Komunitas

NDP HMI Tidak Terbumikan, Sebuah Otokritik

Oleh: Muh Jusrianto*

OPINI, EDUNEWS.ID – Bicara NDP (Nilai Dasar Perjuangan) HMI apakah itu ideologi atau bukan, yang tidak henti-hentinya menjadi sebuah perdebatan – “classical debate” – di internal HMI sendiri. Baharuddin Hafiz berusaha menghindari penggunaan konsepsi ideology, dan mengambil terminologi lain asumsi (assumption). Rasionalisasi kausal dari pemilihan istilah tersebut, dilatabelakangi dengan pengertian Ideologi itu sendiri. Dari berbagai pengertian ideologi dari berbagai tokoh, ideologi itu menganut system tertentu yang tujuannya pada ekonomi politik dan sifatnya statis. Salah satunya adalah Karl Marx yang meyakini Ideologi adalah seperangkat gagasan yang kemudian dijadikan sebagai alat (system) untuk mengelola dan mengatur masyarakat demi mewujudkan kesejahteraan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana dengan NDP?

Baharuddin Hafiz mamakai istilah “asumsi”, yang muatannya berdikotomi dengan ideologi, – “dinamis”. Artinya, NDP tidak menawarkan satu paham tertentu dalam mengelola atau mengatur masyarakat, tetapi lebih pada membuka berbagai macam jalan bagi HMI baik secara organisasi dan kader HMI sebagai personal dalam memaknai NPD untuk melakukan kerja-kerja kebangsaan dan keumatan yang dilihat dari beragam dimensi (sosial, budaya, ekonomi, politik dan lain-lain).

Inklusifitas NDP terhadap para kader tersebut, dalam proses perumusan yang dilakukan oleh Cak Nur, Sakib Moehmud dan Endang Saifuddin Anshari sudah mempertimbangkan berbagai macam gejala atau implikasi dari eksistensi NDP. Salah satu hal yang menarik adalah ketika Endang Saifuddin Anshari menawarkan konsepsi “ibadah mahdah dan gairul mahdah” masuk dalam NDP. Gagasan tersebut tidak jadi, karena menurut Cak Nur itu akan menjebak dan menghasilkan pertengkaran-pertengkaran yang kompleks, cukup pertengkaran antara Muhammadiyah versus Nahdatul Ulama – “doktirnisasi antara modern versus tradisional”, dalam organisasi tersebut. Dan asumsi yang kemudian berujung pada prediksi, benar adanya apa yang diprediksikan Cak Nur dengan belakangan ini maraknya paham-paham lain yang gencar menyerbu masyarakat Indonesia seperti Wahabi, HTI dan lain-lain. Jelas bahwa ketika NDP diisi dengan satu paham atau aliran tertentu maka lahirlah jebakan-jebakan yang tidak terbendung, perbedaan pandangan berujung pada konflik. Hasil bacaan-bacaan kondisi sejarah, saat itu dan masa depan, Cak Nur dan kawan-kawan meramu, merumuskan dan mendesain NDP yang bersifat universal, bertujuan menjawab peluang dan tantangan dari jaman ke jaman. Tidak lain dan tidak bukan, landasan utama yang digunakan dalam proses perumusannya adalah Al-Qur’an dan Al-Haditz, sehingga NDP memuat tujuh bab yang kesemuanya mewakili konsepsi-konsepsi dasar dalam Al-Qur’an:a) dasar-dasar kepercayaan, pengertian-pengertian manusia, ikhtiar (kemerdekaan individu) dan keharusan universal (ikhtiar), Ketuhanan YME dan Perikemanusiaan, inidividu dan masyarakat, keadilan social dan keadilan ekonomi, dan kemanusiaan dan ilmu pengetahuan serta ditutup dengan bab 8 sebagai kerangka dasar untuk proses mewujudkan keseluruhan poin yakni Iman, Ilmu dan Amal.

