Hikmah

Hormati Gurumu, Saudaraku

Oleh: H. Habib Fathan Rijal Ibrahim, BA.*

KHASANAH, EDUNEWS.ID – Seandainya engkau adalah seorang anak dari desa terbelakang, yang hidup jauh dari tuntunan agama. Engkau lalu pergi ke kota. Kau sekolah, lalu kuliah. Hingga engkau berhasil meraih sarjana di bidang agama.

Engkau menjadi berwawasan luas, berpemikiran cerdas. Engkau ahli dalam fiqih, nahwu, mantiq, kalam, hadits, tafsir, dan lain sebagainya. Bahkan, engkau dekat dengan kiai kelas berat, profesor kelas pakar, dan para ulama kelas dunia.

Semua mengakui keilmuanmu, semua mengakui keahlianmu.Ketenaranmu sudah semerbak di kota. Lalu, engkau teringat akan desamu yang tertinggal, buta huruf, bahkan baca Al-Quran pun tidak bisa. Mereka sangat membutuhkan seorang guru, kiai, atau ustaz. Adapun engkau, adalah putra daerah mereka.

Suatu saat, engkau dimintai tolong dua orang dari oknum berbeda. Satu dari desamu, yang menginginkan engkau pulang dan mengajarkan ilmumu. Satu dari kota yang juga memintamu menjadi guru besar di universitas besar

Ketika engkau memilih desa, maka engkau harus menyimpan dalam-dalam terlebih dahulu ilmu nahwumu, ilmu ushul fiqihmu, ilmu tafsir dan haditsmu. Hal itu karena orang desamu pasti tidak serta merta paham dengan ilmu-ilmu itu. Engkau harus “hanya” mengajar huruf hijaiyyah dasar. A, ba, ta.Mengajarkan sholat. Tidak ada jaminan engkau dihormati karena ilmumu. Tidak ada jaminan engkau digaji dalam pengajaranmu.

Sedang jika engkau di kota, menjadi guru besar, engkau hanya cukup diam, mengoreksi sedikit saja kesalahan mahasiswamu. Hidup berkecukupan, dihormati banyak orang. Fatwamu didengar, nasehatmu tak pernah dibantah. Itu keadaanmu ketika di kota.Mana yang engkau pilih, kawan? Menjadi ustaz TPQ, atau seorang dosen bahkan guru besar?

Kawan. Sungguh jika engkau sadari pahala guru-guru dasar, yang mengajarkan A, Ba, Ta. Yang mana jika muridnya menjadi profesor, atau doktor yang dapat membaca Al Quran dan mengamalkannya sedang ia mengenal huruf A, Ba, dan Ta lewat guru masa kecilnya. Engkau taHu bahwa setiap sang murid membaca huruf hamzah, pahalanya mengalir ke guru masa kecilnya.

Maka sungguh, engkau tidak akan membedakan antara profesor dengan guru TPQ Antara ulama terkenal dengan kiai yang ikhlas mengajarkan ilmunya di musala-musala. Dan kau tidak akan menolak sedikitpun ketika hanya mengajarkan huruf hijaiyyah, di mana engkau menguasai tahap ilmu yang lebih tinggi.

Hormatilah semua gurumu. Meski ia hanya mengajarkan satu huruf kepadamu. Meski kelak ilmumu lebih tinggi darinya.

Dan jauhkanlah gengsimu ketika harus menyembunyikan ilmu mu yang rumit. Karena sungguh, hanya Allah yang tahu derajatmu

H. Habib Fathan Rijal Ibrahim BA. Ketua Departeman Pendidikan dan Dakwah PB Pemuda Muslimin Indonesia.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!