Ragam Lainnya

Facebook Bentuk Wajah Dunia Abad 21

Facebook tak hanya media sosial yang paling populer hari ini dengan 1.590 juta pengguna. Ia juga punya kekuatan yang besar untuk membentuk wajah dunia di abad 21, merentangkan pengaruhnya di ranah sosial, ekonomi, hingga politik. Dari mengubah gaya berhubungan antar orang, menyediakan pasar baru, hingga memfasilitasi revolusi di sebuah negara.

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pilpres 2014 menjadi saksi kemeriahan politik yang melanda seantero tanah air. Tak seperti pemilihan presiden di tahun-tahun sebelumnya, orang-orang yang cenderung apatis dan pragmatis tiba-tiba banyak yang menceburkan diri untuk mendukung pasangan favoritnya.

Menjelang hari H, publik masih ingat betapa meriahnya Konser Salam Dua Jari yang diselenggarakan di Gelora Bung Karno pada 5 Juli 2014 dan secara signifikan meningkatkan dukungan kepada pasangan Jokowi-JK. Keduanya akhirnya memenangkan pertarungan. Kepada siapa keduanya mesti berterima kasih? Medsos terpopuler di Indonesia yang membincangkan riuh dan bermaknanya konser itu hingga detik-detik pemilihan: Facebook.

Fenomena Facebook dijadikan sebagai salah satu ujung tombak memenangkan hati pemilih terjadi di banyak tempat. Wajah politik yang sebelumnya konvensional berubah medan pertarungan ke dunia maya. Pasukan pendukung membanjiri Facebook dengan akun-akun bikinan sesaat demi mempopulerkan calon yang diusung. Efeknya negatifnya: fitnah menyebar kemana-mana, cerita hoax mengalir tak henti-henti. Namun, sebagaimana disepakati banyak pengamat, begitulah bentuk demokrasi di dunia maya. Bebas, tangkas, dan ofensif.

Baca juga :  Masyarakat Butuh Internet Kecepatan Tinggi

Demokrasi yang demikian pada tahun 2008 lalu berhasil memenangkan Barack Obama sebagai orang nomor satu AS. Sang manajer kampanye, Jim Messina, dilirik baik oleh Partai Buruh maupun Konservatif Inggris untuk bertarung di pemilihan tahun 2015. Kedua partai terbukti bisa meraup suara banyak, buntut dari manuver yang luar biasa aktif dan ofensif di Facebook.

Selama kampanye, Partai Konservatif dikabarkan telah menghabiskan dana sebesar 120.000 poundsterling per bulan untuk perang di Facebook sebab sadar bahwa langkah itu mampu menggaet para pemilih mengambang dengan efektif. Strategi ini diklaim jauh lebih efektif ketimbang strategi turba (turun ke bawah) Partai Buruh dengan ilustrasi “berbicara langsung kepada 1 juta orang”.

Baca juga :  Menengok Jejak Islam di Pulau Dewata

Tak lupa, Facebook juga berperan besar dalam revolusi politik di negara-negara Timur Tengah atau yang kemarin populer dengan sebutan Arab Spring, dan juga di kawasan Eropa. Twitter memang menjadi saluran yang lebih populer dalam rangka menyebarkan semangat serta informasi terkait revolusi, namun pengorganisiran demonstrasi dan aksi lapangan lebih banyak dikonsolidasikan lewat Facebook.

Advertisement

Olga Onuch dari Manchester University menjelaskan pada The Guardian bahwa setengah massa aksi Euromaiden di Ukraina pada bulan November 2013 silam dikarenakan konsolidasi di Facebook. Satu jam usai Ukraina menolak kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa, kabar itu menyeruak di Facebook. Tak hanya kemarahan yang muncul di dunia maya, tetapi juga ajakan protes bersama di alun-alun Ukraina.

Banyak responden penelitian Onuch yang berkata bahwa selama masa protes berlangsung mereka mengandalkan Facebook sebagai sumber informasi yang lebih terpercaya ketimbang media pada umumnya. Facebook bisa langsung mengabarkan yang sesungguhnya terjadi di lapangan dengan apa adanya baik berupa gambar maupun video. Ketelanjangan tanpa framing ini akhirnya membuat wajah dunia pers di abad 21 ini berubah: Facebook juga difungsikan sebagai portal berita baru.

Menurut Pew Research Centre: 71 persen pengguna usia 18-24 tahun memanfaatkan Facebook sebagai sumber berita utama. Begitu pun bagi 63 persen dari total pengguna dari semua usia. Sekurang-kurangnya, sepertiga pengguna Facebook memposting sesuatu yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan. Mereka bisa sangat kritis ataupun sebaliknya: rajin menjilat penguasa.

Atas kecepatan dan aksesibilitasnya menjangkau banyak orang, Facebook lebih bisa diandalkan sebagai saluran breaking news ketimbang media konvensional. Semua kini orang bisa jadi reporter. Semua orang bisa jadi pembuat opini maupun menjadi kolumnis. Sebagian yang menjadi viral kemudian dengan mudah dijadikan sumber rujukan bagi pekerja media. Ini turut mengubah cara pekerja media hari ini dalam mencari sumber. Lebih efisien memang, tapi kemudian diragukan pula validitasnya.

Kejayaan Facebook masih belum menunjukkan tanda-tanda akhir hingga 12 tahun sejak ia berdiri. Banyak medsos baru bermunculan, namun Facebook masih disukai oleh sebagian besar kalangan atas kelengkapan manfaatnya itu. Pada akhirnya, Facebook bukan sekedar medsos. Ia adalah dunia (baru) itu sendiri—meski sesungguhnya maya belaka.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com