Namun, sungguh sangat disayangkan dengan kegagalan kader-kader HMI menafsirkan dan memaknai NDP dan akan pentingnya hal itu. NDP bagi kader baik dalam proses perkaderan (bukan pengkaderan) maupun pasca-kaderisasi dalam tubuh HMI, “hanya sebatas Bahasa langit dan tidak mampu dibumikan”. Kader yang hanya kaya akan wacana belaka (omong to’), tapi miskin, kerdil dan kering akan internalisasi dan eksternalisasi NDP untuk menjawab jaman. Kejadian-kejadian ini semakin berkembang dan menjamur dalam tubuh “hijau-hitam” paska reformasi. Kader-kader HMI dalam merefleksikan nilai dasar perjuangannya telah mengalami stagnasi yang berkepanjangan, terlebih para pengurus PB (Pengurus Besar) hanya disibukkan dengan konflik internal, intrik mengintrik, egosentrisme gerbong, perebutan posisi di struktural dan tidak menjadikan kongres sebagai momentum terbaik untuk menghasilkan hasil-hasil perbaikan internal organisasi dan kiprah HMI dalam menperbaiki kondisi kebangsaan dan keumatan. Lain lagi dengan banyaknya kader HMI yang lebih mengutamakan ambisius politik (personal interest) dalam lingkaran kekuasaan pemerintah, dan mengabaikan kepentingan masyarakat (society interest) – “mati dan menyerah pada kebutuhan dan kepentingaan sesaat. Wajar ketika Agussalim Situmpul melakukan otokritik dalam karyanya 44 indikator kemunduran HMI.

Sebenarnya, Cak Nur disisa hidupnya paska reformasi menyadari betul terkait realitas internal organisasi dan tantangannya di masa depan sehingga menawarkan setidaknya dua hal diantaranya rekonstruksi NDP dan bubarkan saja HMI dilain sisi. Pertama, NDP yang Cak Nur prediksikan berlaku sekitar 25 tahun saja, harus direkonstruksi, namun kenyataan yang kemudian lahir dari proses usaha-usaha merekonstruksinya, bukannya perbaikan tetapi malah melahirkan permasalahan baru. Dimana, lahirnya NDP baru atau dikenal dengan NDP millennium di Makassar bukan sebagai solusi permasalahan internal dan eksteranl organisasi, tetapi malah membentuk perpecahan dalam penggunaan pegangan dasar yang sangat prinsipil, antara cabang menggunakan NDP Milenium versus Cabang mempertahankan NDP Cak Nur, dalam proses kaderisasinya. Bahkan usaha-usaha merekonstruksi NDP, berujung pada perutumpahan darah para kader-kader Ciputat, yang ini tentunya sangat jauh dari identitas kader HMI. Meski HMI sekarang sudah kembali ke NDP Cak Nur, tetapi masukan dan arahan Cak Nur untuk merekonstruksi NDP telah gagal dilaksanakan dan dimaknai kader HMI. Kedua, HMI dalam melaksanakan Kongres bukan lagi mengutamakan nilai dan substansi, tetapi lebih menprioritaskan politik sampai pada politik transaksional (menbudaya sampai kongres terakhir), menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk menjadi ketua umum dan transaksi posisi struktural. Ditambah lagi kader-kader HMI yang sudah terlalu dekat dengan kekuasaan dan sulit mengontrol diri atau ditarik keluar. Inilah penggalan yang kemudian berimplikasi pada kemunduran dan kegagalan HMI beserta para alumniya untuk melakukan perbaikan-perbaikan realitas internal HMI maupun kiprahnya menpertahankan dan menjaga peran pentingnya dalam pembangunan kebangsaan dan keumaatan.

Namun saat ini, hal yang patut untuk diapresiasi meski belum terasa gejala-gejala positifnya mulai dari atas ke bawah internal HMI adalah mengusung tradisi lama HMI yang menjadikan masjid sebagai tempat lokomotif perkaderan – “back to mosque”. Gerakan inilah yang kemudian kembali di usung oleh Ketua Umum PB HMI, Saddalm Al-Jihad, sebuah semangat untuk mendorong dan mengaktifkan kembali kader HMI di masjid-masjid baik di kampus maupun non-kampus. Harus diakui bahwa hadirnya mahasiswa-mahasiswa di kampus, dulunya adalah semangat keislaman dan perkaderan di HMI, tetapi dalam waktu yang relatif lama tradisi tersebut telah direbut oleh organ lain. Harapannya ketika PB HMI langsung yang mengerakkan, semoga implikasinya tidak hanya sebatas wacana, namun mulai dari Badko sampai Komisariat mampu menafsirkan dan mengejewantahkan agenda tersebut sebagai kembali menperkuat basis perkaderan – “strategi gerakan kebudayaan”. Setidaknya dengan “HMI Back To Mosque” bisa sebagai api semangat HMI dan kader-kadernya kembali memaknai dan membumikan NDP. Pastinya dengan menguasai NDP sebagai “piranti lunak dalam memahami Islam” kembali dimulai dan dimasifkan di Masjid demi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyakat yang lebih baik.

Muh Jusrianto. Direktur Informasi dan Komunikasi Bakornas LEPPAMI PB HMI dan Anggota Generasi Baru Massenrempulu.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!