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam konteks nilai dan moral Pancasila, kesadaran berkonstitusi Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, nilai dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara umum tujuan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan PPKN dalam Kurikulum 2013 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah mengembangkan potensi peserta didik dalam seluruh dimensi kewarganegaraan, yakni: (1) sikap kewarganegaraan termasuk keteguhan, komitmen dan tanggung jawab kewarganegaraan (civic confidence, civic committment, and civic responsibility); (2) pengetahuan kewarganegaraan; (3) keterampilan kewarganegaraan termasuk kecakapan dan partisipasi kewarganegaraan (civic competence and civic responsibility.

Kalau dilihat fenomena sekarang ini yang terjadi dalam bingkai sistem hukum dan pemerintahan yang terjadi sekarang ini. Semua kejadian bisa dilihat oleh semua warga negara secara gamblang dan tidak bisa ditutup-tutupi lagi.

Fenomena pengabaian dari inti pembelajaran PPKN yang diajarkan di sekolah dan kejadian keseharian yang jauh dari nilai-nilai Pancasila bisa menjadi bumerang bagi perjalanan Indonesia di masa yang akan datang.

Kalau menyimak dari tujuan khusus dari Pendidikan Lancasila dan Kewarganegaraan yang sangat lengkap seperti di bawah ini:
1) menampilkan karakter yang mencerminkan penghayatan, pemahaman, dan pengamalan nilai dan moral Pancasila secara personal dan sosial;
2) memiliki komitmen konstitusional yang ditopang oleh sikap positif dan pemahaman utuh tentang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3) berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif serta memiliki semangat kebangsaan serta cinta tanah air yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
4) berpartisipasi secara aktif, cerdas, dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat, tunas bangsa, dan warga negara sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang hidup bersama dalam berbagai tatanan sosial Budayaal.an datang.

Tujuan yang sangat ideal ini akan menjadi catatan hampa bagi peserta didik apabila penyelengara dan pelaksana negara tidak bisa memberi contoh baik dalam menjalankan sistem bernegara yang benar sesuai yang dipelajari oleh murid-murid di sekolah.

Mencermati pidato dari Victor Laiskodat yang jauh dari tujuan dari pelajaran PPKN maka bisa dipastikan ini bisa menjadi contoh yang tidak baik dari seorang anggota DPR RI dari Fraksi Nasdem.

Keberhasilan pembelajaran PPKN tidaklah sulit untuk dicapai baik dari sisi spiritual, kognitif, afektif, dan psikomotorik oleh seluruh siswa. Mereka para siswa hanya butuh konsistensi antara teori yang dipelajari dan kenyataan berbanhsa dan bermegara bisa memberikan contoh nilai-nilai positif yang menjadi model kebaikan.

Bila pidato seperti Victor Laiskodat yang mencabik persatuan di Indonesia ini dan itu menjadi cermin dari para generasi penerus di masa yang akan datang, maka itu bisa membahayakan kelangsungan persatuan Indonesia.

Dirgahayu Indonesia ke 72 semoga kemerdekaan yang diraih melalui darah para syuhada terus terjaga persatuannya dan semakin memperkuat nilai-nilai yang diajarkan setiap hari kepada semua siswa dan mahasiswa di sekolah maupun di kampus.

Ipoel Simatoepang. Penikmat Pendidikan.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close