Kuliah Anti Korupsi

Korupsi Menurut Ajaran Islam

( Materi Kuliah Anti Korupsi Seri 2 )

Oleh : Abdullah Hehamahua*

EDUNEWS.ID – Islam memandang korupsi sebagai kejahatan yang serius karena akibat yang ditimbulkan tidak hanya berdampak pada diri pelaku tetapi juga kepada ma-syarakat. Olehnya, Islam sangat menekankan pemeluknya untuk super hati-hati dan menjaga diri serta keluarga dari perbuatan korupsi atau memakan uang hasil korupsi. Berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits, terdapat beberapa bentuk per-buatan yang dapat dikategorikan sebagai korupsi, yakni:

1. Suap menyuap, sesuai dengan ayat Al- Qur’an dan Al-Hadits:

▪ Dan janganlah kamu makan harta (orang-orang yang di antara) kamu dengan (jalan) tidak betul, dan (janganlah) kamu bawa (urusan harta) itu kepada Hakim-Hakim dengan maksud kamu hendak memakan sebahaigan daripada harta orang (lain) dengan (jalan) dosa, padahal kamu tahu (Q.S. Al Baqarah: 188).
▪ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad saw) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui (Q.S. Al Anfaal: 27).
▪ Katakanlah: “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memper-sekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-A’raf: 33).

❖ Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah sawbersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” (HR Imam Ahmad).
❖ Rasulullah saw melaknat pemberi suap, penerima suap dan mediatornya (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
❖ Dari Buraidah bahwa Nabi Muhammad sawbersabda: “Barang siapa yang kami beri tugas akan suatu jabatan dan kami memberinya rezeki (gaji rutin), maka apa-apa yang diambilnya selain itu (gaji) berarti kecurangan.”

Selain ayat Al- Qur’an dan Al- Hadits seperti disebutkan di atas, korupsi juga dapat dilihat dari atsar (ucapan para sahabat Nabi Muhammad).
➢ Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Rawahah untuk mengunjungi kaum Yahudi dengan tujuan mengambil pajak hasil tanaman kurma. Namun, kaum Yahudi membangkang dan malah memberi sedikit uang kepada Abdullah bin Rawahah sebagai suap. Maka dia menjawab: “adapun apa-apa yang kamu tawarkan berupa suap, maka seungguhnya itu adalah makanan haram. Kami tidak akan memakannya.” (H.R. Malik)
➢ Umar ibnu Khattab berkata dalam suratnya yang dikirimkan kepada Gubernur Sa’ad bin Abi Waqqash: “Janganlah mengambil orang musyrik sebagai juru tulis orang-orang Muslim, sebab mereka mengambil suap dalam agamanya, sedangkan kita tidak ada suap sedikit pun dalam agama Allah.”
➢ Umar ibnu Khattab menulis surat kepada para pegawai: “Jauhkanlah segala macam hadiah karena sesungguhnya hadiah itu termasuk suap.”

Baca juga :  Andai Bukan Hillary

2. Hadiah, sesuai dengan Al- Hadits:

• Seorang petugas pemungut zakat melaporkan kepada Rasulullah saw tentang hasil pungutan zakat yang dilakukannya sambil menambahkan bahwa, dia mendapat hadiah dari salah seorang wajib zakat. Berkata Rasulullah: Apakah jika engkau duduk-duduk di rumah orang tuamu, hadiah itu akan datang kepadamu.?
• Hadiah-hadiah (yang diterima) para pejabat adalah (sama dengan) hasil curian (HR Al Baihaqi)
• Dari Hudzaifah, bahwa Rasulullah saw bersabda: ”hadiah yang diterima pejabat itu semuanya haram.”
• Dari Ali bin Abu Thalib, bahwa Nabi sawbersabda: “Pejabat mengambil hadiah berarti memakan harta haram dan Hakim menerima suap berarti kufur.”
• Dari Usamah bin Malik bahwa Rasulullah bersabda : Hadiah itu dapat menghilangkan pendengaran, menutup hati dan penglihatan.
• Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Hadiah untuk pejabat (penguasa) adalah kecurangan.

3. Penggelapan, sesuai dengan Al-Hadits:

▪ Ibnu Abbas meriwayatkan, katanya: sayadiberitahu Umar ibnul Khattab, katanya: Ketika usai perang Khaibar, ada serombongan sahabat yang menghadap Rasulullah saw mengatakan: Si Fulan syahid, si Fulan syahid, sehingga mereka tiba di tempat seseorang (dan mengatakan): Si Fulan ini syahid. Rasulullah lalu menjawab: Tidak, sekali-kali tidak, sungguh benar-benar saya melihat dia di neraka karena selembar burdah yang disembunyilannya…… (HR Muslim da Abu Daud)

Baca juga :  Hijrah dan Kekuasaan; Tafsir Sosiologi Islam terhadap Sejarah Peradaban Nusantara

4. Menghianati amanah dan sumpah jabatan, sesuai dengan firman Allah swt:

• Dan tidaklah layak seorang Nabi menyembunyikan (barang ghanimah) dan siapa yang menyembunyikannya akan membawa barang yang disembunyikan itu kelak di akhirat lalu setiap orang akan disempurnakan (balasan) apa yang dilakukannya sedangkan mereka tidak dizalimi (Q.S Ali Imran: 161)

Perkataan ”menyembunyikan” dalam ayat di atas adalah terje-mahan dari perkataan ”gholla” karena ayat ini diturunkan berkaitan dengan hilangnya selembar kain merah dari barang-barang ghanimah (pampasan perang). Sedangkan perkataan ”gholla” sendiri artinya khianat. Olehnya, menghianati amanah yang diberikan oleh negara, rak-yat atau atasan adalah sama dengan korupsi. Begitu pula dengan melanggar sumpah jabatan dalam konteks ayat ini, termasuk korupsi

5. Menyalahgunakan jabatan dan fasilitas negara, sesuai dengan arti dari perkataan ”gholla” di atas, yaitu menghianati jabatan dan fasilitas yang harus digunakan hanya untuk kepentingan negara, maka ia juga terkategori sebagai perbuatan korupsi

6. Kolusi dan nepotisme, sesuai dengan Hadits di bawah:
Seorang perempuan di zaman Rasulullah sawsesudah fathu Makah telah mencuri. Rasulullah lalu memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin Zaid menemui Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman bagi perempuan tersebut. Mendengar penuturan Usamah, wajah Rasulullah langsung berubah. Beliau lalu bersabda:“Apakah kamu akan meminta pertolongan (mensyafa’ati) untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza Wajalla?. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya” (HR Imam Buchari)
7. Lambat melaporkan keuangan/aset Negara kepada pejabat yang berwenang, juga terkategori korupsi sesuai dengan Alhadis di bawah ini:

Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan, katanya: Adalah Rasulullah saw apabila mendapatkan ghanimah, beliau menyuruh Bilal mengumumkan kepada khalayak. Mereka lalu datang dengan membawa pelbagai ghanimahnya, kemudian diambilnya seperlima terlebih dahulu (untuk fakir miskin dan anak yatim piatu), lalu beliau membaginya (kepada para peserta perang yang berhak). Ternyata ada seseorang yang datang terlambat dengan membawa seutas tali/kendali terbuat dari bulu, seraya berkata: Ya Rasulullah, inilah yang kami peroleh dari ghanimah. Rasulullah saw kemudian ber-tanya,”Apakah anda belum mendengar pengumuman Bilal.?” Diulang sampai tiga kali. Dia pun menjawab: ”Ya, sudah.” Selanjutnya beliau bertanya lagi, ”Apa yang menyebabkan kamu terlambat.?” Orang tersebut beralasan. Maka Rasulullah sawbersabda,”Bawalah sendiri barang itu nanti di hari kiamat, saya tidak mau menerima barang tersebut darimu.”

Baca juga :  Membaca Manuver Politik Paloh

Hadis tersebut menunjukkan bahwa pejabat, karyawan atau instansi yang bertanggung jawab dalam penerimaan keuangan negara yang dengan sengaja lambat melaporkan keuangan tersebut kepada pejabat atau instansi terkait, dikategorikan sebagai perbuatan tindak pidana.

Dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini, perbuatan yang dapat dianalogikan dengan riwayat di atas adalah atasan atau bendaharawan yang menahan-nahan atau lambat membayar gaji para pegawai atau karyawan. Contoh lain yang dapat dianalogikan, bank langganan suatu intansi pemerintah/Lembaga Negara yang sengaja memperlambat transfer gaji pegawai ke bank tempat rekening pegawai terkait berada.

Secara matematik, jika 50 % PNS tidak memiliki rekening di bank instansi pemerintah/Lembaga Negara terkait (memiliki rekening di bank yang lain), maka bank instansi ini akan menyimpan gaji 2 juta pegawai dalam waktu sehari atau dua hari. Jika jumlah total gaji yang ditahan tersebut sebesar 2 juta x Rp. 2 juta = Rp 4000 milyar sedangkan bunga bank sehari, 1% saja, bank tersebut telah memeroleh hasil sebesar Rp 40 milyar.

Artinya, bank pemerintah ini telah mengorupsi Rp 40 milyar setiap bulan dari gaji PNS. Kalau begitu, berapa uang haram yang dinikmati serta dikonsumsi oleh bank tersebut dalam setahun.? Silahkan pembaca menghitungnya sendiri.

 

Abdullah Hehamahua. Penasehat KPK 2005-2013

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com